Praktek bullying di tempat kerja semakin berkembang di era sistem kerja jarak jauh, seiring dengan perkembangan teknologi yang membuka jalan-jalan baru untuk perilaku yang tidak baik. Dalam sebuah wawancara dengan media online, seorang wanita (sebut saja) Joyce, berbagai cerita tentang bagaimana terjadinya byllying di tempat kerja yang bersifat hybrid. Awalnya, Joyce tidak menyadari bahwa yang terjadi di kantornya adalah bullying. Perusahaannya menerapkan sistem kerja jarak jauh selama beberapa tahun, dan ia tidak merasakan ancaman fisik dari teman-teman kerjanya. “Saya benar-benar tidak berfikir tentang itu,” ucapnya. Dalam fikiran saya masih tertanam pandangan tradisional tentang bullying, bahwa praktek ini hanya terjadi pada orang yang saling berhadapan.
Fenomena Bullying di Tempat Kerja: Contoh Kasus
Seiring waktu, muncul sebuah perasaan bahwa bossnya (yang masih baru di perusahaan) terus-menerus berusaha mengasingkannya dengan cara yang tidak nyaman. Misalnya, konteks bisa di group email, di mana ketika Joyce berkata sesuatu, maka bossnya kata akan berkata lain. Atau terkadang, Joyce diperintahkan mengikuti Zoom meeting tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kejadian-kejadian tertentu terkadang terlihat kecil jika dilihat satu-satu. Suatu hari, bossnya mengganti password semua akun media sosial perusahaan, sehingga Joyce tidak lagi memiliki akses terhadap akun-akun tersebut. Di lain hari, Joyce menerima email yang memperingatkan agar ia tidak menentang ide-ide dari bossnya.

Kejadian demi kejadian berlangsung dan menumpuk. Meskipun sudah bekerja selama beberapa tahun di perusahaan tersebut, Joyce bukannya semakin cinta kepada perusahaan. Dalam waktu 6 bulan saja, ia mulai berfikir untuk mengundurkan diri. Bagi Joyce, pengalaman seperti ini cukup traumatis, karena memainkan perasaannya. Ia merasa sangat sedih karenanya.
Tentunya, bullying bukanlah isu baru di lingkungan kerja. Perilaku bullying mencakup aspek yang sangat luas, terutama terkait dengan pekerjaan yang melibatkan kontak antara beberapa orang. Skenario yang biasa anda lihat mungkin seperti boss yang bersikap mendominasi dan secara terang-terangan mencaci maki bawahannya. Contoh lainnya yang populer adalah ketika sekelompok karyawan meninggalkan kantor dan makan siang bersama dengan bahagia, sementara satu lagi sengaja ditinggalkan.
Bagi sebagian karyawan, sistem kerja jarak jauh membuat mereka lepas dari tekanan bullying di tempat kerja, dalam arti konvensional, karena mereka dijauhkan dari stress karena menghadapi kondisi-kondisi di atas setiap hari. Namun, banyak bukti menunjukkan bahwa ketika banyak perusahaan yang beralih ke sistem kerja hybrid, bullying di tempat kerja bukannya berhenti, namun semakin berkembang dengan cara yang berbeda. Hal ini dipicu oleh perkembangan teknologi yang menyebabkan terbukanya cara-cara bullying baru.
Model Baru Bullying di Tempat Kerja Hybrid
Remote bullying bukanlah sebuah fenomena yang benar-benar baru. Sejumlah data menunjukkan bahwa isu ini sudah ada bahkan sebelum banyak perusahaan yang beralih ke sistem kerja jarak jauh. Sebuah studi yang dilakukan di bulan Januari Tahun 2020 oleh CIPD menunjukkan bahwa 10% pekerjaan melaporkan diri mereka di-bully melalui email, telepon, atau media sosial. Salah satu penasehat di CIPD bernama Rachel Suff melaporkan bahwa mereka telah melihat banyak kejadian bullying di tempat kerja yang tidak terjadi secara fisik.
Ekspansi ke remote bullying tidaklah begitu mengherankan bagi Suff. Ia percaya banyak saluran digital yang memberikan peluang terjadinya bullying jarak jauh. Trend ini berkembang semakin cepat selama pandemi. Sebuah survey di tahun 2021 oleh The Workplace Bullying Institute menunjukkan bahwa 43% dari 1.215 karyawan yang disurvey melaporkan bahwa mereka pernah mengalami bullying di tempat kerja. Sebagian besar kasus bullying terjadi melalui video call dan email. Sekitar seperempat responden menyimpulkan bahwa sistem kerja jarak jauh selama pandemi Covid-19 memberi peluang lebih banyak bagi sesama rekan kerja untuk saling mem-bully.
Di United Kingdom pada Tahun 2022, jumlah kasus bullying yang masuk ke Employment Tribunal mencapai angka tertinggal, naik sebesar 44% dibanding tahun sebelumnya. Kasus yang terbanyak dilaporkan adalah potongan-potongan pernyataan di video calls, meninggalkan teman kerja secara tiba-tiba saat melakukan pertemuan digital, dan penggunaan aplikasi pesan singkat untuk bergosip ketika ada rekan kerja yang sedang presentasi.
Pada kasus Joyce di atas, media kerjasama digital ikut memfasilitasi sejumlah kasus bullying yang dia alami dari boss. Di satu sore setelah jam kerja usai, Joyce menerima pesan yang memintanya untuk segera bergabung di video call. Saat berkomunikasi di video call, bossnya memintanya membuka email baru dan mengejutkan. Email tersebut berisi surat tertulis resmi dari bossnya, yang kemudian dibacakan keras-keras oleh bossnya. Hal itu membuat Joyce ingin mengakhiri pembicaraan melalui video call tersebut. “Mengapa ia harus melakukan itu secara dramatis dan begitu menikmati ekspresi wajah saya?” Ucap Joyce.
Ternyata kasus-kasus bullying di tempat kerja tidak berhenti setelah banyaknya perusahaan yang beralih ke sistem kerja jarak jauh. Yang terjadi justru sebaliknya, metode bullying ikut berkembang sesuai teknologi yang digunakan. Dapatkan pembahasannya secara lebih lanjut pada post berikutnya.
Tagged With : manajemen bisnis • Manajemen Usaha