Tahun ajaran baru 2020 sudah dimulai. Sebagian daerah sudah membuka sistem pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol covid, dan sebagian lagi tetap memiliki melaksanakannya secara daring (dalam jaringan). Apakah pembelajaran dilakukan dengan sistem tatap muka atau tidak, orang tua tetap harus menyediakan sejumlah kelengkapan belajar anak. Nah, di tengah pandemi dan penerapan new normal saat ini, tentunya anda juga harus belajar mengelola keuangan untuk belanja kebutuhan sekolah putra-putri anda.
Bahkan, sekalipun sistem tatap muka dibuka, banyak orang tua yang meragukan kalau sistem ini tidak akan bertahan lama. Memang, banyak hal yang tidak pasti akibat pandemi ini. Bagaimana kita berbelanja jika kita tidak tahu bagaimana sistem pembelajarannya? Seperti apakah jadwal belajar-mengajar mereka? Apakah anak masih membutuhkan tas baru, atau sepatu baru? Bagaimana dengan seragam sekolah? Sejumlah pertanyaan muncul di benak para orang tua, terutama mereka yang anaknya memasuki jenjang baru tahun ini.
Belanja Kebutuhan Sekolah: Dilema Bagi Orang Tua
Keraguan konsumen tersebut sangat dimengerti. Satu hal yang pasti hanyalah bahwa tahun ajaran baru telah dimulai, apapun bentuknya. Anak-anak kita memerlukan kebutuhan belajar. Banyak yang harus disiapkan, dan banyak pertanyaan yang harus dijawab. Di sinilah pentingnya strategi bagi orang tua saat belanja kebutuhan sekolah. Sebuah survey yang dilakukan di Amerika Serikat oleh FinanceBuzz terhadap lebih dari 1000 orang tua menemukan bahwa:
- 1 dari 3 orang tua berencana berbelanja lebih sedikit untuk keperluan sekolah dibanding tahun lalu;
- Permintaan terhadap alat pelindung diri dari covid-19 semakin meningkat: 74% orang tua berencana membeli hand sanitizer, dan 73% berencana membeli masker wajah;
- 16% orang tua berencana berbelanja langsung di toko tahun ini, sedangkan 22% berencana berbelanja hanya secara online. Namun, lebih banyak yang memilih campuran, yakni 59%, berencana membeli kebutuhan sekolah langsung di toko offline dan toko online;
- Hanya 16% orang tua yang berencana berbelanja di toko lokal
- Harga (76%), ketersediaan produk (63%), dan layanan gratis ongkos kirim (46%) adalah pertimbangan utama saat memilih toko untuk berbelanja. Hanya 16% orang tua yang menganggap kalau faktor politik perusahaan berperan dalam menentukan di mana akan berbelanja. Sementara itu, 14% orang tua memilih berbelanja di toko lokal karena ingin mendukung kelompok minoritas.
Survey yang sama juga menemukan bahwa anggaran yang dikeluarkan orang tua untuk belanja kebutuhan sekolah tahun ini cenderung berkurang atau setidaknya sama. Sepertiga (33%) orang tua mengatakan akan berbelanja lebih sedikit, dan hanya 20% yang memperkirakan kalau mereka akan berbelanja lebih banyak dibanding tahun lalu. Berkurangnya anggaran untuk belanja kebutuhan sekolah mungkin mencerminkan realita bahwa kebutuhan untuk barang-barang yang cenderung mahal seperti baju baru, sepatu baru, atau tas baru, mengalami pengurangan. Selain itu, barang-barang yang biasa digunakan di kelas, seperti penghapus, spidol dan sebagainya, tidak lagi diperlukan.
Belanja Kebutuhan Sekolah: Trend Baru
Namun, orang tua juga harus mengalokasikan anggaran untuk membeli barang-barang baru, yang tidak ada pada daftar belanjaan tahun lalu. Di antaranya adalah hand sanitizer, masker wajah, atau face shield. Tahun ini, hampir tiga perempat (74%) orang tua mengatakan akan memasukkan hand sanitizer di dalam daftar belanja kebutuhan sekolah, dan 64% berencana membeli tisu disinfektan. Karena semua siswa harus mengenakan masker wajah, 73% orang tua berencana membeli masker wajah untuk anak-anak mereka.
Trend baru yang terlihat dalam daftar belanjaan orang tua tahun ini adalah kebutuhan untuk at-home learning atau belajar dari rumah. Sebagian orang tua berencana membeli alat elektronik untuk kebutuhan belajar anak di rumah. Karena sebagian besar sekolah menyelenggarakan pembelajaran secara virtual, sebagian orang tua mungkin merasa perlu membeli ponsel, tablet, atau bahkan laptop baru. Meski demikian, survey di atas menemukan hanya 1 dari 3 orang tua yang merasa perlu membeli peralatan elektronik baru tahun ini.
Masalahnya, banyak orang tua yang merasa harus menghemat uang tahun ini. Banyak yang menunggu keputusan dari pihak sekolah. Bisa saja perlengkapan tersebut disediakan oleh sekolah. Jika diperlukan nanti, mereka akan membelinya. Lagipula, laptop tidak akan berguna jika tidak ada jaringan internet, baik Wi-Fi, atau Ethernet. Masalahnya adalah banyak keluarga yang tidak bisa mengakses internet di luar sekolah. Menurut survey tersebut, 1 dari 5 orang tua mengatakan bahwa anak-anak mereka harus menggunakan Wi-Fi publik untuk menyelesaikan tugas sekolah karena mereka tidak memiliki jaringan internet yang bagus di rumah.
Untuk menyelesaikan masalah ini, banyak sekolah dan instansi pemerintah yang sengaja menyediakan Wi-Fi untuk masyarakat sekaitarnya. Dengan kata lain, peralatan konektivitas sepertinya belum masuk pada daftar belanja kebutuhan sekolah oleh orang tua tahun ini. Meski demikian, orang tua harus memastikan apa saja yang disediakan oleh sekolah agar bisa mengantisipasi untuk menyediakan sendiri kebutuhan lainnya.
Tagged With : Aneka Bisnis • Bentuk-bentuk Bisnis
