Pada perdagangan hari Senin (21/11/2022), indeks saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah. Pelemahan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran China akan melakukan pengetatan imbas kembali merebaknya COVID-19.
Mengutip Reuters, Selasa (22/11), S&P 500 (.SPX) kehilangan 15,22 poin (0,38 persen) atau berakhir pada 3.950,29 poin. Nasdaq Composite kehilangan 12,11 poin (1,09 persen) menjadi 11.024,54. Dow Jones Industrial Average turun 42,21 (0,13 persen) menjadi 33.703,48.
Investor mencermati di Beijing China, bisnis dan sekolah di distrik yang paling terhantam sehingga akan mengetatkan aturan masuk ke kota akibat penularan COVID-19 yang semakin tinggi.
“Ada ketakutan bahwa China akan menerapkan kembali pembatasan COVID-19 yang baru saja dicabut,” ujar Carol Schleif, wakil kepala investasi BMO Family Office.
Volume perdagangan tercatat rendah pada hari Senin, dan cenderung berkurang menjelang perayaan Thanksgiving pada hari Kamis (24/11), sehingga menyeret pasar cenderung bergerak volatilitas.
Saham-saham yang anjlok berkurang pada sore hari, setelah Presiden Federal Reserve San Fransisco, Mary Daly, berkomentar para pejabat perlu berhati-hati untuk menghindari ‘penurunan yang menyakitkan’.
S&P 500 melanjutkan penurunan dari minggu sebelumnya, seiring beberapa pejabat Federal Reserve berjanji menaikkan suku bunga hingga inflasi terkendali, karena investor sedang menunggu rilis pertemuan November Fed pada hari Rabu.
Pelaku pasar bertaruh kenaikan 50 basis poin pada pertemuan Desember, dengan puncak kenaikan suku bunga diharapkan pada bulan Juni.
Indeks sektor energi S&P 500 turun hampir 3 persen ke level terendah dalam empat minggu terakhir pada hari Senin, karena harga minyak jatuh lebih dari 5 persen setelah laporan Arab Saudi dan produsen minyak OPEC sedang berdiskusi peningkatan produksi. Meski demikian, Arab Saudi tidak ingin berbicara lebih lanjut usai kerugian berkurang.
Energi adalah satu-satunya sektor S&P 500 utama yang diincar keuntungan pada tahun ini, yang melonjak sekitar 63 persen.
DIPREDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Selasa (22/11). Pada hari Senin (21/11), IHSG ditutup melemah 18,934 poin (0,17 persen) ke level 7.063,247.
Research Analyst Artha Sekuritas Dennies Christopher memperkirakan IHSG di level support 7.016-7.039 dan resistance di rentang 7.096-7.130.
“Secara teknikal stochastic membentuk deadcross sehingga mengindikasikan potensi pelemahan,” tulis Dennies dalam risetnya, Selasa (22/11).
Dennies mengatakan masih ada tekanan terkait potensi kenaikan suku bunga The Fed dari global. Sedangkan dari dalam negeri masih minim akan sentimen.
Sementara itu, Analis Bina Artha Sekuritas Ivan Rosanova menuturkan, IHSG masih ditutup di bawah garis SMA-60 dan mengindikasikan bahwa pola bullish flag dapat berlanjut. Namun jika terjadi kenaikan di atas 7137 akan mengkonfirmasi awal dari wave.
Sederet saham yang direkomendasikan Ivan adalah sebagai berikut:
- CPIN
Recommendation: Buy On Weakness
Target Price: 6.050.
Price Range: 5.450-5.600.
Support: 5.500.
Resistance: 6.050, 6.200, 6.300.
- HRUM
Recommendation: Buy On Weakness
Target Price: 1.780.
Price Range: 1.550-1.600.
Support: 1.540.
Resistance: 1.780, 1.840 and 1.900.
- ICBP
Recommendation: Buy On Weakness
Target Price: 9.750.
Price Range: 9.250-9.400.
Support: 9.250.
Resistance: 9.750, 9.850, 9.950, 10.150.
- INKP
Recommendation: Speculative Buy
Target Price: 10.250.
Price Range: 9.500-9.700.
Support: 9.550.
Resistance: 10.250, 10.650, 10.900.