5 Cara Bebaskan Diri dari Jerat Utang

Dalam situasi tertentu, utang adalah hal yang tak terhindarkan. Meski berutang berarti menambah beban, tetap saja itu dilakukan.

Misalnya ketika hendak membeli rumah. Saat ini beli rumah dengan cara kredit sudah menjadi kewajaran. Justru orang yang bisa beli rumah tunai dianggap luar biasa.

Kredit pemilikan rumah atau KPR pun ditawarkan dengan beragam fasilitas. Ada yang menerapkan bunga tetap hingga dua tahun. Ada pula yang memberikan syarat ringan.

Tak hanya bank konvensional, bank syariah pun memiliki program KPR. Bedanya adalah KPR bank syariah menerapkan prinsip utang-piutang yang didasari ajaran Islam.

Maka KPR pun banyak diserbu. Namun apakah dengan demikian utang adalah sesuatu yang lumrah? Teorinya tentu tidak begitu.

Sebisa mungkin utang mesti dihindari. Tak ada orang yang mau hidup dalam jerat cicilan dari bulan ke bulan.

Tapi, ketika sudah terpaksa mengambil utang, berarti kita mesti berkomitmen untuk melunasinya. Cara utamanya tentu menyisihkan penghasilan untuk membayar cicilan.

Di luar itu, ada beberapa cara membebaskan diri dari jerat utang yang mungkin tidak nyangkut dalam pikiran seperti dijelaskan di bawah ini.

1. Prihatin dulu

berhemat uang

Coba praktikkan peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Tak apa bersakit-sakit dahulu untuk kemudian menikmati kesenangan yang didambakan.

Karena masih ada utang, sebaiknya kita lebih banyak prihatin daripada mengeluarkan duit untuk berfoya-foya. Prioritaskan pembayaran utang sampai lunas.

Contohnya dari yang awalnya sebulan dua kali menonton bioskop kini hanya sebulan sekali. Atau bulan ini menonton, bulan berikutnya tidak. Selang-seling begitu seterusnya.

Anggaran untuk jajan sambil nongkrong di kafe juga bisa dikurangi. Bisa pula menyiasati pengeluaran dengan lebih sering masak sendiri daripada makan di luar. 

2. Simpan recehan

Duit koin alias recehan sering disepelekan. Ada yang ditaruh begitu saja di meja. Bahkan ketika jatuh di jalan dibiarkan saja.

Padahal duit Rp 1 juta kalau kurang Rp 100 tak bisa dianggap pas Rp 1 juta. Kita tak bisa membawa pulang lemari seharga Rp 1 juta kalau cuma punya duit Rp 9.999.900.

Karena itu, sebaiknya simpan recehan dan kumpulkan dengan telaten. Sedikit demi sedikit, duit koin yang teraniaya itu lama-lama bisa menjadi bukit dan membantu pembayaran utang.

Pernah dengar kabar orang beli sepeda motor sport dengan duit receh hasil tabungan? Atau yang sukses naik haji berkat rutin mengumpulkan uang koin? Itu bukti bahwa recehan tak bisa disepelekan.

3. Salurkan dana tak terduga 

tabungan deposito

Selain penghasilan rutin bulanan, bisa jadi ada dana tak terduga yang menambah pemasukan. Contohnya bonus dari prestasi kerja.

Ketimbang buat foya-foya, sebaiknya salurkan dana tak terduga itu langsung buat bayar utang. Bila nilainya cukup, mungkin kita bisa langsung bebaskan diri dari jerat utang. Minimal beban bisa berkurang dari adanya dana itu.

Contoh dana lain yang bisa langsung diprioritaskan buat bayar utang adalah tunjangan hari raya( THR). Dana ini juga di luar penghasilan rutin. 

Mungkin tak semuanya dipakai buat melunasi pinjaman. Bisa jadi ada kebutuhan lain yang mesti dipenuhi karena THR cair berdekatan dengan momen hari raya. Tapi seyogianya ada dana yang disisihkan demi membebaskan diri dari beban utang agar hidup lebih tenang.

4. Manfaatkan barang di sekitar

Mungkin tak banyak yang menyadari, di sekitar kita ada barang yang sudah tak digunakan tapi masih punya nilai. Bahkan nilainya bisa jadi lebih dari perkiraan.

Kita bisa memanfaatkan barang-barang ini untuk meringankan beban utang, bahkan sepenuhnya membebaskan diri. Salah satu caranya adalah dengan menjualnya.

Adapun barang itu antara lain baju bekas, barang elektronik jadul, bahkan buku-buku lama. Benda yang tergolong antik pun bisa dilego untuk menambah pemasukan.

Misalnya seterika kuno dengan figur ayam jago berbahan asli Kuningan. Atau lampu gantung dengan desain antik.

Bahkan buku cetakan lama yang langka bisa jadi bernilai tinggi. Misalnya buku-buku karangan Presiden Sukarno. Juga karya Pramoedya Ananta Toer cetakan awal. Di pasaran, harganya bisa sampai jutaan rupiah.

Cara lainnya adalah menggadaikan barang itu. Cara ini bisa ditempuh jika tak rela menjualnya atau barang tersebut punya arti tersendiri yang tak tergantikan.

Namun dengan menggadaikannya berarti kita wajib menebusnya. Jadi atur baik-baik pengeluaran agar barang yang digadaikan justru lenyap karena disita. Harga gadai umumnya jauh lebih rendah daripada harga jual.

5. Cari sampingan

wanita jualan online

Bila merasa penghasilan sekarang tak cukup, kita bisa berusaha mendapat tambahan dengan mencari pekerjaan sampingan. Manfaatkan keterampilan yang dimiliki.

Misalnya pandai bernegosiasi, kita bisa mencoba menjadi broker properti freelance. Ada komisi yang lumayan untuk tiap properti yang kita berhasil jual.

Menurut Peraturan Menteri Perdagangan No. 51/ M- DAG/ PER/ 7/2017 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti, komisi buat broker jual-beli properti sebesar 2-5 persen dari nilai properti. Adapun komisi untuk sewa-menyewa 5-8 persen.

Tapi itu aturan untuk broker dengan sertifikat. Kita bisa mendapatkan sertifikat broker properti dengan memenuhi persyaratan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Broker Properti.

Intinya adalah mencoba mendapat tambahan penghasilan dari skill yang dimiliki tanpa mengganggu pekerjaan utama. Meski itu hanya menjadi pelayan kafe atau menjual kue bikinan sendiri, yang penting mendatangkan pemasukan dan menjauhkan jerat utang.

Meski merupakan beban, utang bukanlah malapetaka. Lihat saja negara-negara di dunia, hampir semuanya punya catatan utang.

Demikian pula perusahaan-perusahaan yang terbilang sukses dan bertaraf internasional. Kuncinya adalah mengatur rencana pelunasan sebelum mengambilnya.

Tanpa rencana, sama saja kita sengaja membuat diri terjerat utang. Mari lebih bijak dalam memanfaatkan pinjaman.

Tagged With :

Leave a Comment