Pada perdagangan Selasa (17/1/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup variatif. Dow turun tajam karena pendapatan Goldman Sachs menyeret indeks lebih rendah, namun lonjakan saham Tesla membantu Nasdaq naik karena pendapatan perusahaan menjadi sorotan.
Mengutip Reuters, Rabu (18/1), Dow Jones Industrial Average turun 391,39 poin atau 1,14 persen menjadi 33.911,22. S&P 500 kehilangan 8,14 poin atau 0,2 persen menjadi 3.990,95, dan Nasdaq Composite naik 15,96 poin atau 0,14 persen menjadi 11.095,11.
Lonjakan saham Tesla mampu menjaga Nasdaq tetap bertahan setelah memotong harga pada penjualan model terlaris, berdasarkan data China Merchants Bank International.
Kenaikan Tesla Inc (TSLA.O) usai penjualan kendaraan listrik yang naik di China membantu saham tetap tumbuh, namun kapitalisasi yang kecil serta nilai saham yang turun karena potensi resesi meresahkan bagi para investor.
Kepala Strategi Pasar Ameriprise Financial Anthony Saglimbene, mengatakan analis ingin mengetahui permintaan di perusahaan Amerika di tengah tren kenaikan ekonomi.
“Pendapatan diperkirakan menurun lebih tajam saat awal musim pendapatan, sehingga ada potensi perusahaan melewati titik yang sangat rendah,” kata Saglimbene.
“Jika permintaan masih relatif baik, ini melebihi ekspektasi karena analis berpikir laba turun begitu banyak,” tambahnya.
Data menunjukkan manufaktur negara bagian New York terkontraksi tajam pada Januari karena permintaan anjlok dan tidak ada pertumbuhan tenaga kerja, yang menunjukkan pelemahan aktivitas pabrik dan memicu kekhawatiran resesi.
Pelaku pasar mengharapkan kenaikan suku bunga 25 basis poin dari bank sentral AS pada 1 Februari dan suku bunga 4,9 persen pada bulan Juni, lalu turun. The Fed memprediksi suku bunga di posisi lebih dari 5 persen di tahun depan.
DIPREDIKSI MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (18/1). Pada perdagangan Selasa (17/1), IHSG ditutup menguat 79,28 poin (1,19 persen) ke level 6.767,34.
CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya. memprediksi perkembangan pergerakan IHSG saat ini terlihat masih memiliki kecenderungan menguat dalam jangka pendek dan telah berhasil menggeser rentang konsolidasi ke arah yang lebih baik.
“Namun momentum koreksi wajar masih dapat terus dimanfaatkan oleh investor baik jangka pendek, menengah maupun panjang, untuk melakukan trading ataupun investasi jangka pendek. Hari ini IHSG berpotensi menguat terbatas,” kata William dalam analisisnya, dikutip Rabu (18/1).
William memperkirakan IHSG berada di rentang 6.654-6.789. Saham yang direkomendasikan William meliputi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Mandiri (Persero) (BMRI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Sementara, tim riset Bina Artha memprediksi IHSG hari ini akan dapat mengalami koreksi jangka pendek dan akan menguji support minor di level 6.725.
“Level support IHSG berada di 6.991, 6.628 dan 6.558, sementara level resistennya di 6.800, 6.871 dan 6.968. Berdasarkan indikator MACD menunjukkan sinyal golden cross,” kata Analis Bina Artha, Ivan Rosanova.
Analis Phintraco Sekuritas Alrich, Paskalis Tambolang, memperkirakan hari ini IHSG berpotensi uji resistance di level 6.800. Menurutnya, hal itu sejalan dengan pelebaran positive slope MACD pasca golden cross diiringi Stochastic RSI yang cenderung bergerak naik dari oversold area.
“Dari eksternal, pertumbuhan GDP Tiongkok sebesar 2,9 persen yoy pada Q4 2022, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 1,8 persen yoy. Sedangkan, penjualan ritel Tiongkok turun sebesar 1,8 persen yoy di Desember 2022. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan perkiraan turun sebesar 8.6 persen yoy,” kata Alrich.
Sentimen lainnya, lanjut dia, The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps di Februari 2023. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19 Januari 2023. Perkiraan itu menurutnya berpotensi memicu rebound saham-saham rate-sensitive, terutama bank menjelang RDG BI.
“Oleh sebab itu, saham perbankan dengan potensi penguatan lanjutan dapat diperhatikan seperti BBNI, BBRI, BMRI, BBCA dan BRIS. Selain saham perbankan, perhatikan ELSA, INDF dan MAPI,” tutur Alrich.