Rilis Data Harga Produsen Pengaruhi Wall Street, Ditutup Beragam

Pada perdagangan Jumat (11/8/2023), indeks saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup beragam. Sementara imbal hasil Treasury AS naik setelah pembacaan inflasi Juli menunjukkan harga naik sedikit lebih cepat dari yang diharapkan.

Mengutip Reuters, Senin (14/8), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 105,25 poin menjadi 35.281,4. S&P 500 (.SPX) kehilangan 4,78 poin menjadi berakhir pada 4.464,05 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 76,18 poin menjadi berakhir pada 13.644,85.

“Untuk minggu ini Dow naik 6,2 persen, S&P turun 0,3 persen dan Nasdaq turun 1,9 persen,” tulis laporan tersebut.

Kepala Investasi di Huntington National Bank, John Augustine mengatakan reaksi pasar obligasi terhadap data inflasi berdampak besar di pasar saham.

“Ini adalah imbal hasil obligasi yang mendorong hari ini. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi umumnya menurunkan Nasdaq,” kata Augustine.

Lebih lanjut, pemerintah AS melaporkan bahwa indeks harga produsen (PPI) naik 0,8 persen dalam 12 bulan menjelang Juli. Hal tersebut ditopang oleh biaya layanan yang meningkat.

Meskipun para pedagang umumnya memperkirakan Federal Reserve menahan diri dari pengetatan kondisi kredit untuk sisa tahun ini, taruhan untuk tidak ada kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 88,5 persen dari 90 persen sebelum data dirilis.

Di sisi lain, imbal hasil surat utang pemerintah AS dua tahun bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga jangka pendek, atau naik menjadi 4,88 persen.

Langkah ini membebani saham-saham teknologi besar. Sebab, suku bunga yang tinggi dapat memperlambat ekonomi dan melemahkan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mencapai proyeksi pertumbuhan.

Suku bunga yang lebih tinggi juga dapat membuat obligasi berbunga menjadi alternatif yang menarik daripada saham bagi beberapa investor yang menghindari risiko.

KONSOLIDASI WAJAR

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami konsolidasi wajar pada perdagangan hari ini, Senin (14/8). Pada penutupan perdagangan Jumat (11/8), IHSG menguat 0,19 persen di level 6879.979.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya, memprediksi indek saham akan berada di rentang 6821-6954. Menurut dia, pola gerak IHSG masih betah berada dalam rentang konsolidasi wajar dengan potensi tekanan terbatas yang masih terlihat.

William memproyeksi kondisi neraca dagang Indonesia pada Juli 2023 masih stabil dan terkendali. Supaya mampu memberikan sentimen positif terhadap pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang.

“Sehingga peluang koreksi dapat terus dimanfaatkan oleh investor dengan target investasi jangka menengah – panjang, tentunya dengan pemilihan saham yang tepat dengan fundamental yang kuat,” kata William dalam prediksinya, Senin (14/8).

William merekomendasikan saham BBNI, SMGR, JSMR, ICBP, BBCA, SMRA, ASII, TLKM.

Sementara itu, Analisis Bina Artha Sekuritas, Ivan Rosanova, memproyeksi level support IHSG berada di 6835, 6794 dan 6753, sementara level resistennya di 6970, 7015 dan 7058.

“Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bearish,” kata Ivan.

Ivan merekomendasikan investor melakukan hold atau take a profit saham BBCA. Pasalnya, BBCA menghadapi zona resisten 9475-9550, di mana kenaikan di atasnya dapat memicu rally wave. Sementara jika BBCA tetap di bawah 9550 maka saham ini dapat mulai melemah untuk melanjutkan pembentukan wave.

“Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bullish. Hold atau take profit sebagian di 9475 sebagai target harga terdekat,” terang Ivan.

Di sisi lain, Ivan juga merekomendasikan investor melakukan hold saham PT Vale Indonesia (INCO). INCO diperkirakan mengalami rebound untuk melanjutkan struktur bullish sebelumnya menuju 7350 apabila harga tetap di atas 6300.

“Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bearish. Hold dengan target harga terdekat di 6600,” tandasnya.

 

Leave a Comment