IHSG menunjukkan potensi pelemahan setelah mengalami kenaikan jangka pendek atau yang biasa disebut “pullback” pada perdagangan Selasa (15/7). Hal ini terjadi meskipun pada Senin (14/7) IHSG ditutup menguat ke level 7.097,15 atau naik 0,71%.
Analisis Teknikal dari Phintraco Sekuritas
Analis dari Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, menjelaskan beberapa poin penting secara teknikal:
- Breakout MA200: IHSG berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari (MA200) di sekitar level 7.082. Ini seringkali dianggap sebagai sinyal positif.
- Sinyal Waspada: Meskipun demikian, ada sinyal waspada dari indikator Stochastic RSI yang berada di area overbought (jenuh beli), menunjukkan bahwa harga mungkin terlalu tinggi dan berpotensi terkoreksi. Selain itu, volume jual yang meningkat juga menjadi perhatian.
- Momentum Positif MACD: Indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) masih menunjukkan momentum positif, yang bisa mengimbangi sinyal negatif lainnya.
- Potensi Pullback: Valdy memprediksi IHSG berpotensi mengalami pullback jangka pendek untuk menutup gap (celah harga) di sekitar level 7.055.
Analisis Teknikal dari MNC Sekuritas
Analis dari MNC Sekuritas juga memberikan pandangan teknikal:
- Target Penguatan Terbatas: Penguatan IHSG saat ini sudah mendekati area target mereka. Pada label hitam, ruang penguatan diperkirakan terbatas di rentang resistance 7.150–7.177.
- Peluang Uji Resistance Lebih Tinggi: Namun, pada label merah, IHSG masih memiliki peluang untuk menguji resistance yang lebih tinggi di kisaran 7.240–7.476.
- Level Support dan Resistance:
- Support: 7.049 dan 6.994
- Resistance: 7.143 dan 7.191
Faktor-faktor yang Memengaruhi Pergerakan IHSG
Beberapa faktor, baik dari global maupun domestik, turut memengaruhi pergerakan IHSG:
1. Data Ekonomi Global
- Tiongkok: Pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi penting dari Tiongkok pada hari ini, termasuk:
- Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025: Diproyeksikan melambat menjadi 5,1% YoY, dibandingkan 5,4% pada kuartal sebelumnya.
- Data penjualan ritel dan produksi industri: Juga diperkirakan melambat.
- Perlambatan ekonomi Tiongkok bisa berdampak negatif pada sentimen pasar global.
- Amerika Serikat: Fokus investor tertuju pada data inflasi AS:
- Inflasi konsumen (CPI) bulan Juni: Diperkirakan naik menjadi 2,7% YoY.
- Core CPI: Diperkirakan naik ke 3% YoY.
- Kenaikan inflasi di AS bisa memicu kekhawatiran tentang kebijakan suku bunga The Fed, yang berpotensi menekan pasar saham.
2. Faktor Domestik
- Negosiasi Pemerintah dengan AS: Investor masih menantikan perkembangan negosiasi lanjutan antara pemerintah Indonesia dengan AS, dengan harapan mencapai kesepakatan sebelum batas waktu 1 Agustus 2025. Perkembangan positif dalam negosiasi ini bisa memberikan sentimen positif.
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia: Pelaku pasar menunggu hasil RDG Bank Indonesia yang akan digelar Selasa-Rabu pekan ini. Konsensus pasar memproyeksikan penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%. Penurunan suku bunga ini umumnya dianggap positif bagi pasar saham karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.
- Musim Laporan Keuangan: Musim laporan keuangan kuartal II-2025 yang akan dimulai pertengahan bulan ini juga menjadi perhatian investor. Hasil laporan keuangan yang positif dapat menjadi pendorong kenaikan harga saham.
Rekomendasi Saham
- Phintraco Sekuritas merekomendasikan: AKRA, LSIP, ENRG, HRTA, dan JPFA.
- MNC Sekuritas merekomendasikan:
- Buy on weakness: AKRA dan ANTM.
- Speculative buy: MAPI.
- Sell on strength: INCO (berpotensi terkoreksi setelah penguatan awal).
Penting: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pribadi Anda. Informasi ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu. Selalu lakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.