7 Perusahaan Migas Terbesar di Dunia yang Perlu Anda Tahu

Bagi trader dan investor yang memperdagangkan komoditi minyak dan gas (migas), ada banyak berita politik dan ekonomi yang perlu dipantau setiap hari. Termasuk diantaranya berita-berita dari perusahaan migas terbesar di dunia yang bisa jadi memengaruhi pergerakan harga di pasar global. Umpamanya jika mereka mengumumkan eksplorasi ladang minyak potensial, atau didapatkannya ijin pembukaan tambang baru, atau ditutupnya operasional selama beberapa waktu karena suatu sebab.

Perusahaan Migas Terbesar di Dunia yang Perlu Anda Tahu

Tak jarang, halangan produksi dan distribusi yang dialami oleh perusahaan migas terbesar di dunia tersebut akan berdampak luas. Jadi, penting sekali bagi Anda untuk mengetahui siapa saja key player di pasar minyak berdasarkan data terbaru yang dapat diakses tahun 2019 ini.

  1. Sinopec: Perusahaan BUMN China yang didirikan pada tahun 1998 ini memiliki pendapatan hingga USD377 Miliar pada tahun 2018. Ekspansi eksplorasi minyak di benua Afrika membuat Sinopec merebut posisi perusahaan migas terbesar di dunia dari tangan Aramco pada tahun 2019 ini.
  2. Saudi Aramco: Perusahaan BUMN Arab Saudi ini mengelola segmen hulu hingga hilir dalam industri migas di negerinya, tetapi memiliki sedikit andil di mancanegara. Pendapatannya pada tahun 2018 hanya selisih sedikit dari Sinopec, yakni sebesar USD355.9 Miliar.
  3. China National Petroleum (CNPC): CNPC sama-sama BUMN milik pemerintah China, tetapi didirikan lebih awal dibandingkan Sinopec dan lebih berfokus pada pengelolaan migas di dalam negeri China. Mereka berhasil meraup pendapatan USD324 Miliar pada tahun 2018. Anak usahanya, PetroChina, kini berkontribusi bagi dua pertiga output migas China.
  4. Royal Dutch Shell: Perusahaan migas swasta paling top di dunia ini bermula dari merger antara Royal Dutch Petroleum Company (Belanda) dan Shell Transport and Trading Company Ltd (Inggris) pada tahun 1907. Pada tahun 2018, pendapatannya mencapai USD322 Miliar, atau sekitar sepertiga dari GDP Belanda.
  5. BP: BP didirikan pada tahun 1909 sebagai perusahaan Anglo-Persia (Inggris-Iran) dan menjadi perusahaan pertama yang menggarap lahan kaya minyak di Laut Utara (North Sea). BP berekspansi dengan melakukan serangkaian merger dan akuisisi secara bertahap dari tahun ke tahun. Pendapatannya mencapai USD303.7 Miliar, sebagian besar diperoleh dari segmen hilir (pengilangan, produksi BBM, dan kimiawi).
  6. ExxonMobil: Orang Indonesia kemungkinan sudah familiar dengan nama perusahaan swasta asal Amerika Serikat ini, tetapi jarang yang tahu bahwa turunan dari perusahaan Standard Oil yang didirikan oleh raja minyak John D Rockefeller ini dulunya cuma bergerak dalam bidang pemasaran BBM regional. Pendapatannya pada tahun 2018 sudah mencapai USD241 Miliar.
  7. Total: Perusahaan swasta asal Prancis ini didirikan pada tahun 1924, dengan portofolio utamanya berpusat pada LNG. Peraih posisi ketujuh dalam tangga perusahaan migas terbesar di dunia ini meraup USD156 Miliar pada tahun 2018.
Baca Juga:   Saham Macam Apa yang Dibeli oleh Warren Buffett?

Selain ketujuh perusahaan migas raksasa itu, masih ada banyak sekali korporasi ternama di urutan kedelapan dan seterusnya. Secara berturut-turut, mereka adalah Valero (swasta, AS), Gazprom (BUMN, Rusia), Phillips66 (swasta, AS), Kuwait Petroleum Corp (BUMN, Kuwait), Lukoil (swasta, Rusia), Eni (swasta, Italia), Pemex (BUMN, Meksiko), Chevron Corporation (swasta, AS), dan National Iranian Oil Co (BUMN, Iran).

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar