JCPenney Bankrut : Apakah Pandemi Covid-19 Penyebabnya?

Setelah bertahun-tahun berjuang untuk memperbaiki diri, akhirnya JCPenney bankrut. Perusahaan ini telah mengajukan permohonan kebankrutan dan menyatakan bahwa pandemi  semakin memperburuk berbagai permasalahan yang memang selama ini dihadapi oleh department store ini. Perusahaan ini belum melaporkan keuntungan selama hampir satu dekade terakhir. Bahkan, hutang yang dilaporkan lebih tinggi dibanding retailer lain yang ada di Amerika Serikat.

Perusahaan yang telah berusia 118 tahun ini mengajukan permohonan perlindungan kebankrutan Pasal 11 pada hari Jumat malam di Bankruptcy Court di Distrik Texas bagian selatan Amerika Serikat. Permohonan ini diajukan setelah melalui persetujuan dengan para pemberi modal untuk mengurangi nilai hutangnya yang mencapai milyaran dollar. JCPenney juga telah menerima bantuan pembiayaan sebesar $900 juta dari penyandang dana yang ada. Dana ini digunakan untuk membantu operasi perusahaan selama pengajuan kebankrutan.

JCPenney bankrut

JCPenney Bankrut: Terkait dengan Covid-19?

Pihak perusahaan melaporkan bahwa sejumlah toko akan ditutup secara permanen. Namun, tidak ada informasi jumlah maupun lokasi toko yang akan ditutup permanen tersebut. Pengajuan kebangkrutan hanyalah tahap akhir dari perjuangan berkepanjangan untuk memperkuat dirinya. Department store ini telah mengalami banyak masalah selama beberapa dekade terakhir. Pihak perusahaan sebenarnya sedang berupaya keras untuk membenahi diri, di bawah komando Jill Soltau yang menjabat sebagai CEO pada bukan Oktober 2018.

Di saat upaya membenahi diri belum membuahkan hasil, pandemi covid-19 pun menyerang. Akibatnya, manajemen perusahaan memilih untuk mengumumkan kebankrutan. Saat pengumuman dilaksanakan, pihak manajemen juga menyampaikan bahwa perusahaan telah mengeluarkan dana sebesar $10 juta dalam bentuk bonus bagi top management.

Masalah yang telah ada selama bertahun-tahun diperburuk oleh pandemi covid-19, yang mengharuskan semua orang untuk tetap berada di rumah. Pada bulan Maret 2020, JCPenney menutup 850 department store miliknya untuk sementara waktu. Meskipun lebih 90% dari toko JCPenney masih ditutup, perusahaan sudah mulai membuka kembali sejumlah lokasi. Untuk mengurangi biaya operasional saat toko-tokonya tutup, perusahaan merumahkan sebagian besar pekerja paruh waktu di toko, demikian juga pekerja korporasi dan pekerja gudang.

Baca Juga:   Mendorong Keanekaragaman dan Inklusi Saat Konferensi

JCPenney Bankrut: Apa Masalah Sebenarnya?

JCPenney bankrut sebenarnya merupakan klimaks dari berbagai permasalahan yang dihadapi perusahaan retail ini. Perusahaan dihadapkan dengan masalah lain di awal bulan ini, ketika Sephora mengancam untuk keluar dari toko-toko milik JCPenney. Seperti diketahui, Sephora telah bergabung dengan toko-toko JCPenney sejak tahun 2006. Akhirnya, kedua perusahaan ini kembali memperkuat kerjasamanya minggu lalu. Masalah lain yang dihadapi perusahaan antara lain:

Masalah Keuangan

Perusahaan dihadapkan dengan masalah keuangan. Pada Tahun 2019, perusahaan retailer ini melaporkan kerugian mencapai $268 juta, yang merupakan kerugian perusahaan di tahun kesembilan. Pendapatan perusahaan juga berkurang sekitar 8%, menjadi $10.7 milyar tahun lalu.

Kondisi keuangan perusahaan diperburuk oleh hutang yang sangat besar, yakni mencapai $4.2 milyar di neracanya. Angka ini menunjukkan kalau JCPenney sebenarnya sedang mengalami tekanan yang sangat besar. Bahkan, department store ini telah melewatkan dua kali pembayaran bunga sejak tanggal 15 April. Bahkan saat itu, perusahaan sudah diambang kebangkrutan jika tidak mampu mendapatkan dukungan finansial dari pemberi pinjaman.

Masalah Operasional

Sebetulnya, perusahaan telah berupaya mengambil langkah-langkah strategis, seperti mengurangi jumlah persediaan, mengurangi biaya operasional, dan menambah produk-produk baru. Bahkan, perusahaan baru-baru ini bekerja sama dengan ThredUp untuk menjual pakaian bekas di beberapa toko JCPenney. Perusahaan sebenarnya memiliki tradisi yang sudah lama berkembang dan cukup membanggakan karena usianya yang sudah ratusan tahun. Sayangnya, JCPenney gagal untuk berkembang seiring dengan waktu.

Perusahaan juga sudah mencoba mengurangi beban operasional dengan mengurangi jumlah toko fisiknya. Dalam 5 tahun terakhir, JCPenney telah menutup hampir 200 toko. Namun, itupun masih menyisakan sekitar 850 toko lagi. Pada bulan Februari lalu, JCPenney juga mengumumkan rencana untuk menutup setidaknya 6 toko lagi di tahun ini.

Baca Juga:   10 Referensi Bisnis Sampingan untuk Karyawan
Kehilangan Investor

Investor JCPenney banyak yang keluar. Akibatnya, harga saham perusahaan telah turun 80% sejak awal tahun ini. Dengan demikian, kapitalisasi pasarnya hanya sebesar $80 juta. Bahkan, saham JCPenney terancam akan dicoret dari Bursa Efek New York, karena harga sahamnya bertahan di bawah $1 per lembar selama lebih dari 30 hari berturut-turut. Bursa Efek New York telah mengeluarkan peringatan kepada perusahaan dan memberikan tenggang waktu 6 bulan untuk menaikkan harga sahamnya. Namun, pada hari Jumat, harga sahamnya kembali turun 28%.

JCPenney didirikan oleh James Cash Penney pada Tahun 1902, berupa sebuah toko yang terletak di Wyoming, sebuah kota pertambangan batubara. Perusahaan terus berkembang dan Penney mulai mengangkat manajer di setiap toko serta memberi mereka otonomi untuk menjalankan toko masing-masing, dengan sistem bagi hasil. Sayangnya, JCPenney bankrut dan tidak mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat. Kondisi tersebut diperburuk dengan pandemi covid-19 yang semakin menghantam perusahaan.

Tagged With :

Leave a Comment