Pada perdagangan Selasa (28/2/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah. Para investor khawatir mengenai kenaikan suku bunga untuk jangka waktu yang lama menyebabkan ketiga indeks utama Wall Street mengalami penurunan secara bulanan.
Mengutip Reuters, Rabu (1/3), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 232,39 poin atau 0,71 persen menjadi 32.656,7, S&P 500 (.SPX) kehilangan 12,09 poin atau 0,30 persen menjadi 3.970,15, dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 11,44 poin atau 0,1 persen menjadi 11.455,54.
Setelah kinerja yang kuat di bulan Januari, Wall Street mengalami kemunduran di bulan Februari. Hal ini juga disebabkan oleh rilis data ekonomi dan komentar dari pejabat the Fed.
Kepala ETF Market Strategist Allianz Investment Management, Johan Grahn, menilai bahwa pejabat the Fed mendorong pelaku pasar untuk kembali mempertimbangkan adanya kemungkinan bank sentral akan menaikkan suku bunga ke tingkat yang lebih tinggi dari perkiraan pasar. Selain itu, suku bunga juga diperkirakan mempertahankan lebih lama dari yang semula.
“Pasar dalam banyak hal mengharapkan hal-hal untuk pergi ke selatan lebih cepat, memaksa Fed untuk berputar, atau berhenti, atau memangkas suku bunga lebih cepat dari yang dikatakan Fed,” kata Grahn di Minneapolis.
Untuk bulan ini, S&P 500 turun 2,61 persen, Dow turun 4,19 persen, dan Nasdaq turun 1,11 persen. Pedagang telah mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga 50 basis poin yang lebih besar pada bulan Maret, meskipun kemungkinannya tetap rendah sekitar 23 persen.
“Kekuatan Fed jauh lebih ditentukan dan tabah daripada daya tahan investor jadi kembali ke mantra lama apakah Anda benar-benar ingin melawan Fed dalam hal ini dan dalam hal ini masih merupakan kesalahan untuk mencoba dan melakukan,” tambahnya.
Di sisi lain, BofA Global Research memperingatkan The Fed bahkan dapat menaikkan suku bunga hingga hampir 6 persen. Namun, data ekonomi pada hari Selasa menunjukkan kepercayaan konsumen secara tak terduga turun pada bulan Februari, sedangkan ukuran harga rumah melambat lebih lanjut pada bulan Desember.
DIPREDIKSI MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Rabu (3/1). Pada perdagangan Selasa (28/2), IHSG berakhir di zona merah atau turun 11,538 poin (0,17 persen) ke 6.843,239.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan IHSG berada di level 6.820 dan resistance di level 6.940.
“Stochastic RSI breakout pivot di 50 persen dan MACD membentuk golden cross. Kondisi ini membuka peluang IHSG untuk uji resistance di 6870 pada perdagangan Rabu,” tulis Alrich dalam risetnya, Rabu (3/1).
Alrich menyebut, berlanjutnya rilis laporan keuangan full year atau sepanjang 2022 dan rencana pembagian dividen untuk tahun buku 2022 diperkirakan masih akan menjadi pendorong utama pergerakan IHSG.
Alrich merekomendasikan investor memperhatikan saham tambang dan energi, antara lain INCO, ANTM, MDKA, ADMR, dan HRUM. Ia juga menyarankan pelaku pasar untuk cermati potensi rebound pada BRIS, PGAS, JPFA, SRTG, dan dan potensi bullish continuation pada SIDO.
Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, mengamati pergerakan IHSG masih positif. Apalagi, hari ini akan ada rilis data inflasi yang disinyalir akan berada dalam angka stabil karena mengingat kondisi perekonomian yang kembali menggeliat dan sektor riil yang mulai bergerak,
“Hal ini dapat memberikan angin segar terhadap pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang, sedangkan kondisi pergerakan IHSG saat ini terlihat lebih bersifat konsolidatif dengan potensi kenaikan jangka pendek yang masih terbuka, hari ini IHSG berpotensi menguat terbatas,” kata William, Rabu (29/2).
Adapun saham unggulan yang direkomendasikan William, yaitu ICBP, ASSI, ITMG, BSDE, HMSP AKRA, ASRI.