Pasar Saham Tidak Terdampak oleh Gelombang Protest di AS?

Jika anda mengikuti berita internasional dalam beberapa minggu terakhir, anda tentu tahu tentang protes besar-besaran yang terjadi di Amerika Serikat setelah kematian salah seorang warga kulit hitam bernama George Floyd. Namun, tahukah anda bahwa ternyata protes besar-besaran tersebut tidak berdampak terhadap pasar saham di Amerika Serikat? Mengapa? Lalu, apa yang dapat mempengaruhinya? Fakta ini sepertinya menunjukkan tidak adanya hubungan antara pasar dengan perekonomian. Benarkah?

Dalam beberapa hari terakhir, pasar saham di Amerika Serikat bergerak naik dan menunjukkan optimisme sejak dibukanya kembali aktivitas perekonomian. Meskipun kasus virus corona tetap terjadi, jumlah pengangguran terus bertambah, serta kericuhan yang terjadi akibat protes terhadap perlakuan diskriminatif, pasar saham tampaknya tetap bergarak optimis. Misalnya, S&P 500 tetap naik lebih dari 1% dalam minggu ini. Bahkan, secara total S&P 500 telah naik hampir 3% sejak kerusuhan pertama kali terjadi pada tanggal 26 Mei lalu.

pasar saham di tengah gelombang protes

Pasar Saham: Inkonsistensi Pasar dan Perekonomian

Sejumlah pengamat menyatakan adanya inkonsistensi antara pasar dengan perekonomian. Hal ini terlihat dari fakta harga saham setelah terjadinya kerusuhan akibat kematian George Floyd. Menurut mereka, salah satu faktor penting yang menaikkan harga saham di Tahun 2020 adalah intervensi Federal Reserve (The Fed) untuk menyokong perekonomian. Bank Sentral telah menyuntikkan hampir $3 triliyun dollar ke pasar finansial sejak akhir bulan Februari lalu.

Untuk mengantisipasi memburuknya perekonomian akibat krisis yang disebabkan oleh pandemi virus corona, The Fed memang telah mengambil sejumlah langkah darurat, seperti:

  • Menurunkan suku bunga, menyediakan pinjaman, dan fasilitas kredit yang memberikan keyakinan bagi para investor bahwa Bank Sentral akan bertindak untuk menyelamatkan sistem finansial, jika dibutuhkan.
  • The Fed mulai membeli hutang korporasi jangka pendek dan obligasi pemerintah, serta berjanji akan membeli obligasi yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk membayar hutang-hutangnya selama masa krisis akibat virus corona.
  • The Fed juga meluncurkan program kredit bernama Main Street untuk usaha kecil dan menengah.

Menurut pengamat, tindakan the Fed ini berperan besar dalam menyelamatkan perekonomian Amerika Serikat. Kombinasi antara kebijakan moneter yang proaktif serta program-program stimulus pemerintah telah menjadi kekuatan yang sangat besar untuk menggerakkan pasar.

Selain itu, kerusuhan bukanlah hal baru di Amerika Serikat. Dalam sejarah bangsa itu, sejumlah kerusuhan besar pernah terjadi, seperti kerusuhan akibat pembunuhan terhadap Presiden John F. Kennedy pada Tahun 1963, perang sipil tahun 1965 di Selma, protes terhadap Perang Vietnam tahun 1967, pembunuhan terhadap Dr. Martin Luther King Jr Tahun 1968, dan kerusuhan di Tahun 1992 yang dipicu oleh penganiayaan terhadap Rodney King oleh polisi. Di masa-masa rusuh seperti itu, S&P 500 selalu menunjukkan kinerja positif, dengan kenaikan tahunan berkisar antara 4% hingga 20%.

Fakta Pasar Saham: Apa Yang Harus Diantisipasi?

Protes tidak dipandag sebagai suatu hal yang signifikan dari sudut pandang penghasilan. Oleh sebab itu, protes besar-besaran yang terjadi di Amerika Serikat tidak berpengaruh terhadap pasar saham. Menurut pengamat, satu-satunya cara untuk melihat harga saham di pasaran saat ini adalah bahwa pasar tidak lagi memandang tahun 2020, melainkan tahun 2021 atau beberapa tahu mendatang.

Pasar telah mengalami berbagai jenis krisis dalam beberapa dekade terakhir. Misalnya, harga saham tetap naik di Tahun 1999, setelah Presiden Bill Clinton dimakzulkan. Demikian juga di Tahun 2011, selama terjadinya protes besar-besaran Occupy Wall Street. Jadi, hal terpenting bagi pasar saat ini adalah bagaimana/kapan perekonomian Amerika Serikat akan dimulai kembali setelah penutupan akibat krisis yang ditimbulkan virus corona.

Namun, ada beberapa hal yang harus diantisipasi para investor di pasar saham saat ini. Jika protes tersebut berkepanjangan dan mulai merusak kepercayaan konsumen, maka harga saham bisa saja turun. Jika protes berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan dan menyebabkan kerusakan di beberapa kota, maka bisa saja mengancam kondisi perekonomian. Sebenarnya, inilah yang ditakutkan oleh para investor. Bukan hanya itu, kepercayaan konsumen, yang merupakan penggerak utama kinerja pasar saham, bisa saja terganggu akibat kerusuhan sosial yang berkepanjangan.

Selain itu, sejumlah pengamat juga khawatir dengan peringatan dari Presiden Trump yang akan mengirimkan pasukan militer untuk menangani protes tersebut. Di sisi lain, ada juga kekhawatiran kalau kerumunan orang dalam jumlah besar bisa saja memicu gelombang kedua serangan virus corona. Artinya, ada dua hal yang dikhawatirkan, yakni kerusuhan yang dapat merusak sarana perekonomian serta lockdown tahap kedua akibat serangan virus corona.

Jika dua hal yang dikhawatirkan para pengamat tersebut benar-benar terjadi, maka pasar saham pastinya akan terdampak. Pada dasarnya, pasar tidak memiliki nurani. Para investor hanya sedang memantau keadaan dan melihat peluang mendapatkan uang. Begitulah sifat alamiah pasar saham – tidak menggunakan perasaan maupun hati. Para investor akan tetap bertindak berdasarkan perhitungan laba-rugi yang seakurat mungkin.

Tagged With :

Leave a Comment