Wall Street Langsung Anjlok, Setelah The Fed Cabut Stimulus COVID-19 Lebih Awal

Pada perdagangan Kamis (16/12/2021), indeks utama Wall Street ditutup melemah. Setelah Bank Sentral AS Federal Reserve mengumumkan mereka akan mempercepat pencabutan stimulus pandemi COVID-19, indeks Nasdaq berakhir melemah tajam. Hal ini membuat investor melepas beberapa saham, terutama emiten teknologi.

Dikutip dari Reuters, Jumat (17/12), Dow Jones Industrial Average turun 0,08 persen menjadi berakhir pada 35.897,64, sedangkan S&P 500 kehilangan 0,87 persen menjadi 4.668,67. Sementara Nasdaq Composite anjlok 2,47 persen menjadi 15.180,44.

Saham Nvidia, Apple, Microsoft, Amazon, dan Tesla juga turun antara 2,6 persen dan 6,8 persen. Penurun inilah yang memukul laju Nasdaq dan S&P 500, sedangkan Dow Jones Industrial Average terpantau turun tipis.

Bank sentral AS The Fed mengumumkan pada mereka akan mengakhiri pembelian obligasi mulai Maret dan mengisyaratkan kenaikan suku bunga sebanyak tiga perempat poin pada akhir tahun 2022.

Indeks nilai S&P 500 naik 0,7 persen sedangkan indeks pertumbuhan turun 2,1 persen. Indeks ini mencerminkan pandangan investor bahwa saham dengan pertumbuhan tinggi cenderung berkinerja buruk ketika suku bunga naik.

Di antara 11 indeks sektor utama S&P 500, teknologi merosot 2,9 persen sementara keuangan menguat 1,2 persen. Delapan sektor naik, bahkan ketika indeks secara keseluruhan turun.

Fakta terbaru tentang melonjaknya harga produsen dan konsumen, serta varian Omicron yang menyebar cepat dari virus corona, telah memicu kecemasan. Meski demikian indeks S&P 500 tetap naik sekitar 25 persen sepanjang tahun 2021 dan diperdagangkan mendekati rekor tertinggi.

Indeks Volatilitas CBOE, yang sering dianggap sebagai pengukur ketakutan Wall Street, turun ke level terendah tiga minggu. Data menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat secara moderat minggu lalu, tetap pada level yang konsisten dengan kondisi pasar tenaga kerja yang ketat.

Secara terpisah, sebuah survei menunjukkan produksi di pabrik-pabrik AS meningkat ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun di bulan November.

Volume di bursa AS adalah 11,6 miliar saham, sejalan dengan rata-rata selama 20 hari perdagangan terakhir.

MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (17/12). Bursa saham masih belum berhasil keluar dari rentang konsolidasi wajar.

Pada perdagangan saham kemarin, bursa saham berakhir merah usai Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kasus pertama varian Omicron di Indonesia. IHSG kehilangan 31,45 poin atau turun 0,47 persen ke level 6.594,7.

Tren negatif tersebut agaknya masih akan berlanjut pada perdagangan saham hari ini. CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, memperkirakan IHSG bergerak di rentang 6.582 sampai 6.676.

“Hari ini IHSG berpotensi melemah, capital inflow belum juga terlihat deras masuk ke dalam pasar modal. Masih melambatnya perputaran roda perekonomian hingga saat ini, menjadi salah satu tantangan bagi kinerja emiten,” jelas Wiliam dalam risetnya, Jumat (17/12).

Berikut rekomendasi saham hari ini:

– PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)

– PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)

– PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)

– PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP)

– PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)

– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)

– PT Indofood CBP Tbk (ICBP)

– PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)

– PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)

 

 

Leave a Comment