Kurs EUR/USD turun sampai level terendah 1.1365 dalam perdagangan sesi Eropa hari Jumat (24/7/2026), memasuki area paling bawah sejak pertengahan tahun 2025. Lebih lanjut, beberapa faktor berperan penting dalam menekan prospek EUR/USD dari segi fundamental.

Rapat European Central Bank (ECB) kemarin tidak menghasilkan perubahan kebijakan, sesuai dengan perkiraan konsensus. Namun, mereka mengisyaratkan kemungkinan untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September.
Isyarat tersebut sesuai dengan perkiraan mayoritas pelaku pasar, sehingga nyaris tidak berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar Euro minggu ini. Alih-alih, beberapa berita anyar mendorong aksi jual Euro.
Pertama, harga komoditas energi meroket akibat memanasnya perang AS-Iran. Diantaranya termasuk harga gas alam yang sangat diperlukan oleh masyarakat Eropa untuk kebutuhan industri dan rumah tangga.
Harga gas alam acuan Eropa meroket sampai 63,92 euro per MWh hari ini, mencetak rekor tertinggi dalam empat bulan terakhir. Angka tersebut kemungkinan juga bukan puncak harga gas tertinggi, mengingat risiko meluasnya perang sampai Laut Merah dapat semakin menghambat rantai pasok energi dunia.
Kedua, ketidakpastian perdagangan internasional berisiko menekan pundi-pundi Eropa. Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor baru untuk 60 mitra dagangnya, termasuk Uni Eropa.
Komisi Eropa mengklaim tarif baru tersebut masih selaras dengan tarif dalam perjanjian dagang AS-Uni Eropa yang ditandatangani beberapa bulan silam. Kendati demikian, para pengamat mengingatkan tarif baru ini merupakan upaya awal Trump untuk menghindari larangan pengadilan tentang tarif. Ia dapat menaikkan ataupun menurunkannya lagi di lain hari.
Hasil survei manajer pembelian yang dirilis S&P Global hari ini menunjukkan aktivitas sektor jasa dan manufaktur Uni Eropa pulih pada bulan Juli 2026. Akan tetapi, angka-angka yang ciamik dalam laporan itu gagal menggairahkan minat beli pasar terhadap Euro.
Kenaikan harga gas dan implementasi tarif impor AS sama-sama dapat berdampak negatif terhadap aktivitas ekonomi Zona Euro maupun Uni Eropa dalam bulan-bulan ke depan. Biaya produksi dan distribusi meningkat, sedangkan permintaan luar negeri terancam melambat.
Tagged With : analisa fundamental • EUR/USD • euro • trading forex • zona euro