Wall Street Rebound ke Zona Hijau karena Ditopang Saham Teknologi

XM broker promo bonus

PADA perdagangan Jumat (20/8) waktu Amerika Serikat, Wall Street ditutup menguat. Ditopang saham-saham teknologi, tiga indeks utama berakhir di zona hijau.

Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 225,96 poin atau 0,65 persen menjadi 35.120,08, S&P 500 (.SPX) naik 35,87 poin atau 0,81 persen menjadi 4.441,67, dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 172,88 poin atau 1,19 persen menjadi 14.714,66.

Semua 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi lebih tinggi dengan saham teknologi (.SPLRCT) dan utilitas (.SPLRCU) menikmati persentase kenaikan terbesar. Menguatnya Wall Street ini juga terjadi di pekan penuh gejolak teka-teki apakah Bank Sentral AS The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari yang diharapkan pelaku pasar.

Sementara ketiga indeks utama AS berakhir hijau solid, semua membukukan kerugian mingguan setelah aksi jual pertengahan minggu yang curam. Hal ini membuat S&P 500 dan Dow menjauh dari rekor penutupan tertinggi.

“Menjelang awal minggu Anda melihat para pedagang menyeimbangkan pembukuan mereka menjelang pernyataan The Fed. Dan begitu pernyataan itu keluar, Anda melihat sedikit ‘jual rumor beli berita’,” kata Matthew Keator, Managing Partner di Keator Group, sebuah perusahaan manajemen kekayaan di Lenox, Massachusetts, dilansir dari Reuters, Senin (23/8).

Musim pelaporan kuartal kedua pada dasarnya telah berjalan dengan 476 perusahaan di S&P 500 telah membukukan hasil. Menurut data Refinitiv, dari jumlah tersebut, 87,4 persen telah mengalahkan konsensus.

Saham perusahaan terkait teknologi berbasis di China yang terdaftar di AS membuat pelaku pasar terombang-ambing karena mereka mencerna aksi jual baru-baru ini yang dihasilkan dari tindakan ketat atas peraturan Beijing. Kondisi ini telah menghapus setengah triliun dolar dari pasar China minggu ini.

Baca Juga:   Jenis-jenis Saham Berdasarkan Potensi Kinerjanya

Alibaba Holding Group ditutup turun 1,6 persen, sementara Tencent Music Entertainment Group (TME.N), Didi Global dan iQiyi Inc (IQ.O) naik antara 1,6 persen dan 3,7 persen.

Saham-saham pertumbuhan juga didorong oleh imbal hasil Treasury AS, yang mengakhiri minggu lebih rendah karena kekhawatiran krisis kesehatan dapat menjadi hambatan yang lebih lama dari yang diperkirakan untuk kebangkitan ekonomi.

Pengumuman dari sejumlah negara Asia bahwa mereka menerapkan langkah-langkah drastis untuk mengekang kebangkitan COVID-19 karena munculnya varian Delta penyakit yang sangat menular, meredam saham yang terkait dengan keterlibatan kembali ekonomi.

Data ekonomi yang beragam dari AS dan China menunjukkan pemulihan yang sedang berlangsung dari resesi paling tiba-tiba yang tercatat telah melewati puncaknya dan kehilangan beberapa momentum.

Saat ini pelaku pasar melihat Jackson Hole Symposium yang akan dilangsungkan minggu depan di Wyoming. Di sana akan terjadi pertemuan para pemimpin bank sentral utama mengenai laju pemulihan yang diharapkan dan garis waktu untuk pengetatan kebijakan.

“Kami telah melihat masa-masa dalam sejarah di mana Jackson Hole Symposium telah menarik banyak perhatian, tetapi tahun ini lebih dari itu. The Fed mungkin menggunakan kesempatan ini untuk mengomunikasikan apa rencana mereka ke depan,” ujar Keator.

MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak menguat hari ini Senin (23/8). Dalam penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, IHSG berakhir menguat ke level 6.030,77 atau naik 0,64 persen.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan laju IHSG akan bergerak di level support 5.993 dan level tertinggi 6.066 di sepanjang perdagangan hari ini.

“Dari dalam negeri investor masih diwarnai rasa optimistis pada pertumbuhan ekonomi di tahun 2021 dan aktivitas perdagangan yang pulih akan menjadi salah satu trigger positif. Secara sentimen IHSG berpeluang menguat,” tulis Lanjar dalam risetnya, Senin (23/8).

Baca Juga:   Setelah Cetak Rekor Tertinggi, Wall Street Ditutup Melemah

Sementara itu, CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan rentang gerak indeks saham terlihat masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan potensi tekanan yang masih terlihat cukup besar.

Menurut William hal tersebut didorong oleh kondisi perlambatan perekonomian yang masih menjadi tantangan hingga saat ini. Selain itu, fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar Rupiah juga dinilai belum akan memberikan pengaruh terhadap pola gerak IHSG.

“Sehingga pergerakan fluktuatif pada rentang konsolidasi wajar masih dapat dimanfaatkan oleh para investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka pendek,” ujarnya.

Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William: PT Gudang Garam Tbk (GGRM) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

 

 

Leave a Comment