Investor Was-was Resesi, Wall Street Anjlok 3 Hari Beruntun

Pada perdagangan Jumat (16/12/2022), Wall Street ditutup melemah . Indeks Saham Amerika Serikat (AS) sudah mengalami pelemahan selama 3 hari berturut-turut akibat kekhawatiran investor terhadap kebijakan kenaikan suku bunga The Fed yang mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Mengutip Reuters, Senin (8/12), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 281,76 poin atau 0,85 persen ke 32.920,46. Lalu S&P 500 turun 43,39 poin atau 1,11 persen ke 3.852,36 dan Nasdaq Composite turun 105,12 poin atau 0,97 persen ke 10.705,41.

Untuk minggu ini, indeks Dow kehilangan 1,66 persen, S&P 500 turun 2,09 persen dan Nasdaq jatuh 2,72 persen. Adapun semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah dengan sektor real estate dan konsumen (.SPLRCR) masing-masing terpangkas 2,96 persen dan 1,74 persen, memimpin penurunan.

Volume bursa AS adalah 17,28 miliar saham dibandingkan dengan rata-rata sekian miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Selain putusan The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, saham AS bergerak melemah setelah Gubernur The Fed Jerome Powell mengisyaratkan The Fed masih akan melakukan pengetatan kebijakan suku bunga ke depan.

The Fed juga memproyeksikan suku bunga akan melampaui level 5 persen pada tahun 2023. Presiden Fed New York John Williams mengungkapkan, masih ada kemungkinan bank sentral AS akan menaikkan lebih besar dari yang diperkirakan pada tahun depan.

Presiden Bank Federal Reserve San Francisco Mary Daly tidak menampik bahwa begitu suku bunga kebijakan The Fed mencapai puncaknya, maka suku bunga akan bertahan di level tersebut hingga tahun 2024.

Analis Ekuitas dan Manajer Portofolio Aptus Capital Advisors, Dave Wagner merasa pasar mulai memahami bahwa berita buruk adalah berita buruk dan itulah yang mulai terjadi. Sejak titik terendah Oktober, pasar terus memperhitungkan apa yang dianggap sebagai optimisme substansial pada fakta bahwa The Fed dapat menavigasi dan melakukan pendaratan lunak yang sukses.

“Akhirnya pasar mempertimbangkan bahwa berita buruk seharusnya menjadi hal buruk bagi pasar,” ujar Wagner di Cincinnati.

Di sisi lain, pasar uang menunjukkan setidaknya dua kenaikan suku bunga 25 bps tahun depan dan tingkat terminal sekitar 4,8 persen pada pertengahan tahun. Lalu, sebelum turun menjadi sekitar 4,4 persen pada akhir tahun 2023.

Kemudian, di bidang ekonomi, sebuah laporan menunjukkan AS dengan aktivitas bisnis berkontraksi lebih lanjut pada bulan Desember. Pasalnya, pesanan baru merosot ke level terendah hanya dalam waktu 2,5 tahun, meskipun berkurangnya permintaan membantu mendinginkan inflasi.

Nasdaq yang padat teknologi pada hari Kamis ditutup di bawah rata-rata pergerakan 50 hari. Level teknis utama yang dilihat sebagai tanda momentum. Pada hari Jumat, S&P juga ditutup di bawah rata-rata pergerakan 50 hari.

Prospek Reli Sinterklas atau kenaikan akhir tahun di pasar tahun ini telah meredup, karena mayoritas bank sentral global telah mengadopsi kebijakan pengetatan. Kendati demikian, Bank of England dan Bank Sentral Eropa merupakan bank sentral yang baru saja menunjukkan siklus kenaikan suku bunga yang diperpanjang pada hari Kamis.

 

Leave a Comment