Faktor yang Mendorong Kenaikan Saham Properti

Harga saham bukan hanya dapat berubah merespon laporan keuangan perusahaan emiten saja, melainkan juga sangat sensitif menanggapi perubahan kebijakan pemerintah dan masalah hukum. Hal ini khususnya berlaku pada saham – saham sektor Properti.

Ambil contoh saat Agung Podomoro Land terseret kasus suap pada tahun 2016, harga saham PT Agung Podomoro Group Tbk (APLN) langsung goyang. Kemudian beberapa waktu lalu, saat proyek Meikarta yang diusung oleh grup Lippo terjerat masalah perijinan pada pertengahan tahun 2018, harga saham-saham di grup yang sama pun langsung menjadi pusat perhatian dan memancing banyak pakar untuk melakukan evaluasi ulang atas nilai fundamentalnya.

Faktor yang Mendorong Kenaikan Saham Properti

Kalau kita lihat grafik performa masing-masing sektor saham di Bursa Efek Indonesia terkini, akan nampak bahwa performa sektor Properti telah melesat 6.07 persen dalam satu bulan terakhir, walaupun masih tercatat -6.21 persen dalam enam bulan terakhir. Rekor itu merupakan tertinggi kedua setelah sektor Industri Dasar yang meningkat 12.1 persen dalam sebulan. Apa yang melatar belakangi kenaikan performa saham – saham properti ini?

Menurut catatan Ellen May Institute, hal ini berhubungan dengan rencana kebijakan baru dari pemerintah. Pemerintah dikabarkan berencana menaikkan batas pengenaan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) kelompok properti mewah dari Rp20 Miliar menjadi Rp30 Miliar, serta penurunan PPh Pasal 22 untuk pembelian hunian mewah dari 5 persen menjadi 1 persen.

Kenaikan ambang pengenaan pajak dan penurunan persentase pajak yang dikenakan, tentu diproyeksikan akan meningkatkan antusiasme konsumen untuk membeli properti berharga lebih tinggi, alias hunian mewah. Pada gilirannya, para pengembang properti pun akan terpacu untuk meningkatkan pembangunan hunian mewah untuk memenuhi peningkatan permintaan pada segmen ini.

Untuk ikut ambil untung dari tren ini, Anda dapat mencermati saham-saham sektor Properti. Contohnya seperti Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), Sentul City Tbk (BKSL), PP Properti Tbk (PPRO), Pakuwon Jati Tbk (PWON), Summarecon Agung Tbk (SMRA), Wijaya Karya Tbk (WIKA), Waskita Karya Tbk (WSKT), dan lain sebagainya. Namun, jangan asal beli. Anda tetap perlu mengevaluasi kinerja fundamental dan posisi teknikal harga sebelum memilih posisi entry yang tepat.

Tagged With :

Leave a Comment