Perkembangan di Bursa Saham AS pada 16 Juli 2025 menunjukkan dinamika menarik yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari spekulasi politik hingga data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan.
Gejolak Pasar Akibat Kabar Pemecatan Jerome Powell
Bursa saham AS atau Wall Street sempat mengalami guncangan signifikan pada Rabu (16/7) menjelang tengah hari. Hal ini dipicu oleh laporan media yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump berniat memecat Gubernur Bank Sentral (The Fed) Jerome Powell. Berita ini menyebabkan indeks S&P 500 dan Nasdaq anjlok lebih dari 1 persen, nilai dolar AS turun tajam, dan imbal hasil obligasi naik.
Independensi The Fed dianggap krusial untuk stabilitas ekonomi, sehingga wajar pasar langsung bereaksi terhadap kemungkinan gangguan terhadap independensi tersebut. Dylan Bell, Chief Investment Officer di CalBay Investments, menyoroti pentingnya independensi The Fed sebagai faktor kunci di balik reaksi pasar.
Pemulihan Pasar Setelah Bantahan Trump
Namun, gejolak ini bersifat sementara. Setelah Trump membantah laporan mengenai pemecatan Powell, pasar saham kembali pulih. Meskipun demikian, Trump tetap melontarkan kritik terhadap Powell karena dianggap lambat dalam menurunkan suku bunga.
Pada penutupan perdagangan, indeks-indeks utama berhasil menguat:
- Nasdaq Composite (.IXIC) menguat 52,69 poin atau 0,26 persen ke level 20.730,49.
- Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 231,49 poin atau 0,53 persen menjadi 44.254,78.
- S&P 500 (.SPX) menguat 19,94 poin atau 0,32 persen ke posisi 6.263,70.
Indeks Volatilitas CBOE (.VIX), yang sering disebut “pengukur ketakutan” Wall Street, sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga minggu setelah laporan mengenai Powell mencuat, namun kemudian mereda seiring dengan pulihnya pasar.
Kekhawatiran Investor dan Kondisi Ekonomi AS
Meskipun tren positif berlanjut sejak pengumuman tarif oleh Trump pada April lalu—dengan S&P 500 bahkan mencetak rekor penutupan pada pekan sebelumnya—investor tetap cemas dengan kemungkinan Powell diberhentikan sebelum masa jabatannya berakhir. Kekhawatiran ini diperkuat oleh kritik terus-menerus Trump terhadap Powell terkait suku bunga.
Bell dari CalBay Investments menambahkan bahwa, meskipun risiko volatilitas akibat berita mengejutkan akan terus ada, kondisi ekonomi AS yang masih positif menjadi faktor utama dalam pergerakan investor.
Kebijakan Moneter The Fed dan Dampak Inflasi
Di sisi lain, meskipun Trump terus menuntut pelonggaran moneter, pejabat The Fed tetap berhati-hati. Mereka enggan memangkas suku bunga sebelum ada kejelasan apakah tarif perdagangan yang dikenakan AS akan kembali memicu inflasi.
Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic, dalam wawancara dengan Fox Business, menyampaikan bahwa tekanan inflasi bisa meningkat akibat kenaikan tarif impor. Hal ini sejalan dengan fokus investor pekan itu pada data inflasi. Data harga produsen yang dirilis pada Rabu (16/7) menunjukkan pertumbuhan stagnan di bulan Juni, di mana kenaikan biaya barang akibat tarif diimbangi oleh pelemahan harga jasa. Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan telah mengurangi ekspektasi akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed secara lebih agresif.
Kinerja Laporan Keuangan Perusahaan
Pada hari kedua musim laporan keuangan, kinerja positif beberapa bank besar Wall Street tidak selalu berhasil mendongkrak harga saham mereka:
- Saham Goldman Sachs naik 0,9 persen setelah mencatat lonjakan laba sebesar 22 persen.
- Bank of America dan Morgan Stanley masing-masing turun 0,3 persen dan 1,3 persen meskipun mencatatkan pertumbuhan laba.
Namun, beberapa perusahaan mencatat performa cemerlang:
- Saham Johnson & Johnson melonjak 6,2 persen, menjadikannya saham dengan performa terbaik kedua di indeks S&P 500. Kenaikan ini terjadi setelah perusahaan tersebut memangkas estimasi beban akibat tarif baru dan menaikkan proyeksi penjualan serta laba tahunan.
Sektor lain juga menunjukkan pergerakan:
- Sektor semikonduktor tampak lesu setelah sebelumnya terdorong oleh kabar bahwa Nvidia mendapat izin untuk menjual chip H2O di China. Indeks semikonduktor terkoreksi 0,4 persen setelah sempat menyentuh level tertinggi 12 bulan pada sesi sebelumnya.
Secara keseluruhan, bursa saham AS pada tanggal tersebut menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi, dengan pasar yang cepat pulih dari gejolak dan investor tetap mencermati data inflasi serta kebijakan The Fed.