Pada penutupan perdagangan Selasa (11/10/2022), bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, tertekan. Hanya indeks Dow Jones yang mengalami kenaikan tipis 0,12 persen.
Dikutip dari Reuters, Rabu (12/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 36,31 poin atau 0,12 persen menjadi 29.239,19; S&P 500 (.SPX) kehilangan 23,55 poin atau 0,65 persen pada 3.588,84; dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 115,91 poin atau 1,1 persen menjadi 10.426,19.
Pasar keuangan bergerak fluktuatif pada hari Selasa dengan S&P 500 (.SPX) berakhir lebih rendah, sementara dolar AS naik karena investor gelisah melarikan diri ke tempat yang aman setelah Bank of England (Bank Sentral Inggris) akan mendukung pasar obligasi Inggris hanya untuk tiga hari lagi.
Investor juga harus menghadapi berbagai ketidakpastian menjelang laporan inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS di kuartal III 2022, meningkatnya perang Rusia-Ukraina, dan kasus COVID-19 di China.
Indeks STOXX 600 pan-Eropa (.STOXX) turun 0,56 persen dan indeks saham MSCI di seluruh dunia (.MIWD00000PUS) turun 0,97 persen. Sebelumnya indeks MSCI sempat turun sebanyak 1,5 persen menjadi 549,19, level terendah sejak 30 Oktober 2020.
Saham pasar berkembang (.MSCIEF) kehilangan 2,28 persen setelah mencapai level terendah April 2020 dan mengalami penurunan hampir 30 persen tahun ini, penurunan terbesar sejak 2008.
Pasar obligasi global tergeser dengan turunnya obligasi pemerintah Inggris, yang dikenal sebagai gilt. Hal ini pun mendorong imbal hasil Treasury AS naik tajam.
Perdagangan pasar obligasi bergejolak dengan imbal hasil Treasury AS mencapai level tertinggi. Untuk imbal hasil benchmark 10-tahun naik 5,8 basis poin menjadi 3,943 persen, dari 3,885 persen pada akhir Jumat.
Sebelumnya, Bank Sentral Inggris menyatakan akan terus membeli obligasi pekan ini. Namun, Gubernur Bank Sentral Inggris, Andrew Bailey, mengatakan akan mengakhiri pembelian obligasi di hari Jumat. Setelah komentar tersebut, indeks saham Wall Street berbalik melemah tajam.
DIPERDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Rabu (12/7). Pada perdagangan Selasa (11/7), IHSG ditutup melemah 55,25 poin (0,79 persen) di level 6.939,145.
Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher memperkirakan support IHSG di level 6.895-6.917 dan resistance pada rentang 6.981-7.023.
“Candlestick membentuk formasi three black crows dengan stochastic melebar membentuk deadcross mengindikasikan potensi pelemahan hingga jangka menengah,” kata Dennies dalam risetnya, Rabu (12/7).
Dennies mengatakan investor akan mencermati beberapa rilis data ekonomi dari Amerika Serikat, serta mencermati perkembangan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.
Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya meramal potensi pergerakan IHSG terlihat masih akan dibayangi oleh pola tekanan minor. Peluang ini dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian, mengingat kinerja emiten yang terlihat di kuartal 2 membaik dan memiliki potensi akan lebih baik di kuartal 3.
“Hal ini tentunya dapat memberikan laporan kinerja yang dapat membantu mendongkrak performa IHSG dalam beberapa waktu mendatang. Hari ini IHSG berpotensi melemah,” ujarnya.
Dennies merekomendasikan saham BRPT dan AKRA:
- BRPT
Recommendation: Specific Buy
Entry Range: 810-830
Buy Price: 825
Target Price Range: 870-890
Stop Loss: 800
- AKRA
Recommendation: Specific Buy
Entry Range: 1.395-1.420
Buy Price: 1.410
Target Price Range: 1.475-1.500
Stop Loss: 1.385