Wall Street Kompak Anjlok Setelah AS Umumkan Kasus Pertama Varian Omicron

Indeks utama Wall Street turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (1/12) karena kecemasan investor tentang varian baru virus corona yang kasus pertamanya sudah terkonfirmasi di AS. Di sisi lain pasar juga harus berhadapan dengan pernyataan The Fed tentang inflasi.

Dikutip dari Reuters, Kamis (2/12), Dow Jones Industrial Average turun 461,68 poin, atau 1,34 persen menjadi 34.022,04, S&P 500 kehilangan 53,96 poin, atau 1,18 persen menjadi 4.513,04 dan Nasdaq Composite turun 283,64 poin, atau 1,83 persen menjadi 15.254,05.

Pada sore hari, Pusat Pengendalian Penyakit AS. mengatakan negara itu telah mendeteksi kasus pertama varian Omicron, yang telah menginfeksi seseorang yang berasal dari Afrika Selatan, tempat varian itu awalnya ditemukan.

Sebelumnya, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pembuat kebijakan harus siap untuk menanggapi kemungkinan inflasi tidak akan surut pada paruh kedua tahun depan seperti yang diharapkan.

Wall Street telah jatuh pada hari Selasa setelah Powell mengejutkan pasar dengan memberi sinyal bahwa bank sentral akan mempertimbangkan untuk mempercepat penarikan program pembelian obligasi pada pertemuan Desember di tengah lonjakan inflasi.

Sebelumnya, Wall Street juga telah jatuh tajam pada hari Jumat ketika investor pertama kali mendengar tentang varian Omicron. Para pejabat kesehatan mengatakan mereka tidak yakin seberapa menular atau berbahaya varian tersebut dan seberapa banyak perlindungan yang diberikan oleh vaksin yang ada.

Pada hari Senin, pasar rebound tajam kemudian jatuh lagi pada hari Selasa menyusul komentar Powell.

Dow ditutup di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak 13 Juli 2020, sementara S&P berakhir di bawah rata-rata pergerakan 50 hari untuk pertama kalinya sejak 13 Oktober dan Nasdaq mengakhiri sesi di bawah rata-rata pergerakan 50 hari untuk pertama kali sejak 14 Oktober.

Dari 11 sektor di indeks S&P, hampir semua mengalami penurunan. Sektor jasa komunikasi mencatatkan penurunan terbesar 1,99 persen dan konsumen turun 1,86 persen.

Satu-satunya sektor yang naik adalah utilitas, sektor yang lebih defensif, cenderung menarik minat investor. Sementara sektor perawatan kesehatan berakhir turun 0,2 persen dan kebutuhan konsumen turun 0,4 persen.

Indeks volatilitas pasar CBOE, sering disebut sebagai pengukur ketakutan Wall Street, ditutup naik 14,5 poin pada 31,12 setelah sebelumnya naik ke 32,61, level tertinggi sejak Februari.

Indeks Russell 2000 ditutup turun 2,3 persen setelah naik sebanyak 2,5 persen pada puncaknya di pagi hari. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan mereka mengharapkan lebih banyak informasi tentang penularan varian Omicron dalam beberapa hari. Meski demikian WHO optimistis vaksin COVID-19 yang ada dapat bekerja melawan varian tersebut.

Volume perdagangan di Wall Street mencapai 14,2 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 11,3 miliar saham.

MASIH TERTEKAN

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih tertekan pada perdagangan Kamis (2/12). Pada perdagangan terakhir, Rabu (1/12) IHSG ditutup melemah 0,40 persen atau 26,25 poin ke posisi 6.507,67.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya memproyeksi IHSG akan bergerak di rentang 6.423 – 6.598. Perkembangan pergerakan IHSG secara umum masih berada dalam fase konsolidasi jangka panjang karena minimnya sentimen yang dapat membooster kenaikan IHSG.

“Sedangkan capital inflow belum terlihat akan bertumbuh secara signifikan ditambah dengan kondisi masih melambatnya perputaran roda perekonomian,” ujar William dalam risetnya, Kamis (2/12). Ia melanjutkan, hal ini cukup menjadi tantangan untuk dapat mendorong kenaikan IHSG hingga beberapa waktu mendatang.

Pada perdagangan hari ini, William mengatakan IHSG berpotensi bergerak melemah dengan kisaran 6.423 hingga 6.598.

Sementara itu saham yang direkomendasikan Wiliam hari ini yakni ICBP, SMGR, INDF, BBCA, TLKM, GGRM, dan AKRA.

 

Leave a Comment