Tren akal imitasi (AI) disebut-sebut bakal menyokong bursa saham Wall Street sampai sedikitnya satu dekade ke depan. Perusahaan-perusaaan teknologi raksasa AS telah menggelontorkan investasi jumbo untuk pengembangan AI, sehingga diperkirakan bakal mendulang cuan jangka panjang seiring dengan peningkatan adopsi AI di seluruh dunia.
Dengan latar belakang tersebut, banyak investor Indonesia tertarik untuk menanamkan modal dalam saham AI populer di Wall Street. Namun, saham AI mana yang paling menjanjikan?

Analis Keithen Drury dari The Motley Fool merekomendasikan tiga saham AI ternama, yaitu Alphabet (GOOG/GOOGL), Amazon (AMZN), dan Microsoft (MSFT). Ia menilai ketiga saham tersebut merupakan pilihan bagus untuk dibeli sekarang lalu hold sampai satu dekade ke depan, khususnya jika kapabilitas komputasi awan mereka terus berkembang pesat.
Alphabet, Amazon, dan Microsoft menyajikan beragam layanan teknologi informasi yang canggih. Di saat yang sama, ketiganya sama-sama memiliki unit bisnis komputasi awan yang berperan penting dalam perkembangan teknologi AI.
Amazon Web Services tumbuh 28% (year-on-year) pada kuartal pertama tahun 2026, menghasilkan sebagian besar laba operasional bagi Amazon. Sebagai pionir dalam bisnis ini, AWS menyajikan layanan yang paling inovatif dan terkustomisasi. Mereka juga telah mengembangkan cip AI kustom untuk ekspansi lebih lanjut dalam beragam layanannya.
Microsoft Azure mencetak pertumbuhan 40% dalam kurun waktu yang sama, terutama mendominasi segmen enterprise yang sudah terintegrasi dengan perangkat lunak Microsoft. Pengembangannya berpusat pada teknologi Agen AI dan otomatisasi platform.
Sementara itu, Google Cloud membukukan kenaikan paling mengagumkan sebesar 63% berkat keunggulannya dalam data analytics dan machine learning dengan ekosistem open source yang sangat cost-effective. Alphabet juga mulai mendukung bisnisnya dengan menawarkan cip AI kustom rancangan internal kepada klien tertentu.
Nah, apakah kamu tertarik untuk berinvestasi dalam saham AI seperti ini? Sebelum memutuskannya, perhatikan bahwa perusahaan-perusahaan terkait masih berada dalam tahap “merintis” dengan alokasi modal besar-besaran. Dengan kata lain, investasi ini kemungkinan belum bisa menghasilkan keuntungan melimpah dalam waktu dekat.
Tagged With : saham amerika • Teknologi AI • wall street