Pada penutupan perdagangan Rabu (7/12/2022), indeks saham Amerika Serikat, Wall Street, mengalami penurunan. Hal itu dinilai imbas spekulasi investor terkait arah pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) ke perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, Kamis (8/12), S&P 500 (.SPX) kehilangan 7,34 poin atau 0,19 persen menjadi 3.933,92. Nasdaq Composite (.IXIC) turun 56,34 poin atau 0,51 persen menjadi 10.958,55. Dow Jones Industrial Average (.DJI) datar, berakhir pada 33.597,92.
Ini adalah penurunan S&P 500 (.SPX) selama sesi kelima berturut-turut. Sedangkan Nasdaq (.IXIC) berakhir turun untuk keempat kalinya berturut-turut. Dow Jones menghentikan penurunan beruntun dua sesi, karena berakhir tidak berubah dari hari sebelumnya.
Kekhawatiran tentang kenaikan tajam dalam biaya pinjaman telah mendorong kenaikan dolar, tetapi merusak permintaan untuk aset berisiko seperti ekuitas tahun ini.
Pasar saham juga telah diguncang oleh komentar suram dari eksekutif puncak di Goldman Sachs Group Inc (GS.N), JPMorgan Chase & Co (JPM.N) dan Bank of America Corp (BAC.N) pada hari Selasa bahwa resesi ringan hingga lebih parah kemungkinan besar berada di depan.
Kekhawatiran bahwa bank sentral AS mungkin mempertahankan siklus kenaikan suku bunga yang lebih lama telah meningkat baru-baru ini setelah laporan pekerjaan dan sektor jasa yang kuat.
Pelaku pasar uang melihat peluang 91 persen bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan utamanya sebesar 50 basis poin pada bulan Desember menjadi 4,25 persen hingga 4,50 persen, dengan suku bunga memuncak pada Mei 2023 sebesar 4,93 persen.
Volume di bursa AS adalah 10,29 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,98 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.
DIPREDIKSI MELEMAH
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Kamis (8/12). Pada perdagangan hari Rabu (7/12), IHSG ditutup melemah 1.07 persen di level 6818.752.
Analis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, memperkirakan IHSG melemah di level support IHSG berada di 6.803, 6735 dan 6.679. Sementara level resistennya di 6.896, 6.956 dan 7.000.
“Berdasarkan indikator MACD mengindikasikan momentum bearish,” kata Ivan dalam risetnya, Kamis (8/12).
Ivan merekomendasikan BBCA untuk dibeli. Menurut dia, BBCA menghadapi suatu support di level 8400 yang dibentuk oleh Fibonacci retracement 78.6 persen dari wave dan diperkirakan akan rebound apabila harga tidak menembus ke bawah level tersebut.
“Trading buy pada rentang harga 8400-8450 dengan target harga terdekat di 8650,” sambung Ivan.
Di sisi lain, Ivan juga merekomendasikan untuk hold ANTM. Sebab, ANTM diperkirakan meneruskan pembentukan wave pada skenario pola koreksi triangle dari wave B untuk menguji zona support 1825-1860.
“Hold atau accumulative buy pada rentang harga 1860-1890 dengan target harga terdekat di 1990,” terang dia.
Serupa, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan, perkembangan pola gerak IHSG terlihat masih berada dalam tekanan yang masih tergolong besar di tengah kuatnya fundametal perekonomian Indonesia.
“Sehingga momentum tekanan masih dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi pembelian saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi,” jelas William.
Saham yang direkomendasikan William di antaranya ITMG, JSMR, CTRA, GGRM, AKRA, BBNI, dan LSIP.