Ancaman Tarif AS ke China Picu Kejatuhan Tajam di Wall Street, Nasdaq Anjlok 3,56 Persen

  • Konteks Perdagangan Jumat (10/10):
    Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berakhir di zona merah tajam pada akhir pekan, Jumat (10/10). Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam akan mengenakan tarif baru terhadap impor dari China. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang jilid baru antara dua ekonomi terbesar dunia.

  • Kinerja Tiga Indeks Utama:
    Berdasarkan data Reuters, Senin (13/10), ketiga indeks utama mengalami penurunan signifikan:

    • Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 1,90 persen,

    • S&P 500 (.SPX) merosot 2,71 persen,

    • Nasdaq Composite (.IXIC) anjlok paling dalam, 3,56 persen.
      Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak 10 April untuk S&P 500 dan Nasdaq, menunjukkan adanya tekanan kuat di sektor teknologi dan saham berisiko tinggi.

  • Sebelum Kejatuhan: Rekor Baru Tercipta
    Sebelumnya, pada Kamis (9/10), indeks S&P 500 dan Nasdaq sempat mencatat rekor tertinggi baru.

    • S&P 500 naik sekitar 11 persen sepanjang 2025,

    • Nasdaq menguat 15 persen,

    • Dow Jones meningkat 7 persen sejak awal tahun.
      Namun, euforia tersebut sirna setelah ancaman tarif Trump memunculkan gelombang kekhawatiran baru di pasar.

  • Kepanikan Investor dan Aksi Jual Besar-besaran (Sell Off):
    Investor langsung melakukan aksi jual besar-besaran (sell off) terhadap saham berkapitalisasi besar, terutama saham-saham teknologi yang sebelumnya memimpin reli pasar.
    Saham Nvidia (NVDA.O), Tesla (TSLA.O), Amazon.com (AMZN.O), dan Advanced Micro Devices (AMD.O) masing-masing turun lebih dari 2 persen.
    Para analis menilai bahwa valuasi saham yang sudah sangat tinggi menjadi rentan terhadap guncangan geopolitik.

  • Faktor Pemicu Utama: Kebijakan Tarif Trump:
    Pada malam hari setelah penutupan bursa, Trump secara resmi mengumumkan akan menerapkan tarif tambahan 100 persen terhadap impor China mulai 1 November 2025.
    Langkah ini menambah ketegangan hubungan dagang kedua negara dan menimbulkan spekulasi mengenai respon balasan dari Beijing.

  • Pandangan Para Ekonom dan Analis:

    • Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, memperingatkan risiko koreksi besar dalam enam bulan hingga dua tahun ke depan.

    • Gene Goldman, Chief Investment Officer di Cetera Investment Management, menilai bahwa valuasi saham yang terlalu tinggi membuat pasar mudah terguncang oleh ketidakpastian.
      Ia menyebut, “Segalanya sudah dihargai terlalu sempurna, sehingga ketidakpastian kecil pun dapat menimbulkan kepanikan.”

  • Kilas Balik: Dampak “Liberation Day Tariff” pada April 2025:
    Saat itu, kebijakan mendadak Trump juga membuat investor panik. Dalam waktu singkat, perusahaan-perusahaan di indeks S&P 500 kehilangan nilai pasar gabungan sekitar USD 2,4 triliun, menandakan betapa sensitifnya pasar terhadap isu tarif.

  • Prospek ke Depan:
    Meski pasar sedang tertekan, sejumlah analis seperti James St. Aubin dari Ocean Park Asset Management menilai ketegangan dagang ini tidak akan menggagalkan tren positif di sektor AI yang masih menjadi pendorong utama pasar saham AS.
    Ia menyatakan, “Ini memang isu penting dan bisa memicu koreksi, tapi tidak akan menghentikan tren teknologi yang mendasari kenaikan pasar selama ini.”


Dengan demikian, penurunan tajam Wall Street pada Jumat (10/10) mencerminkan betapa sensitifnya sentimen pasar terhadap gejolak politik dan kebijakan tarif AS-China, terutama di tengah valuasi saham yang sudah tinggi dan dominasi sektor teknologi.

Leave a Comment