Mengelola Karir Masa Depan: Bertahan atau Move On?

Bagi sebagian orang, sulit untuk memahami mengapa orang yang mereka kenal terus-menerus mengeluh tentang pekerjannya, namun mereka tidak berbuat apa-apa untuk mengubah situasi itu dengan caranya sendiri. Apakah anda punya kenalan atau teman yang seperti itu? Anda mungkin heran, mengapa mereka mengeluh tapi tidak berhenti dari pekerjannya. Mereka terus mengeluh tentang bagaimana mereka diperlakukan tidak adil di tempat kerja, tidak dihargai, tidak digaji semestinya, merasa bosan, dan tidak menyukai rekan-rekan kerjanya. Jika anda ingin mengelola karir masa depan dengan cara yang positif dan menyenangkan, semestinya hal-hal negatif tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Mereka mengeluh, namun hari demi hari, mereka tetap bekerja, bertahan, dan menerima gajinya setiap bulan. Faktanya adalah, ini adalah alasan utama mengapa kebanyakan orang bertahan dengan pekerjaannya, yakni gaji dan/atau tunjangan, dan sejenisnya. Mereka memilih menderita demi sesuatu yang sudah pasti dibanding mengambil langkah untuk mengelola sendiri bisnisnya demi masa depan.

mengelola karir masa depan

Jadi, sekalipun perusahaan tempat mereka bekerja memiliki budaya kerja yang buruk, model bisnis yang tidak bagus, dan nilai-nilai yang negatif, mereka tetap bertahan. Mereka begitu takut akan sesuatu yang belum diketahui, takut untuk bekerja di tempat lain atau mendirikan perusahaan sendiri. Akhirnya, mereka tetap bertahan.

Mengelola Karir Masa Depan: Hal Yang Harus Diketahui

Lalu, mengapa orang-orang ini bertahan ketika orang lain memilih berhenti dan mendirikan perusahaan sendiri? Cobalah melihat lebih dalam beberapa alasan orang bertahan dan lihat apakah hal ini bisa atau tidak membantu anda membuat keputusan untuk mengelola karir masa depan. Karena, mengetahui adalah langkah pertama untuk berbuat.

Resikonya Menakutkan

Bagi banyak orang, sesuatu yang pasti lebih utama daripada sesuatu yang tidak pasti. Jika anda memiliki situasi pekerjaan yang buruk, maka beresiko untuk pergi ke tempat lain…. “Bagaimana jika pekerjaan baru justru lebih buruk?” Anda benar-benar percaya bahwa mencoba sesuatu yang baru adalah resiko. Masalahnya adalah: itu hanya pola pikir anda, dan pola pikir negatif seperti ini akan membuat anda membeku. Mengapa anda harus hidup menderita? Selesaikan tugas anda, dan move on! Anda tidak terlahir untuk bekerja di perusahaan yang tidak sehat untuk jiwa dan raga, bukan?

Sulit Belajar Hal Baru

Beberapa orang bertahan di tempat kerjanya, karena mereka sulit belajar hal-hal baru. Sungguh menyedihkan, namun ini kenyataan. Kebanyakan orang tidak mau meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya mereka benci hanya karena perasaan enggan dan takut mempelajari suatu proses yang baru dan keahlian mereka, dan mereka merasa bahwa sesuatu yang baru itu menakutkan dan membuat mereka khawatir. Sungguh cara hidup yang menyedihkan, bukan? Cobalah mempercayainya dari sisi yang berbeda, dan gunakan pola pikir berorientasi pertumbuhan, di mana belajar hal baru adalah kunci menuju kehidupan yang lebih bahagia.

Anda Menyukai “Borgol’ Itu

Salah satu pedang bermata-dua paling tajam dari pekerjaan yang tarif gajinya tinggi adalah “hidup dengan borgol emas.” Gaji anda begitu baik, tunjangannya menarik, tunjangan pensiun menjanjikan, dan segala sesuatunya terlihat baik, sehingga anda mau duduk di ruang kerja dan membenci kehidupan anda sendiri selama 8 jam sehari, hanya karena itu adalah mata pencaharian anda. Oke, jika anda adalah orang terakhir di muka bumi ini, dan tidak ada orang lain yang akan melihat gaya hidup anda, maka apakah anda akan bertahan di tempat kerja yang membosankan itu? Tidak, pasti tidak akan. Jadi, susunlah sebuah rencana dan carilah kebahagiaan yang pantas anda miliki.

Anda Suka Mengeluh

Satu lagi kenyataan yang menyedihkan adalah, bahwa sebagian orang suka menderita. Mereka merasa senang karena mereka bekerja dan dengan bangganya berkata, “I hate Mondays.” Mereka telah belajar untuk mencintai penderitaan itu, dan sekalipun mereka kerap bercerita ingin berhenti, mereka tidak akan pernah melakukannya. Mereka bercerita kepada teman atau keluarga bahwa pekerjaannya tidak menyenangkan. Namun, apakah mereka berhenti? Kenapa? Bagi mereka, lebih mudah mengeluh daripada mengatasi masalahnya.

Anda tidak dikutuk untuk hidup tidak bahagia atau menjadi seorang pengeluh ulung. Bangunlah keahlian anda, dan carilah tempat lain di mana anda akan dihargai. Ngomong-ngomong, tidak ada yang peduli dengan keluhan anda.

Tidak Ingin Membuat Kecewa

Sebagian orang cerdas dan berbakat tetap bertahan di tempat kerja yang tidak disukai hanya karena tidak ingin mengecewakan orang tua, atau keluarga, atau teman, atau orang lainnya. Kenapa? Orang lain melihat bahwa bekerja di Google, Disney, atau Apple adalah hal luar biasa. Tidak, jika pekerjaan itu menguras jiwa raga anda. Hadapilah kenyataan. Jika pekerjaan tersebut tidak sesuai harapan anda, pergilah. Orang-orang yang anda cintai juga ingin anda bahagia; anda tidak perlu membuat mereka terkesan dengan tempat kerja anda, bukan?

Satu lagi alasan orang bertahan di tempat kerjanya adalah karena mereka hidup di luar standar kemampuannya secara finansial. Begitu banyak orang memprioritaskan memiliki ‘segala-sesuatu’ seperti rumah atau kendaraan, sebelum mereka mendapatkan karir atau gaya hidup yang sesuai. Mereka mendapatkan pekerjaan yang tidak disukai, namun sebelum mereka menyadarinya, mereka telah terikat dengan utang mobil, rumah, apartemen, dan gaya hidup.

Bagaimana, jika anda ingin mengelola karir masa depan dengan bahagia, kenalilah sumber ketidakbahagiaan tersebut. Jika anda tidak bisa memperbaikinya di tempat kerja saat ini, berhentilah dan dapatkan pekerjaan lain atau dirikan usaha sendiri.

Tagged With :

Leave a Comment