Wall Street Ditutup Melemah Menjelang Musim Laporan Keuangan Kuartal III

XM broker promo bonus

Pada perdagangan Selasa (12/10/2021), indeks utama Wall Street berakhir melemah. Investor semakin gelisah menjelang musim laporan keuangan kuartal ketiga masih berlanjut menjadi penyebab pelemahan itu. Di sisi lain lonjakan saham Tesla sedikit membantu pergerakan pasar.
Dikutip dari Reuters, Rabu (13/10), Dow Jones Industrial Average turun 117,72 poin, atau 0,34 persen menjadi 34.378,34. Sedangkan S&P 500 kehilangan 10,54 poin, atau 0,24 persen menjadi 4.350,65 dan Nasdaq Composite turun 20,28 poin, atau 0,14 persen menjadi 14.465,93.
Federal Reserve diperkirakan akan merilis risalah pada hari Rabu dari pertemuan kebijakan terakhirnya. Rencana ini membuat pelaku pasar berspekulasi tentang kapan bank sentral AS dapat mulai mengurangi program pembelian obligasi besar-besaran.
Ketiga indeks saham utama AS berakhir di zona merah dengan Dow turun paling banyak, dibebani oleh sektor kesehatan dan industri.
Musim laporan keuangan dimulai minggu ini diawali dengan laporan pendapatan dari JPMorgan Chase & Co dan kemudian bank-bank lain menyusul. Saham JPMorgan turun 0,8 persen sementara indeks bank S&P 500 turun tipis 0,6 persen.
Analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan AS akan tercatat menguat di kuartal ketiga. Tetapi sejumlah perusahaan telah mengindikasikan adanya hambatan. Di sisi lain investor juga khawatir tentang masalah rantai pasokan dan kenaikan harga yang akan yang muncul akibat pandemi virus corona dan akan mempengaruhi bisnis.
Enam dari 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi di zona merah, dengan layanan komunikasi mengalami penurunan persentase paling tajam.
Sementara itu, saham Tesla naik 1,7 persen setelah data menunjukkan bahwa perusahaan pembuat kendaraan listrik tersebut berhasil menjual 56.006 kendaraan buatan China pada September, tertinggi sejak memulai produksi di Shanghai sekitar dua tahun lalu. Saham perusahaan memberikan dorongan terbesar bagi S&P 500 dan Nasdaq.
Saham American Airlines Group naik 0,8 persen setelah perusahaan memperkirakan bakal membukukan kerugian yang lebih kecil dari perkiraan pada kuartal ketiga. Perseroan juga optimistis akan membukukan peningkatan pemesanan untuk sisa tahun ini.
Investor juga mempertimbangkan komentar dari Wakil Ketua Fed Richard Clarida, yang mengatakan bank sentral telah sepakat untuk mengurangi program pembelian obligasi.
Di sisi lain, data menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap ketat, dengan rekor jumlah orang Amerika yang berhenti dari pekerjaan mereka dan lowongan pekerjaan berjumlah lebih dari 10 juta. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi karena pengusaha menaikkan upah untuk menarik dan mempertahankan pekerja.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai 9,17 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 10,8 miliar saham.
MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat hari ini. CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, laju IHSG akan bergerak di level support 6.336 dan level tertinggi 6.542 di sepanjang perdagangan hari ini. Kemarin, Selasa (12/10), IHSG ditutup menguat ke level 6.486,26 atau naik 0,41 persen.
“Peluang kenaikan yang terjadi dalam pergerakan IHSG terlihat sudah cukup terbatas,” tulis William dalam risetnya, Rabu (13/10).
Menurut William selama rentang konsolidasi belum dapat digeser ke arah yang lebih baik maka IHSG masih berpotensi bergerak dalam rentang konsolidasi wajarnya hingga beberapa waktu mendatang.
Selain itu, masih minimnya sentimen serta tercatatnya capital inflow yang mulai kembali masuk ke pasar modal belum cukup mampu mendorong kenaikan IHSG. “Hari ini IHSG berpotensi bergerak pada zona hijau,” ujarnya.
Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William: PT HM Sampoerna (HMSP), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dan PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Baca Juga:   Investor Khawatir Kenaikan Laju Inflasi, Wall Street Bervariasi

Leave a Comment