Sindrom Imposter: Definisi, Gejala dan Manfaatnya – Part 2

Pada post sebelumnya dibahas tentang apa itu sindrom imposter, dan bagaimana implikasi yang mungkin ditimbulkannya terhadap kinerja seseorang di tempat kerja. Meskipun mereka terkadang merasa dirinya seperti penipu, penelitian menunjukkan kalau imposter memiliki kinerja yang sama atau bahkan lebih baik dibanding rekan kerjanya terkait perilaku kompetensi. Mereka lebih empatik, pendengar yang lebih baik, dan mampu memberikan pertanyaan yang lebih baik.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa wanita lebih sering mengalami sindrom imposter dibanding pria. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pria maupun wanita sama-sama bisa mengalaminya. Sama halnya dengan wanita, pria juga bisa merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya, namun mereka memang lebih enggan untuk membicarakannya. Sebenarnya, bahkan orang-orang terkenal juga pernah mengalami sindrom impsoter.

sindrom imposter

Sindrom Imposter: Dampak Positifnya di Tempat Kerja

Menurut penelitian Tewfik yang dibahas pada post sebelumnya, mahasiswa imposter ditemukan lebih kerap melakukan kontak mata, dan suka mencondongkan badannya ketika mendengar. Dalam sebuah penelitian terakhir, Tewfik melakukan observasi terhadap sekelompok pencari kerja selama tahap ‘pra-wawancara.’ Jika mereka berhasil memberi kesan baik kepada manajer dan menunjukkan diri mereka cakap untuk posisi tersebut, mereka akan mendapat peluang untuk mengikuti wawancara secara formal.

Seperti halnya test sebelumnya, peserta interview yang mengalami imposter menunjukan nilai interpersonal yang lebih baik dibanding peserta lain yang bukan imposter. Mereka mampu menjawab pertanyaan secara lebih baik dan menarik. Itulah sebabnya, Tewfik menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan dari segi kompetensi, antara orang yang mengalami sindrom imposter dan orang yang bukan imposter.

Menurut penelitiannya, gap kompetensi yang dirasakan para imposter ini sebenarnya tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas pekerjaan mereka. Jika rasa ragu akan kemampuan diri ini membuat mereka mau berusaha lebih keras, justru hal tersebut dapat membuat mereka berkinerja lebih baik dibanding rekan kerja lainnya. Temuan seperti ini tentunya membuat Tewfik senang. Ternyata, ada sisi baik dari sindrom imposter yang dialami sebagian orang di tempat kerjanya.

Mengatasi Rasa Ragu Pada Diri Sendiri

Sindrom imposter telah menjadi objek penelitian selama beberapa dekade, namun tidak banyak penelitian yang dilakukan tentang implikasinya terhadap keberhasilan seseorang. Sebelum Tewfik mempublikasikan hasil temuan terbarunya, selalu ada asumsi bahwa sindrom tersebut sangat mengganggu.

Penelitian Tewfik telah memberikan pandangan baru bahwa pemikiran para imposter sesungguhnya dapat menjadi sumber energi dan kekuatan. Perasaan tersebut bisa memotivasi kita untuk bekerja lebih keras untuk membuktikan diri dan bekerja lebih cerdas untuk mengisi kekurangan dalam diri, baik dari segi keahlian maupun pengetahuan.

Meskipun ada sejumlah rekomendasi untuk membantu para pekerja mengatasi perasaan imposter tersebut, para pakar justru percaya bahwa tujuan sesunggihnya adalah memperbaiki asumsi dasar kalau sindrom imposter ini benar-benar merusak seseorang. Memang benar, sejumlah orang merasa bahwa diri mereka seperti penipu. Namun sesungguhnya, perasaan tersebut adalah keraguan biasa tentang apakah kita mampu menghadapi tantangan di hadapan kita atau tidak.

Justru, keraguan atas kemampuan diri ini dapat mendorong seseorang untuk bekerja lebih baik, berusaha lebih keras, dan lebih tekun. Pada akhirnya, kerja keras mereka akan membuahkan hasil yang baik. Mereka tidak hanya bisa mengimbangi rekan kerja yang bukan imposter. Bahkan, mereka bisa bekerja lebih baik.

Tidak Mau Berpuas Diri

Ada kalanya, rasa ragu pada diri sendiri bisa memicu stress, rasa takut, dan rasa rendah diri. Penelitian yang dilakukan Tewfik menunjukkan bahwa rasa ragu tersebut adalah hal normal dan bahkan sehat bagi seseorang. Bukannya menghambat, perasaan tersebut bahkan bisa mendorong kita secara lebih cepat.

Menurut Scott Galloway (seorang pengusaha dan profesor pemasaran di New York Unoversty), tindakan terbaik bagi pekerja yang sedang berusaha mengatasi perasaan ragu atas diri sendiri adalah menghilangkan komponen emosi negatif tersebut. Jika anda melihat kekurangan kompetensi anda dibanding rekan-rekan anda, dan anda berusaha memfokuskan energi untuk mengatasinya, maka anda justru bisa mendapatkan kelebihan yang anda cari. Ketika anda merasa seperti seorang imposter dan anda merasa ada sesuatu yang harus dibuktikan, maka anda tidak berpuas diri.

Tidak ada jawaban tunggal terhadap pertanyaan kenapa seseorang mengalami sindrom imposter. Sejumlah pakar percaya bahwa perasaan ini berkaitan dengan karakter kepribadian tertentu, seperti perfeksionisme. Sebagian lagi beranggapan bahwa perasaan ini berkaitan dengan masa kecil seseorang. Jika anda tumbuh di antara saudara yang cerdas, anda mungkin akan merasa banyak kekurangan.

Sebaliknya, jika anda dicap ‘cerdas’ sejak kecil, anda mungkin merasa laksana seorang penipu karena anda merasa tidak secerdas yang difikirkan orang lain. Di lingkungan kerja, ada situasi tertentu yang dapat memicu munculnya perasaan atau sindrom imposter. Misalnya adalah promosi atau tantangan dari pimpinan. Jadi, sebaiknya sikapi dengan bijak dan tanamkan rasa percaya kepada diri sendiri.

Tagged With :

Leave a Comment