Apa Maksud Investasi Saham Dengan Value Investing?

Apabila Anda membaca artikel-artikel seputar investasi saham, maka istilah Value Investing bisa jadi akan sering sekali muncul. Hal ini karena banyak investor terkemuka di dunia, termasuk Warren Buffett, menerapkan prinsip-prinsip Value Investing. Namun, apa itu Value Investing?

Value Investing adalah paradigma investasi yang memilih untuk membeli saham-saham yang nampaknya “murah” berdasarkan analisis fundamental tertentu. Yang perlu diperhatikan di sini, murah atau tidaknya suatu saham bukan berdasarkan apakah uang yang dibutuhkan untuk membelinya itu sedikit atau banyak. Murah atau tidaknya saham ditentukan berdasarkan nilai relatif harga saham saat dibandingkan dengan kinerja perusahaan emiten penerbit saham tersebut.

Value Investing

Ada perusahaan yang saat ini berperforma buruk, tetapi punya potensi membaik karena sudah menerapkan strategi yang lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Ada pula perusahaan yang performanya bagus, tetapi belum dikenal luas oleh investor, sehingga nilai sahamnya terhitung “murah”. Saham-saham perusahaan seperti inilah yang diincar oleh Value Investor.

Sebaliknya, ada perusahaan yang kelihatannya bergengsi dan banyak diburu investor, tetapi harganya sudah terlalu tinggi hingga kecil pulalah peluangnya untuk meningkat lagi. Ada pula perusahaan yang sepintas bagus dan nilai sahamnya tinggi, tetapi sesungguhnya fondasi bisnisnya rapuh. Saham-saham perusahaan seperti ini biasanya dihindari oleh Value Investor

Setiap Value Investor bisa memiliki sistem atau rumus tersendiri dalam menentukan apakah suatu saham itu termasuk “murah” atau “mahal”, hingga layak dibeli atau harus dilepas. Namun, ada lima asas yang diikuti secara umum dalam Value Investing, yaitu:

  1. Setiap perusahaan memiliki nilai intrinsik.
  2. Saat membeli saham apapun, selalu siapkan diri untuk menghadapi risiko penurunan.
  3. Harga saham tak pernah merefleksikan kondisi perusahaan yang sesungguhnya; harga bisa lebih rendah (underpriced) atau lebih tinggi (overpriced) dibandingkan kondisi fundamentalnya.
  4. Investor yang sukses tidak mengikuti arus.
  5. Investasi membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Berdasarkan asas-asas tersebut, Value Investor biasanya memilih setiap saham dalam portofolionya dengan meneliti seluk-beluk emiten secara hati-hati, serta tidak menargetkan keuntungan instan. Value Investor bisa menyimpan suatu saham hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun demi memperoleh keuntungan maksimum atas suatu saham di masa depan, dan tidak mudah digoyahkan oleh penurunan harga saham dalam jangka pendek.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar