Kekhawatiran Suku Bunga Berlanjut, Wall Street Ditutup Melemah

Pada perdagangan Senin (29/8), Wall Street ditutup melemah, di tengah kekhawatiran investor terhadap Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengantisipasi inflasi, bahkan ketika ekonomi terus melambat.

Dikutip dari Reuters, Selasa (30/8), indeks Dow Jones Industrial Average turun 184,41 poin atau 0,57 persen ke 32.098,99, S&P 500 turun 27,05 poin atau 0,67 persen ke 4.030,61 dan Nasdaq Composite turun 124,04 poin atau 1,02 persen ke 12.017,67.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 9,36 miliar saham, dengan rata-rata 10,59 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) akan membutuhkan kebijakan moneter yang ketat untuk mengendalikan inflasi. Hal ini juga menutup harapan The Fed akan menurunkan suku bunga atau menaikkan suku bunga secara perlahan.

S&P 500 pulih dari posisi terendah sesi yang menempatkannya turun 1 persen pada level terendah dalam sebulan, tetapi indeks acuan masih mencatat penurunan persentase dua hari terbesar dalam 2,5 bulan.

Saham teknologi seperti Apple Inc turun 1,37 persen, dan Microsoft Corp turun 1,07 persen, termasuk di antara hambatan terbesar pada indeks karena imbal hasil Treasury naik.

Indeks volatilitas CBOE, pengukur ketakutan Wall Street, mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu di 27,67 poin.

Pedagang pasar uang memperkirakan peluang 72,5 persen dari kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan The Fed September mendatang, yang akan menjadi kenaikan suku bunga ketiga berturut-turut sebesar itu. Mereka mengharapkan suku bunga Fed di akhir tahun ini berada di level 3,7 persen.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury dengan tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, sempat menyentuh level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal ini justru berbeda dengan imbal hasil US Treasury tenor sepuluh tahun. Pembalikan kurva imbal hasil ini dinilai sebagai sinyal dari resesi.

Baca Juga:   Daftar Negatif Investasi 2020 di Indonesia dan Contohnya

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan hari ini, Selasa (30/8). Pada perdagangan Senin, (29/8), IHSG ditutup melemah 7,132.04 (-0.04 persen).

Research Analyst Artha Sekuritas Dennies Christopher memperkirakan IHSG berada di level support 7.115-7.095 dan resistance di rentang 7.210-7.147.

“IHSG diprediksi menguat, candlestick membentuk hanging man mengindikasikan potensi rebound dalam jangka pendek. Pergerakan diperkirakan terbatas didorong sentimen kekhawatiran akan suku bunga agresif dari The Fed serta rencana pencabutan subsidi BBM dari dalam negeri,” tulis Dennies di dalam prediksinya, Selasa (30/8).

Tak hanya itu, Dennies menilai, investor juga akan mencermati rilis data manufaktur. Di sisi lain, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya meramal, IHSG bergerak dalam tentang 7002-7223. Menurut dia, IHSG terlihat masih berada dalam pola pergerakan sideways dengan potensi tekanan yang masih terlihat cukup kuat.

“Peluang koreksi wajar masih terus dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian. Mengingat dalam rentang jangka panjang IHSG masih memiliki kekuatan naik atau uptrend,” tutur dalam prediksinya.

William melanjutkan, hal tersebut tentunya ditunjang oleh faktor kestabilan kondisi perekonomian dalam negeri yang turut menunjang perbaikan kinerja emiten. “Hari ini IHSG berpotensi melemah,” imbuhnya.

Adapun saham yang direkomendasikan William antara lain: TBIG, JSMR, KLBF, HMSP, PWON, CTRA, BSDE, UNVR, ASRI.

 

Leave a Comment