Dolar AS terus menguat dan menembus level tertinggi dua dekade. Pelemahan rival mayor Dolar A, khususnya Yen dan Euro, menjadi pemicu utama tingginya indeks Dolar dalam beberapa hari terakhir. Saat berita ini ditulis pada hari Kamis (28/April) malam, Indeks Dolar AS (DXY) naik lagi 0.64% ke kisaran 103.6. Total penguatan Dolar AS mencapai 10% sejak pertengahan November lalu. Penguatan besar tercapai dalam tiga bulan terakhir.

Untuk pertama kalinya sejak Desember 2002, Dolar menembus kisaran 103 yen. Kebijakan bank sentral Jepang (BoJ) yang semakin menggandakan pelonggaran moneternya membuat divergensi kebijakan moneter dengan The Fed semakin timpang. Kementerian Keuangan Jepang bahkan telah memberikan peringatan pada bank sentral agar tak melemahkan kurs Yen terlalu jauh.
“BoJ membuat “semuanya jelas” bahwa mereka akan terus menjual yen,” komentar analis Lee Hardman dari MUFG London. Aksi jual Yen semakin melambungkan Dolar AS hingga 2% dan mencapai level terkuat terhadap Yen dalam 20 tahun terakhir.
EUR/USD Keok
Di sisi lain, Euro juga tak berdaya menghadapi Dolar AS. Dari sisi fundamental Eropa, ECB belum memberikan sinyal kenaikan suku bunga. Setidaknya, pengetatan moneter bank sentral Eropa tersebut tidak seagresif The Fed.
Masalah energi yang dihadapi Eropa akibat perseteruan dengan Rusia, turut menambah beban bagi mata uang Single Currency. Perang Rusia-Ukraina yang melibatkan negara-negara Eropa pendukung Ukraina, meningkatkan ketidakpastian pasar yang mana telah memasuki bulan ketiga. Rusia akan menghentikan suplai gas ke dua negara Eropa.
“Walaupun misalnya The Fed menyetop pengetatan pada bulan Juni 2022. Amerika Serikat diekspektasikan masih memiliki suku bunga yang lebih tinggi daripada (Eropa) hingga tahun 2023 nanti,” kata Alan Ruskin, analis dari Deutsche Bank.
Spekulasi mengenai tercapainya level paritas (1 euro setara dengan 1 dolar AS) pun meningkat. Saat berita ini ditulis, EUR/USD diperdagangkan di kisaran 1.0507. “Tampaknya ini (level paritas) menjadi posibilitas yang realistis,” imbuh Hardman sembari mengatakan perkiraannya bahwa level support EUR/USD berada di level 1.034, levek yang terakhir tersentuh tahun 2017.