Investor Khawatir The Fed Tetap Naikkan Suku Bunga, Wall Street Ditutup Melemah

Pada perdagangan, Jumat (17/3/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah. Penurunannya itu juga diikuti oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turun tajam pada perdagangan minggu ini.

Mengutip Reuters, Senin (20/3), indeks Dow Jones berakhir turun hingga 384,57 poin (1,19 persen) ke level 31.861,98; Indeks S&P 500 turun 43,68 poin (1,1 persen) ke 3.916,6; dan Indeks Nasdaq melemah 86,77 poin (0,74 persen) ke 11.630,51.

Anjloknya Wall Street disebabkan karena investor khawatir Federal Reserve (The Fed) akan memutuskan kenaikan suku bunga yang agresif. Hal ini bertujuan untuk menghindari memperburuk tekanan sistem keuangan akibat ambruknya Silicon Valley Bank dan Signature Bank.

Reli di area sensitif suku bunga seperti saham teknologi tampaknya, memberi sinyal bahwa pasar memperkirakan suku bunga akan terus turun karena resesi yang ditakuti secara luas semakin dekat.

Ahli strategi portofolio di Natixis Investment Managers Solutions, Garrett Melson, mengatakan bawah krisis perbankan telah memicu kekhawatiran resesi.

Imbal hasil jangka pendek kemungkinan akan bergantung pada pertemuan Federal Reserve minggu ini. Garrett mengatakan, tanda-tanda bahwa bank sentral dapat memprioritaskan stabilitas keuangan atau menghentikan kenaikan suku bunga dapat memicu imbal hasil lebih rendah lagi.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada Senin (20/3). Pada perdagangan Jumat (17/3), IHSG ditutup menguat 112,5 poin atau setara 1,71 persen di level 6.678,237.

Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolan pergerakan IHSG akan dipengaruhi kabar konsorsium bank di Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi sektor keuangan di AS masih cukup besar.

“Sentimen eksternal berpotensi mengubah arah pergerakan IHSG, terutama di awal pekan. Meski secara teknikal, IHSG berpeluang lanjutkan rebound, namun pelaku pasar sebaiknya tetap waspadai potensi fluktuasi IHSG dalam rentang 6600-6750, terutama di awal pekan,” tulis Alrich dalam risetnya, Senin (20/3).

Alrich menyoroti harga saham-saham energi, terutama produsen batu bara berpotensi melanjutkan rebound. Hal ini dipicu ekspektasi normalisasi harga komoditas menyusul pertemuan antara Arab Saudi dengan Rusia (16/3).

Oleh karena itu, Alrich merekomendasikan pelaku pasar untuk memperhatikan ADRO, PTBA, ITMG, HRUM dan UNTR. Kemudian pelaku pasar juga dapat memperhatikan rebound lanjutan pada sejumlah saham bank, seperti BBRI, BMRI, BRIS, BBTN dan BBYB juga dapat diperhatikan.

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan support IHSG di rentang 6.543 dan 6.509. Kemudian resistance berada di level 6.695 dan 6.731.

“Saat ini posisi IHSG saat ini diperkirakan sedang berada di awal wave iv dari wave c dari wave (v) dari wave [c] dari wave B pada label hitam, di mana hal tersebut berarti IHSG berada pada uptrend jangka pendeknya untuk menguji rentang 6,690-6,731,” tulis MNC Sekuritas.

“Kabar baiknya, pada label merah, koreksi IHSG ini sedang membentuk wave (y) dari wave [c] dan akan menguat membentuk wave [d] ke rentang 6731-6960 pada triangle pattern-nya,” sambungnya.

Saham yang direkomendasikan MNC Sekuritas antara lain adalah BEST, INDF, PGAS dan RALS ketika Buy On Weakness.

 

Leave a Comment