Otto Toto Sugiri dan Bisnis Data Center di Indonesia – Part 2

Pada post sebelumnya dibahas tentang kisah awal berkembangnya bisnis teknologi di Indonesia dan pengembangan perusahaan data center yang dirintis Otto Toto Sugiri.  Bisnis teknologi juga telah membawanya masuk ke daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun ini. Saham perusahaan DCI yang dirintisnya bersama 6 pendiri lainnya naik bak meteor. Bahkan, bursa efek Indonesia sempat menahan trading saham DCI sebanyak lima kali selama tahun ini.

Bahkan, pihak bursa efek sempat mencurigai perusahaan dan para pemegang sahamnya melakukan sesuatu yang salah, sehingga mereka melakukan investigasi pada bulan Juni tahun ini. Pihak bursa efek menolak memberi komentar tentang investigasi tersebut. Sugiri percaya bahwa kenaikan tersebut salah satunya disebabkan oleh tingginya permintaan investor.

Otto Toto Sugiri 2

Otto Toto Sugiri: Tentang Persaingan Bisnis Data Center

Keberhasilan DCI memicu persaingan tingkat tinggi. Pada bulan Mei, milyarder Theodore Rahmat dari Triputra Group mengatakan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan ST Telemedia asal Singapura dan Temasek untuk membangun data center online berkapasitas 72 megawatt hingga akhir tahun 2023. Pada bulan November, grup bisnis Sinar Masa, yang ditopang oleh keluarga Widjaya, mengumumkan bahwa mereka bekerja sama dengan Group 42 asal Abu Dhabi untuk membangun sebuah data center lokal berkapasitas 1.000 megawatt.

Grup bisnis ternama di Indonesia, Ciputra, juga telah menyatakan minat untuk memasuki bisnis data center Indonesia, namun perusahaan ini belum mengungkap rencananya secara spesifik. Perusahaan internasional dan domestik lainnya yang sudah terjun di pasar ini juga telah mengumumkan rencana pengembangan bisnis data center masing-masing. Otto Toto Sugiri tetap tidak bergeming dengan persaingan yang semakin tinggi ini. Data Menurutnya, data center di Indonesia akan semakin penting ketika perusahaan teknologi dan internet global semakin menyadari pentingnya koneksi dengan para penggunanya. DCI tetap menargetkan sebagai pemain terbesar di Indonesia, karena Indonesia adalah areanya.

Kiprah Otto Toto Sugiri dalam Industri Teknologi Indonesia

Sugiri bercermin dari pengalaman selama lebih dari 4 dekade di industri teknologi Indonesia. Setelah mendapatkan gelar sarjana di bidang teknik elektronika dan gelar master di bidang teknik komputer dari RWTH Aachen University Jerman, Otto Toto Sugiri kembali ke Indonesia pada Tahun 1980, awalnya untuk menjaga ibunya, yang meninggal tidak lama kemudian. Selanjutnya, ia tinggal di Indonesia dan mengerjakan sejumlah pekerjaan programming lokal, seperti membuat software rekayasa untuk perusahaan minyak atau merancang program untuk menangani distribusi pinjaman kepada nelayan di Papua. Ia bekerja untuk sebuah badan milik PBB.

Pada Tahun 1983, Sugiri bergabung dengan Bank Bali, yang dimiliki pamannya, Djaja Ramli.  Mereka mengembangan sistem IT untuk Bank Bali kala itu, mulai dari back office hingga akunting. Ia bekerja sama dengan beberapa departemen di bank untuk menghasilkan software, sehingga sistem kerja bank menjadi lebih efisien. Salah satu hal terbesar yang mereka capai adalah karyawan bank bisa pulang sebelum matahari terbenam. Sebelumnya, mereka hampir selalu bekerja hingga menjelang tengah malam, karena harus mengerjakan pembukuan secara manual.

Ia keluar dari Bank Bali dan merintis perusahaan software sendiri, yakni Sigma Cipta Caraka, dengan modal $200.000. Modal awal ini cukup untuk membayar gaji karyawan dan sewa kantor selama 10 bulan. Ia bekerja sama dengan enam mantan karyawan Bank Bali lainnya, termasuk Marina Budiman yang saat ini menjadi presiden komisioner di DCI. Waktunya tepat. Pemerintah baru saja memberlakukan deregulasi industri perbankan. Jumlah bank melonjak dari 111 pada tahun 1988 menjadi 240 pada Tahun 1994.  Bank-bank tersebut tentunya membutuhkan dukungan teknologi. Tidak lama kemudian, Sigma mendapatkan klien pertamanya. Dalam satu tahun pertama, perusahaan ini telah menghasilkan pendapatan senilai $1.2 juta.

Otto Toto Sugiri Optimis dengan Masa Depan DCI

Melalui kerjasamanya dengan Salim Group, ekspansi besar-besaran DCI sudah di depan mata. Di Pulau Bintan, DCI akan menangani sebuah data center untuk Salim Group. Mengingat lokasi pulau ini, data center berpotensi masuk ke pasar Singapura. Salim Group dikabarkan sedang melakukan pembicaraan dengan sejumlah bank untuk mengumpulkan modal senilai $500 juta untuk mendanai ekspensi bisnis ke data center.

Meskipun Singapura jauh lebih maju dibanding Indonesia dalam hal kapasitas data center. DCI memiliki peluang untuk mendapatkan segmen konsumen di daerah ini. Pada bulan Mei, Singapura mendaklarasikan moratorium sementara untuk menambah kapasitas data center di daerah ini, mengingat bahwa perkembangan industri secara cepat bisa mengancam ketersediaan lahan dan sumber daya di daerah ini.

Jadi, menurut Otto Toto Sugiri, Indonesia berpotensi sebagai hub regional. Teknologi yang baru seperti Internet of Things dan jaringan 5G akan memicu naiknya kebutuhan akan kapasitas dan tenaga pengolahan. Pembangunan dua kabel bawah laut, yang ditargetkan selesai tahun 2023 dan 2024, akan membantu menjalin konektivitas yang lebih luas antara Jakarta dengan pusat-pusat keuangan, seperti Singapura.

Tagged With :

Leave a Comment