2 Indeks Wall Street Melemah, Imbas Investor Was-was Suku Bunga Naik

Imbal hasil Treasury bergerak lebih tinggi, sementara dua dari tiga indeks saham utama Wall Street turun. Pergerakan terjadi imbas indikator inflasi baru dari China, Jerman, dan Amerika Serikat (AS) mengindikasikan suku bunga tinggi akan berlaku lebih lama dari yang diharapkan.

Dikutip dari Reuters (2/3), Dow Jones Industrial Average (.DJI) ditutup naik hanya 0,02 persen, sedangkan S&P 500 (.SPX) turun 0,47 persen dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 0,66 persen.

Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi China naik menjadi 52,6 bulan lalu, menandai pertumbuhan tercepat dalam lebih dari satu dekade, dari 50,1 pada Januari.

Di AS, harga bahan baku meningkat bulan lalu, menunjukkan inflasi bisa tetap tinggi setelah harga konsumen dan produsen bulanan melonjak di Januari.

Ditambah lagi, data inflasi dari Jerman mendukung ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa akan mendorong suku bunga lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, sehari setelah angka Februari menunjukkan tekanan harga melonjak lebih dari yang diharapkan di seluruh Prancis dan Spanyol.

Di sisi lain, imbal hasil Treasury AS naik di tengah kekhawatiran suku bunga yang lebih tinggi, dengan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun mencapai 4 persen dan imbal hasil dua tahun di level tertinggi sejak 2007, di 4.889 persen.

Gelombang indikator ekonomi global berikutnya kemungkinan akan menjadi penting karena pasar menilai apakah kenaikan suku bunga di masa depan cukup dihargai.

Direktur Pelaksana di INVICO Asset Management, Bruno Schneller, mengatakan inflasi yang kaku mungkin memaksa bank sentral menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mencegah kerusakan ekonomi lebih lanjut, meningkatkan risiko resesi yang didorong oleh kebijakan.

Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic pada hari Rabu mempertahankan pandangannya bahwa suku bunga kebijakan bank sentral dapat berhenti dalam kisaran 5,00 persen hingga 5,25 persen .

Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari juga kemungkinan kenaikan suku bunga 25 atau 50 basis poin pada pertemuan Fed berikutnya pada 21-22 Maret tetap ada, menambahkan bahwa suku bunga pada akhirnya mungkin perlu naik di atas level 5,4 persen.

Indeks dolar turun 0,39 persen, kemudian ekspor minyak mentah AS naik ke rekor tertinggi 5,6 juta barel per hari pekan lalu, menurut data pemerintah. Minyak mentah AS naik 0,9 persen menjadi USD 77,74 per barel dan Brent berada di USD 84,42, naik 1,16 persen pada hari ini

MENGUAT TERBATAS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan hari Kamis (2/3). Pada perdagangan hari Rabu (1/3), IHSG menguat 1,69 poin (0,02 persen) ke level 6.884,936.

Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengamati pergerakan pasar saham dalam negeri masih terpantau lesu, tercermin dari return yang dicatatkan di sepanjang tahun ini terkontraksi sebesar minus 0,11 persen.

Sektor energi menjadi pemberat IHSG dengan membukukan return negatif mencapai 7,82 persen, dan diikuti infrastruktur sebesar 2,78 persen, properti dan real estate sebesar 1,7 persen, keuangan sebesar 0,97 persen dan konsumen non-primer sebesar 0,66 persen.

“Memang sektor tersebut mengalami outlook yang menantang dengan harga komoditas yang mengalami normalisasi, isu likuiditas pada emiten karya BUMN serta kenaikan suku bunga meskipun sudah mencapai peak pada tahun lalu,” ungkap Pilarmas Investindo dalam risetnya, Kamis (2/3).

Momentum puasa dilihat dapat memberikan optimisme terhadap IHSG dengan ditopang oleh sektor consumer, ritel, juga poultry. Namun, hal ini juga dapat meningkatkan inflasi bulanan dengan dorongan konsumsi yang kuat dan BI dapat kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menurunkan inflasi ke target yang diharapkan.

Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengungkapkan enam sektor mampu outperformed terhadap IHSG dengan sektor transportasi dan logistik memimpin penguatan sebesar 16,49 persen dan diikuti teknologi sebesar 4,34 persen, konsumen primer sebesar 3,57 persen, barang baku sebesar 2,23 persen, industri sebesar 2,08 persen, dan kesehatan sebesar 0,01 persen.

Lesunya IHSG memang terlihat dari rata-rata nilai transaksi yang cenderung lebih rendah dan aksi sell-off asing seiring dengan reopening China. Terlebih, optimisme pemulihan ekonomi China terlihat dari aktivitas manufaktur dan non-manufakturnya yang melanjutkan tren kenaikan.

“Meskipun suku bunga BI dilihat juga sebagai pemicu aksi sell-off asing, namun saat ini sudah dipertahankan stabil meskipun masih ada peluang untuk kembali mengalami kenaikan terpantau aksi sell-off asing sebesar Rp 1,01 triliun, namun terlihat asing yang masih optimis berinvestasi dalam negeri juga masih cukup besar dari sell-off atau sebesar 2,51 triliun,” lanjutnya.

Sentimen tersebut menjadi penopang pergerakan IHSG yang mampu mencatatkan return positif pada bulan Februari meskipun tipis saja yang sebesar 0,06 persen.

Menutup kuartal I ini, IHSG masih akan bergerak volatile sebagaimana indeks manufaktur dalam negeri mengalami penurunan tipis dan pergerakan inflasi yang fluktuatif.

Sementara itu, tim analis MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG akan cenderung menguat terbatas dan rawan terkoreksi terlebih dahulu. Adapun area koreksi terdekat IHSG akan menguji rentang area 6.804-6.835, dan waspadai apabila IHSG break support 6.781 maka IHSG akan menuju ke 6.712-6.759.

“Posisi IHSG saat ini diperkirakan masih berada pada bagian dari wave [ii] dari wave C,” katanya.

Adapun beberapa saham yang direkomendasikan Tim MNC Sekuritas, yaitu INCO, INDY, TLKM, dan WOOD. Sedangkan sederet saham yang direkomendasikan tim Pilarmas Investindo Sekuritas adalah BMRI, TLKM, dan TAPG.

 

Leave a Comment