Dibayangi Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga, Wall Street Diprediksi Tertekan

Pada pekan lalu, pergerakan bursa saham AS diikuti oleh data ekonomi yang menunjukkan inflasi tinggi hingga pasar kerja yang ketat serta ketahanan belanja konsumen. Karenanya, Wall Street diprediksi akan mengalami tekanan.

Kondisi tersebut memberi The Fed lebih banyak kesempatan untuk menaikkan biaya pinjaman. Goldman Sachs dan Bank of America, memperkirakan suku bunga akan naik tiga kali tahun ini dengan masing-masing seperempat persentase poin, meningkat dari perkiraan sebelumnya.

“Awan gelap melintas di pasar saham dalam dua minggu terakhir, berdasarkan watermark lebih tinggi untuk suku bunga transaksi antar bank (Fed Fund Rate),” kata CEO Longbow Asset Management Oklahoma Jake Dollarhide.

“Jumlah pekerjaan tidak menunjukkan pelemahan, dan sulit memasuki resesi dengan pasar tenaga kerja yang kuat di saat bersamaan. Itu berarti Fed dapat menekan tombol dan menaikkan suku bunga,” tambahnya.

Menambah kekhawatiran soal kebijakan moneter, Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan bank sentral terus menaikkan suku bunga sampai ada progres untuk mengatasi inflasi.

Presiden Fed Richmond Thomas Barkin, menyebut bank sentral masih perlu menaikkan suku bunga, namun bisa bertahan dengan kenaikan seperempat poin.

Adapun Indeks saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (17/2). S&P 500 berakhir lebih rendah akibat tertekan oleh Microsoft dan Nvidia.

Investor khawatir inflasi dan ekonomi AS yang kuat menyeret Federal Reserve mempercepat kenaikan suku bunga.

Mengutip Reuters, Senin (20/2), S&P 500 turun 0,28 persen di 4.079,09 poin. Nasdaq turun 0,58 persen menjadi 11.787,27 poin, sementara Dow Jones Industrial AVerage naik 0,39 persen menjadi 33.626,69 poin.

Pada pekan ini, S&P 500 turun 0,3 persen, Dow kehilangan 0,1 persen dan Nasdaq naik 0,6 persen. S&P 500 melonjak sekitar 6 persen sejauh ini tahun 2023, sedangkan Nasdaq kembali naik 13 persen usai kerugian besar tahun lalu.

JUGA DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Senin (20/2). Pada perdagangan Jumat (17/2), IHSG berakhir di zona hijau atau naik tipis 0,050 poin (0,00072 persen) ke 6.895,7.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan bahwa pola gerak IHSG hingga saat ini masih menunjukkan pola sideways. Kondisi ini masih dibayangi oleh potensi tekanan di tengah rilis data kinerja emiten secara full year 2022.

“Sampai dengan saat ini belum terlihat adanya capital inflow yang mengalir deras masuk ke dalam pasar modal kita,” terang William dalam prediksinya, Senin (20/2).

Menurutnya, peluang terjadinya tekanan jangka pendek juga masih terbuka. Namun, momentum koreksi dapat terus dimanfaatkan untuk melakukan pembelian dengan target investasi jangka menengah hingga panjang.

“Hari ini IHSG berpotensi terkonsolidasi,” tegas dia.

Adapun IHSG akan berada dalam tentang 6.852-6.988. Saham yang direkomendasikan William adalah AALI, BMRI, ASII, BBCA, ICBP, ASRI, JSMR dan HMSP.

Sementara itu, MNC Sekuritas Daily Scope Wave memperkirakan support IHSG di posisi 6.803 dan 6.767. Kemudian, resistance berada di level 6.961 dan 7.053

“IHSG ditutup menguat tipis ke 6.895 pada perdagangan akhir pekan kemarin (17/2) dan masih bergerak di atas MA20,” tulis MNC Sekuritas.

Mereka melihat apabila IHSG belum mampu break resistance di 6.961, maka posisi IHSG masih berada pada bagian dari wave [ii] dari wave C. Hal ini akan membuat IHSG menuju ke 6.712-6.800, terlebih bila break 6.803.

Best case, apabila mampu break resistance maka label merah akan berlaku dan IHSG akan menguat ke 7.064-7.184,” pungkasnya.

Berikut adalah rekomendasi saham menurut Tim MNC Sekuritas:

AUTO: Buy on Weakness

AUTO ditutup flat di 1,415 pada perdagangan Jumat (17/2) disertai dengan munculnya volume penjualan. Mereka memperkirakan, posisi AUTO saat ini sedang berada di awal wave 5 dari wave (C), sehingga AUTO masih berpeluang melanjutkan penguatannya.

Buy on Weakness: 1.380-1.405 Target Price: 1.470 dan 1.555 Stoploss: below 1.350

BEST: Buy on Weakness

BEST ditutup terkoreksi 2,1 persen ke 143 pada perdagangan Jumat (17/2). Posisi BEST saat ini diperkirakan sedang berada pada bagian dari wave 2 dari wave (3), sehingga BEST masih rawan untuk melanjutkan koreksinya terlebih dahulu.

Buy on Weakness: 135-140 Target Price: 150 dan 160 Stoploss: below 128

INDY: Spec Buy

INDY ditutup menguat 0,4 persen ke 2.270 dan masih didominasi oleh munculnya volume pembelian. Selama INDY masih bergerak di atas 2.200 sebagai stoplossnya, maka posisi INDY saat ini sedang berada di awal wave (B) dari wave [B].

Spec Buy: 2.230-2.270 Target Price: 2.490 dan 2.670 Stoploss: below 2.200

MARK: Spec Buy

MARK ditutup menguat 0,8 persen ke 595, pergerakan MARK pun masih disertai oleh volume pembelian namun posisi MARK masih konsolidasi. Selama MARK masih mampu bertahan di atas 560 sebagai stoplossnya, maka posisi MARK saat ini sedang berada pada awal dari wave [iii] dari wave C.

Spec Buy: 580-595 Target Price: 640 dan 690 Stoploss: below 560

 

Leave a Comment