Pada perdagangan Jumat (10/11/2023), indeks Utama Saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat. Kenaikan tersebut ditopang oleh saham-saham teknologi.
Mengutip Reuters, Senin (13/11), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 391,16 poin menjadi 34.283,1, S&P 500 (.SPX) naik 67,89 poin menjadi 4.415,24, dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 276,66 poin menjadi 13.798,11.
“Ekuitas bangkit kembali dari penurunan pada sesi sebelumnya menyusul komentar hawkish Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang suku bunga,” tulis laporan itu.
Di sisi lain, investor juga fokus pada imbal hasil Treasury, yang sedikit turun dari level tertingginya dalam 16 tahun. Serta kebijakan moneter apakah The Fed akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi atau kapan bank sentral dapat mulai menurunkan suku bunganya.
“Suku bunga telah sedikit berubah di sini dan saya pikir itulah salah satu alasan kita melihat kenaikan ini selama beberapa minggu terakhir,” kata CEO Horizon Investment, Chuck Carlson.
Lebih lanjut, pada minggu ini, investor akan fokus kepada laporan indeks harga konsumen atau inflasi serta rilis data harga produsen dan penjualan ritel.
“Secara umum, ekspektasi yang dimiliki investor adalah bahwa data inflasi yang akan datang akan berdampak positif bagi pasar dan saya pikir mereka ingin sedikit lebih maju,” kata Partner Cherry Lane Investments, Rick Meckler.
Adapun, saham-saham Wall Street yang naik dalam sepekan melebihi jumlah yang turun dengan rasio 2,7 banding 1 di NYSE. Ada 70 titik tertinggi baru dan 152 titik terendah baru di NYSE.
DIPREDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Senin (13/11). Selama sepekan kemarin, IHSG menguat 0,3 persen ke level 6.809,263 dari 6.788,850 pada penutupan pekan sebelumnya.
Retail Equity Research KB Valbury Sekuritas, Andrian Alamsyah, memperkirakan secara teknikal IHSG nampak masih kesulitan untuk dapat bertahan di atas EMA200 sebagai resistance-nya atau di level 6857 untuk pekan depan.
“Support IHSG saat ini terdekat pada level 6.740-6.780. Pada pekan depan, pergerakan IHSG akan didorong oleh sentimen global dan domestik,” kata Andrian, Senin (13/11).
Dari Amerika Serikat (AS), sentimen IHSG didorong dari rilis data inflasi, data penjualan retail dan data perizinan bangunan periode Oktober. Sedangkan dari dalam negeri, akan ada rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Rabu (15/11) nanti.
“Menurut konsensus, surplus NPI diperkirakan akan turun ke USD 3,3 miliar pada bulan Oktober 2023,” ujarnya.
Sementara itu, tim analis MNC Sekuritas memprediksi selama IHSG belum mampu menembus area resistance terdekatnya di 6.887, hal ini menunjukkan IHSG masih rawan berbalik terkoreksi untuk menguji 6.734 terlebih dahulu.
“Apabila IHSG masih mampu bergerak di atas 6,639 sebagai supportnya, maka IHSG masih berpeluang bergerak menguat untuk menguji kembali rentang area 6.881-6.938,” tulis MNC Sekuritas dalam risetnya.
MNC Sekuritas merekomendasikan sederet saham, yaitu ADMR, ADRO, ANTM dan SMGR.
- ADMR – Buy on Weakness
Buy on Weakness: 1.105-1.170
Target Price: 1.255, 1.375
Stop loss: below 1.060
- ADRO – Buy on Weakness
Buy on Weakness: 2.430-2.460
Target Price: 2.610, 2.750
Stop loss: below 2.380
- ANTM – Buy on Weakness
Buy on Weakness: 1.570-1.625
Target Price: 1.735, 1.840
Stop loss: below 1.535
- SMGR – Buy on Weakness
Buy on Weakness: 6.100-6.250
Target Price: 6.500, 6.750