Reksa Dana Saham (RDS) sering dipromosikan sebagai alternatif investasi yang lebih mudah dan ramah pemula, dikombinasikan dengan potensi cuan yang melimpah dari pasar saham. Potensi untung dari RDS pun kelihatannya lebih prospektif daripada jenis reksa dana lain dalam jangka panjang. Namun, benarkah demikian?

Reksa Dana Saham memang lebih sederhana bagi pemula. Kita tak perlu repot menganalisis ratusan saham berbeda untuk memilih mana yang terbaik. Kita cukup memasrahkan modal untuk dikelola oleh Manajer Investasi yang telah memperoleh perizinan komplit dari otoritas berwenang.
Modal untuk memulai investasi Reksa Dana Saham juga lebih hemat daripada jika kita harus menyusun portofolio terdiversifikasi sendiri. Dengan menyetorkan dana Rp100 ribu per bulan saja, kita dapat mengoleksi beberapa efek berkualitas melalui RDS. Sedangkan upaya membeli saham berkualitas secara langsung kemungkinan akan membutuhkan modal hingga sepuluh atau seratus kali lipat lebih besar.
Berbagai keunggulan Reksa Dana Saham tersebut membuatnya banyak disukai oleh investor pemula. Kendati demikian, ada satu fakta yang mungkin akan cukup mengagetkan: Kinerja rata-rata Reksa Dana Saham di Indonesia berada di bawah benchmark (IHSG).
Cuan investor reksa dana seringkali kalah dengan kenaikan IHSG. Padahal, banyak pelaku investasi saham langsung yang mampu mencetak kinerja lebih baik daripada IHSG plus dividen tahunan yang menggiurkan.
Praktisi investasi Teguh Hidayat membahas masalah ini dalam catatan terbaru di media sosialnya. Ia berpendapat kasus Jiwasraya, Asabri, dan Taspen Life menunjukkan bahwa banyak mafia di bursa saham Indonesia yang memanfaatkan reksa dana sebagai “alat cuci piring”. Aksi para mafia itu menghasilkan banyak reksa dana saham dengan underlying asset berupa saham yang berfundamental “hancur lebur”.
Ia mengakui banyak manajer investasi yang kompeten di Indonesia. Namun, ia juga mencatat bahwa kinerja indeks reksa dana saham (IRS) hampir selalu berada di bawah IHSG. IRS pada tahun 2021 hanya meningkat 0.3 persen, sedangkan IHSG melaju 10.1 persen. Simpulannya, ia lebih merekomendasikan agar berinvestasi pada saham secara langsung saja.
Kita memang harus belajar terlebih dahulu sebelum terjun dalam investasi saham langsung, tetapi kesuksesan dapat diraih setelah kita sudah cukup mahir. Sedangkan jika tak punya waktu untuk belajar, maka alternatif investasi dalam deposito, surat berharga negara (SBN), atau reksa dana non-saham kemungkinan lebih potensial.
Tagged With : investasi jangka panjang • reksadana • saham