Pada perdagangan Jumat (27/1/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS) Wall Street berakhir menguat, menandai akhir minggu yang sulit di mana data pertumbuhan ekonomi AS dan laporan pendapatan perusahaan menggambarkan turunnya permintaan.
Ini juga menandai ketahanan ekonomi menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) minggu depan.
Ketiga indeks saham utama AS berakhir hijau, dengan Nasdaq didukung oleh saham momentum megacap, mengalami kenaikan tertinggi.
Berdasarkan laporan Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 28,67 poin, atau 0,08 persen, menjadi 33.978,08, S&P 500 (.SPX) naik 10,13 poin, atau 0,25 persen, menjadi 4.070,56 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 109,30 poin, atau 0,95 persen, menjadi 11.621,71.
S&P dan Dow membukukan kenaikan mingguan ketiga mereka dalam empat, sementara Nasdaq membukukan kenaikan mingguan keempat berturut-turut.
Pada minggu awal tahun 2023, tercatat Nasdaq telah melonjak 11 persen, sedangkan S&P 500 dan Dow masing-masing naik 6 persen dan 2,5 persen. Saham Intel Corp (INTC.O) anjlok 6,4 persen setelah perusahaan memberikan proyeksi pendapatan yang suram.
Sementara, Chevron Corp (CVX.N) membukukan rekor laba 2022, tetapi pendapatan kuartal keempatnya jauh dari ekspektasi, menyeret saham turun 4,4 persen.
“Ini adalah bentuk kesadaran bahwa inflasi terus turun dengan cepat dan mengurangi banyak kekhawatiran mengenai perekonomian,” kata kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha Ryan Detrick.
Laporan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Departemen Perdagangan AS yang sangat diantisipasi tiba sebagian besar sejalan dengan konsensus, menunjukkan permintaan yang melemah serta tingkat inflasi mulai membaik, hal ini menandai kenaikan suku bunga terbatas The Fed yang tepat sasaran.
“Rantai pasokan terus terbuka dan membaik, membuka pintu bagi The Fed untuk mengakhiri siklus kenaikan suku bunga yang agresif,” kata Derick.
Ketua Fed Jerome Powell menyatakan pertempuran bank sentral melawan inflasi yang tinggi selama puluhan tahun masih jauh dari selesai. Pasar keuangan masih percaya bank sentral akan menaikkan tingkat target dana Fed sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan minggu depan.
DIPREDIKSI MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Senin (30/1). Selama sepekan, IHSG menguat 0,35 persen dari 6.874,931 pada pekan sebelumnya.
CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya mengungkapkan, pola gerak saham terlihat akan diwarnai oleh laporan kinerja emiten yang masih terus dilansir pada awal pekan.
“Selain itu mulai kembalinya capital inflow yang masuk ke dalam pasar modal Indonesia selama sepekan lalu,” tulis William dalam risetnya, Senin (30/1).
Menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap USD akan turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan IHSG. Namun demikian, para investor tetap masih harus mewaspadai adanya risiko koreksi wajar selama IHSG belum mampu menggeser rentang konsolidasi terdekatnya.
Tim riset MNC Sekuritas memperkirakan support IHSG di posisi 6.815 dan 6.760, sedangkan resistance di level 6.953 dan 7.053.
“Posisi IHSG saat ini diperkirakan sedang berada di akhir wave (v) dari wave [i] dari wave C pada skenario hitam, hal tersebut berarti IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 6.940-6.970,” kata MNC Sekuritas.
Selanjutnya, MNC Sekuritas memproyeksi IHSG akan rawan terkoreksi dahulu membentuk wave ke rentang 6.714-6.811.
Berikut rekomendasi saham dari MNC Sekuritas:
- CTRA-Buy on Weakness
Buy on Weakness: 955-965
Target Price: 1.010, 1.055
Stop loss: below 925
- PGAS-Buy on Weakness
Buy on Weakness: 1.470-1.510
Target Price: 1.650, 1.750
Stoploss: below 1.430
- SRTG-Buy on Weakness
Buy on Weakness: 2.380-2.430
Target Price: 2.560, 2.640
Stop loss: below 2.300