Wall Street Merosot karena Investor Khawatir Terjadi Lonjakan Kasus Corona

Ketiga indeks saham di Wall Street melemah tajam pada penutupan perdagangan Senin (4/1). Investor khawatir adanya risiko pemilihan putaran kedua di Georgia dan lonjakan terus-menerus dalam kasus virus corona.

Mengutip Reuters, Selasa (5/1), Dow Jones Industrial Average turun 382,59 poin atau 1,25 persen menjadi 30.223,89, indeks S&P 500 kehilangan 55,42 poin atau 1,48 persen menjadi 3.700,65, dan Nasdaq turun 189,84 poin atau 1,47 persen menjadi 12.698,45.

Dow, yang menyentuh rekor tertinggi di awal sesi bersama dengan S&P 500, juga terseret oleh penurunan lebih dari 4 persen saham Boeing Co. Ini terjadi setelah Bernstein memangkas peringkatnya menjadi “berkinerja buruk” berdasarkan arus kas perusahaan penerbangan asal AS tersebut.

Sementara itu, nasib Presiden AS terpilih Joe Biden, termasuk kebijakan soal pajak, stimulus, dan pengeluaran infrastruktur, akan bergantung pada keputusan Senat hari ini di negara bagian Georgia yang akan menentukan kendali majelis.

Pengukur ketakutan Wall Street pun menyentuh level tertinggi dalam dua minggu pada Senin (4/1). Adapun total kematian warga AS akibat COVID-19 telah mencapai lebih dari 350.000.

“Saham mundur dari tahun keuntungan yang menakjubkan,” kata Brian Reynolds, kepala strategi pasar, di Reynolds Strategy.

“Kami memulai dengan virus yang tidak terkendali. Kami mungkin akan mengakhiri 2021 dengan virus yang dapat dikendalikan nantinya,” tambahnya.

Hampir semua sektor S&P turun, dengan real estate, utilitas, dan industri mencatat penurunan persentase paling tajam.

Di sisi data, aktivitas manufaktur AS diproyeksi meningkat pada Desember 2020, sekaligus mencatatkan kenaikan tercepat dalam lebih dari enam tahun terakhir.

Beberapa investor juga berhati-hati karena klaim pengangguran AS tetap tinggi, sementara babak baru pembatasan dan varian baru virus corona telah membayangi prospek pemulihan ekonomi.

Saham Tesla Inc memperpanjang reli ke rekor tertinggi, setelah pembuat mobil listrik itu melaporkan pengiriman kendaraan yang lebih baik dari perkiraan selama 2020.

Saham FLIR Systems Inc melonjak lebih dari 19 persen, setelah Teledyne Technologies Inc setuju untuk membeli pemasok kamera pencitraan termal itu seharga USD 8 miliar dalam bentuk tunai dan saham. Namun, saham Teledyne turun 7,5 persen.

Volume di bursa AS mencapai 14,15 miliar saham, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata 10,94 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

 

Leave a Comment