Adakah saham-saham yang tahan banting di tengah krisis? Tentu ada. Banyak investor berpengalaman menyarankan agar berinvestasi pada saham defensif saja jika kita memiliki profil risiko konservatif atau menginginkan kinerja portofolio yang tidak mudah jatuh-bangun. Tapi, apa itu saham defensif?
Saham defensif adalah saham yang mampu memberikan dividen konsisten dan pendapatan yang stabil, sekalipun bursa saham jatuh atau sedang terjadi krisis ekonomi. Saham-saham yang masuk kategori ini biasanya berhubungan dengan kebutuhan pokok masyarakat secara mikro maupun makro.

Harga saham defensif tidak mudah bergejolak. Banyak diantaranya justru bullish ketika terjadi krisis. Seandainya harga saham defensif turun pada masa-masa krisis, penurunannya pun cenderung moderat atau tidak drastis. Berikut ini beberapa tanda emiten saham defensif:
- Perusahaan sudah mapan dan merupakan market leader di bidangnya.
- Perusahaan biasanya sudah berdiri selama belasan atau puluhan tahun dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar.
- Perusahaan mampu membagikan dividen secara konsisten selama satu dekade atau lebih.
- Pergerakan harga sahamnya tidak terlalu volatile dibandingkan perubahan indeks saham gabungan.
Saham BEI mana saja yang tergolong saham defensif? Ini dia lima bidang bisnis tangguh itu beserta beberapa contoh saham defensif.
- Utilitas: Sektor ini menangani penyediaan layanan seperti listrik, air, dan gas yang tentunya selalu dibutuhkan masyarakat. Sayangnya, perusahaan utilitas Indonesia rata-rata berpelat merah dan justru sering tekor demi menalangi upaya penanggulangan krisis. Konsekuensinya, saham sektor utilitas jarang berkinerja sebaik saham defensif lain.
- Kebutuhan Pokok: Meskipun sedang krisis, kita akan selalu memerlukan bahan makanan, perlengkapan mandi, dan sejenisnya. Inilah sebabnya mengapa saham-saham seperti Unilever Indonesia (UNVR), Mayora (MYOR), dan Ultra Jaya (ULTJ) tidak jatuh terlalu parah saat market tumbang pada Maret 2020. Saham-saham ini juga tetap membagikan dividen melimpah, sementara kinerja saham dari sektor lain malah negatif.
- Layanan Kesehatan: Kebutuhan terhadap layanan kesehatan boleh jadi justru meningkat di tengah krisis, khususnya selama masa pandemi saat ini. Alhasil, kinerja saham subsektor rumah sakit dan farmasi meningkat signifikan.
- Telekomunikasi: Meski tidak termasuk layanan utilitas, perangkat komunikasi seperti telepon dan koneksi internet juga sangat dibutuhkan dalam masyarakat modern. Pada saat pandemi saat ini, akses internet menjadi andalan karena memfasilitasi aktivitas Work From Home (WFH) yang menjadi alternatif pilihan banyak pihak. Pemain terbesar sektor telkom di Indonesia adalah Telkom Indonesia (TLKM).
Untuk meramu portofolio yang benar-benar tahan krisis, sebaiknya jangan berinvestasi pada saham dari salah satu sektor saja. Pilihlah 2-4 saham dari sektor berbeda-beda sesuai dengan prinsip-prinsip diversifikasi portofolio yang baik. Beli saham memakai uang dingin yang tidak dibutuhkan dalam jangka pendek agar investasi kita bisa memperoleh keuntungan dividen dalam jangka panjang.
Tagged With : investasi masa depan • saham