Pada perdagangan Senin (14/2/2022), indeks utama Wall Street ditutup lebih rendah. Penurunan ini disebabkan karena AS berniat menutup kedutaannya di Ukraina yang kemudian membuat ketegangan geopolitik kembali memanas.
Dikutip dari Reuters, Selasa (15/2), Dow Jones Industrial Average turun 171,89 poin, atau 0,49 persen menjadi 34.566,17; S&P 500 kehilangan 16,97 poin, atau 0,38 persen pada 4.401,67; dan Nasdaq Composite turun 0,24 poin, atau 0 persen menjadi 13.790,92.
Ketiga indeks saham utama AS turun tajam setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengumumkan relokasi operasi diplomatik AS ke Ukraina barat, sebagai tanda kemungkinan invasi Rusia yang akan segera terjadi.
Menambah ketidakpastian, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan bahwa Rabu akan menjadi hari serangan. Pejabat Ukraina kemudian mengatakan Zelenskiy tidak memprediksi serangan pada hari itu tetapi menanggapi dengan skeptis terhadap laporan media asing.
Di sisi lain, kekhawatiran yang sedang berlangsung atas kebijakan agresif dari Federal Reserve juga telah berkontribusi pada volatilitas pasar baru-baru ini.
Menteri luar negeri Prancis mengatakan semuanya sudah siap untuk serangan Rusia dan Eropa siap menjatuhkan sanksi besar-besaran jika itu terjadi.
Sepuluh dari 11 sektor utama di S&P 500 ditutup di wilayah negatif, dengan saham energi mengalami penurunan persentase terbesar. Sektor konsumen dan layanan komunikasi adalah satu-satunya yang berhasil naik.
Saham Tesla Inc naik 1,8 persen setelah otoritas industri otomotif China mengumumkan pembuat mobil listrik menjual hampir 60.000 kendaraan buatan China pada Januari.
Saham pembuat obat Biohaven naik 2,2 persen setelah hasil uji coba topline positif dalam pengobatan migrain rimegepant. Saham Pfizer Inc turun 1,9 persen bergabung dengan pembuat vaksin COVID lainnya di zona merah.
Saham Moderna Inc jatuh 11,7 persen dan Johnson & Johnson turun 1,3 persen. Sementara saham Novavax Inc, yang pada hari Senin mengajukan aplikasi ke regulator obat Swiss untuk persetujuan vaksin COVID-nya, turun 11,4 persen.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai 11,32 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 12,67 miliar saham.
MELEMAH
Pada perdagangan hari ini, Selasa (15/2), analis memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) akan melemah. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin (14/2), IHSG ditutup merah di level 6.734,486 atau turun 1,19 persen.
CEO PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya melihat pergerakan IHSG akan diwarnai oleh potensi tekanan terbatas.
“pergerakan IHSG pada hari ini diwarnai oleh rilis data perekonomian neraca perdagangan yang disinyalir masih berada dalam kondisi stabil,” ujar William dalam analisisnya, Selasa (15/2).
Menurut William, IHSG belum akan mengalami kenaikan secara signifikan dan pasar cenderung bergerak lebih konsolidatif. Ia memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran 6.698-6.876.
William melihat salah satu faktor yang mempengaruhi pola gerak IHSG adalah minimnya sentimen yang dapat mendongkrak kenaikan IHSG.
Saham-saham yang direkomendasikan William di antaranya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Sementara itu, Head Of Research Edwin Sebayang menjelaskan sentimen eksternal akan membayangi IHSG, yaitu ketegangan Rusia-Ukraina dan Wall Street yang tertekan.
“Amerika Serikat menutup pintu kedutaan besarnya di Ukraina kembali menjadi sentimen negatif bagi Wall Street, sehingga membuat indeks Dow Jones kembali turun dalam tiga hari terakhir,” kata Edwin.
Sentimen negatif didorong oleh kembali jatuhnya EIDO, turunnya harga Coal serta kembali naiknya yield Obligasi.
“Dampak dari semakin meningkatnya tensi serangan Rusia ke Ukraina kembali mendorong naik harga beberapa komoditas seperti minyak naik 1,04 persen, emas naik 0.71 persen, CPO naik 2,03 persen, nikel naik 0,74 persen, dan timah naik 1,02 persen,” pungkasnya.