Menakar Saham Yang Prospektif Di Tengah Badai Tarif Trump

Pasar keuangan global bergejolak tajam akibat kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Banyak pihak khawatir kebijakan Presiden AS Donald Trump akan mengakibatkan perlambatan ekonomi global, sehingga bursa saham indonesia dan dunia sama-sama tumbang.

Pertanyaannya, ke mana investor memindahkan dananya setelah menarik modal dari bursa saham? Berdasarkan dinamika pasar bulan ini, kita dapat memperkirakan bahwa investor mengalihkan modal ke emas dan obligasi pemerintah. Selain itu, beberapa sektor saham juga diperkirakan tetap tangguh kendati Trump menerapkan tarif perdagangan yang tinggi.

Saham Yang Prospektif Di Tengah Badai Tarif Trump

Beberapa sektor saham yang prospektif itu antara lain perbankan, konsumsi, dan utilitas. Berikut ini penjelasannya.

  • Saham Perbankan

Sektor perbankan menyediakan layanan jasa keuangan. Sebagian besar usahanya bersifat jasa, sehingga tidak terpapar secara langsung terhadap tarif impor/ekspor.

Di saat yang sama, prospek kebijakan moneter Amerika Serikat makin longgar tahun ini karena Trump tidak menyukai tingkat suku bunga yang tinggi. Jika suku bunga The Fed benar-benar turun, maka dana-dana investor dari mancanegara kemungkinan akan mengalir masuk kembali ke Indonesia.

  • Saham Konsumsi

Kebutuhan pokok masyarakat bersifat relatif stabil dalam kondisi ekonomi yang sehat maupun krisis. Stabilitas permintaan tersebut menjamin prospek perusahaan yang berkecimpung dalam bidang ini, khususnya jika pangsa pasar berfokus pada domestik atau mancanegara non-AS.

Harga beragam saham konsumsi memang rontok akibat aksi risk-off setelah pengumuman tarif Trump terhadap Indonesia, tetapi investor kemungkinan akan segera beli lagi saat situasi membaik. Salah satu buktinya, saham Unilever (UNVR) melonjak dari level terendah Rp1310 sampai level tertinggi Rp1865 selama satu minggu lalu (21-25 April 2025).

  • Saham Utilitas

Permintaan masyarakat terhadap utilitas seperti listrik, air, wi-fi, dan gas juga relatif stabil sepanjang waktu. Selain itu, layanan perusahaan jasa utilitas Indonesia biasanya berfokus ke dalam negeri dan tidak terdampak langsung oleh tarif yang dikenakan oleh negara lain.

Fluktuasi harga beberapa saham utilitas bulan ini terbilang cemerlang, atau bahkan melawan arus. Saham PGAS naik perlahan dari level terendah Rp1425 pada tanggal 8 April sampai Rp1795 pada tanggal 24 April. Tren naik dalam periode yang sama juga dialami oleh saham TOWR, TLKM, dan PGEO.

Tagged With :

Leave a Comment