Wells Fargo: 2022 Dolar Makin Bullish, Euro Tertekan Dovish ECB

Penguatan Dolar AS yang mendominasi pasar forex sepanjang 2021, tampaknya belum berakhir dalam waktu dekat. Wells Fargo, bank raksasa asal AS yang memprediksi hal tersebut, mengantisipasi ekstensi penguatan Dolar AS di 2022 dan 2023. Hal tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa siklus kenaikan panjang bagi mata uang tersebut, sedang terbentuk.

Bullish Dolar AS akan berdampak pada pelemahan Euro, dengan EUR/USD yang turun ke bawah 1.10. Berdasarkan kebijakan moneter terbaru The Fed yang sudah mulai melakukan tapering pembelian obligasi, pasar berekspektasi kenaikan suku bunga akan dimulai di paruh kedua 2022. Outlook Dolar AS pun terkerek.

dollar-index-forecast-wells-fargo-2022

“Kami sekarang mengekspektasikan perpanjangan periode penguatan Dolar AS dan melihat penguatan Greenback yang meluas sampai akhir 2023. (Hal ini semakin lama) dibandingkan dengan perkiraan kami sebelumnya, yang mana penguatan Dolar AS hanya sampai akhir 2022.” kata Nick Bennenbroek, ekonom Wells Fargo.

Dolar AS sendiri telah menguat versus Euro dan mata uang-mata uang lain di sepanjang tahun ini. Akselerasi penguatan terjadi di paruh kedua, seiring dengan kenaikan optimisme investor terhadap potensi Fed Rate Hike.

“Seiring dengan The Fed dan bank-bank sentral lain yang menjadi lebih aktif dalam beberapa kuartal ke depan, kami yakin perbedaan kebijakan moneter akan semakin penting bagi kinerja mata uang dalam rentang waktu tersebut,” lanjut Bennenbroek.

“Faktanya, satu contoh utama bagaimana divergensi kebijakan moneter dapat sangat mempengaruhi kinerja mata uang adalah pada kaitannya antara Euro-ECB,”

 

ECB Paling Dovish Membuat Euro Tertekan

Wells Fargo mengamati bahwa meskipun ECB telah memperhatikan tren inflasi yang meningkat di seluruh Zona Euro, tetapi sejauh ini kekhawatirannya tentang tekanan inflasi masih lebih rendah daripada kebanyakan bank sentral mayor lainnya.

Presiden ECB Christine Lagarde baru-baru ini mengatakan bahwa bank sentral memperkirakan inflasi zona euro pada akhirnya akan surut dan apabila “kita memiliki pendekatan pengetatan moneter apa pun terhadap situasi saat ini, itu sebenarnya akan lebih berbahaya daripada akan menguntungkan.”

Menurut Bennenbroek, pernyataan Lagarde tersebut konsisten dengan pandangan pihaknya. ECB hanya akan mengurangi pembelian obligasi secara keseluruhan secara bertahap selama tahun 2022. Dari pernyataan tersebut pula, maka ECB diekspektasikan akan mempertahankan Suku Bunga Deposito stabil di -0,50% hingga 2022 dan 2023.

Leave a Comment