Wall Street Melemah Akibat Ada Penurunan Ekspektasi Pertumbuhan Ekonomi Global

Pada perdagangan Senin (18/4/2022), indeks utama Wall Street ditutup melemah. Penurunan yang signifikan terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi global dari World Bank mengakibatkan ada sentimen negatif.

Laporan pendapatan kuartalan yang kuat dari Bank of America (BAC.N) menutupi beberapa kekhawatiran itu. Sementara para investor bersiap untuk laporan pendapatan perusahaan yang lebih besar minggu ini.

Mengutip Reuters, Selasa (19/4), Dow Jones Industrial Average (.DJI) berakhir turun 0,11 persen, sedangkan S&P 500 (.SPX) turun 0,02 persen dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 0,14 persen.

Bank Dunia mengumumkan akan memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk 2022 hampir satu persen penuh karena invasi Rusia ke Ukraina. Bank Dunia sekarang memprediksi pertumbuhan ekonomi 3,2 persen tahun ini, turun dari perkiraan sebelumnya yakni 4,1 persen. China juga melaporkan bahwa ekonominya melambat pada Maret karena konsumsi, real estate, dan ekspor terpukul keras.

“Saham terus mencari momentum kenaikan yang berkelanjutan di tengah inflasi yang tinggi, suku bunga meningkat, dan harapan untuk gencatan senjata di Ukraina putus,” kata Managing director E*TRADE, Chris Larkin.

Kekhawatiran atas kejatuhan ekonomi mendorong harga emas ke level tertinggi satu bulan dengan pasar emas safe haven yang bertahan naik 0,14 persen menjadi USD 1.977,35 per ounce.

Dolar juga mendapat dorongan sebagai tempat yang aman, dengan indeks dolar (.DXY) yang melacak greenback versus sekeranjang enam mata uang naik 0,47 persen.

Sementara itu, harga minyak ditutup naik lebih dari 1 persen, didorong oleh kekhawatiran atas pasokan global yang ketat di tengah krisis Ukraina.

“Dengan pasokan global yang sekarang sangat ketat, bahkan gangguan paling kecil pun kemungkinan akan berdampak besar pada harga,” ujar Analyst Brokerage OANDA, Jeffrey Halley.

Prospek kenaikan suku bunga agresif dari Federal Reserve mendorong imbal hasil Treasury AS ke level tertinggi tiga tahun.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan Mei dan Juni, untuk menahan inflasi yang cepat. Pedagang berjangka dana Fed mengharapkan suku bunga acuan Fed naik menjadi 1,28 persen pada bulan Juni dan menjadi 2,67 persen pada Februari mendatang dari 0,33 persen.

“Meskipun tanda-tanda baru lahir bahwa inflasi dapat mereda dan taruhan Fed yang hawkish dipangkas. Kenaikan suku bunga 50 bps untuk Mei tampaknya terkunci,” tulis Analysts Deutsche Bank dalam sebuah catatan.

 

Leave a Comment