Krisis perbankan Amerika Serikat pada akhir bulan lalu mengungkap suatu fakta yang unik: Simpanan dan deposito nasabah di bank-bank AS menurun sejak kuartal kedua tahun 2022, dan bahkan anjlok sampai 5 persen (Year-on-Year) pada kuartal keempat. Rentang waktu itu bertepatan dengan langkah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya.
Bank-bank berskala lebih kecil mengalami penarikan dana nasabah paling besar. Termasuk diantaranya, Silicon Valley Bank yang kemudian terpaksa gulung tikar akibat kekurangan likuiditas.

Mengapa nasabah di bank-bank AS malah menarik dananya ketika bank sentral menaikkan suku bunga? Bukankah bunga bank yang lebih besar malah semestinya mendorong lebih banyak orang menabung di bank? Untuk memahami situasi ini, pertama-tama kita harus meninjau situasi makro dan lingkungan investasi Amerika Serikat.
Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sejak tahun 2022 demi menekan laju inflasi yang terlalu tinggi. Namun, efek kenaikan suku bunga terhadap inflasi itu butuh waktu lama. Sebelum efeknya terasa, masyarakat umum harus menghadapi situasi harga-harga yang lebih mahal dan bunga yang jauh lebih tinggi sekaligus. Akibatnya, banyak orang harus menarik simpanan dan deposito mereka demi memenuhi standar hidup yang sama dengan periode sebelum kenaikan suku bunga The Fed.
Kenaikan suku bunga dan inflasi yang tinggi juga mendorong makin banyak perusahaan melakukan PHK atau mendesak karyawannya untuk pensiun dini. Mereka yang menjadi pengangguran dadakan mungkin harus menarik simpanan dari bank untuk memenuhi kebutuhan hingga memperoleh pekerjaan lagi.
Di sisi lain, warga AS yang berkecukupan belum tentu menganggap deposito bank sebagai tempat investasi yang baik. Data dari Bank of America menunjukkan bahwa sekitar USD508 miliar dari dana yang ditarik dari bank-bank sejak Januari itu masuk ke reksa dana pasar uang, serta USD60 miliar mengalir ke aset-aset investasi lain.
Reksa dana pasar uang merupakan wahana investasi berbasis sekuritas jangka pendek, termasuk diantaranya deposito bank. Hanya saja, reksa dana pasar uang di AS menawarkan tingkat keamanan yang lebih baik daripada deposito bank biasa.
Perlu diketahui, peraturan perbankan AS dan Indonesia memiliki banyak perbedaan. Bank-bank Indonesia wajib menjaminkan dana nasabah ke dalam Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sehingga simpanan maupun deposito nasabah relatif aman. AS juga memiliki lembaga seperti itu, tetapi bank-bank tidak wajib mengikutkan semua dana nasabahnya dalam program penjaminan. Akibatnya, banyak nasabah yang berisiko kehilangan seluruh dana mereka ketika bank mereka gulung tikar.
Akhir kata, kita dapat menyimpulkan adanya dua alasan mengapa deposito bank AS turun saat bunga meningkat. Pertama, nasabah perlu menarik dana dari bank untuk memenuhi kebutuhan. Kedua, nasabah mengetahui adanya banyak aset investasi lain yang lebih aman dan menguntungkan daripada rekening simpanan dan deposito bank biasa.
Tagged With : analisa fundamental • deposito