Potensi Resesi Ekonomi AS Mereda, Wall Street Melonjak

PADA penutupan perdagangan, Selasa (21/6/2022), indeks utama Wall Street melonjak lebih dari 2 persen. Meredanya potensi resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) memicu lonjakan tersebut.

Sebelumnya para investor baru-baru ini khawatir bahwa ekonomi AS akan mengarah ke resesi dan membebani laju saham wall street. Hal ini ditengarai dengan bank sentral AS, THe Fed yang menaikkan suku bunga 75 bps, kenaikan tertinggi sejak 1994.

Langkah itu dilakukan ketika The Fed mencoba untuk meredakan inflasi AS yang telah melonjak ke level tertinggi dalam 40 terakhir.

Meski begitu perusahaan perbankan investasi, UBS mengatakan, pihaknya tidak melihat adanya potensi resesi ekonomi di AS dalam waktu dekat. “Kami tidak melihat AS atau resesi global pada tahun 2022 atau 2023 dalam kasus dasar kami, tetapi jelas bahwa risiko hard landing meningkat,” tulis UBS dalam sebuah catatan kepada kliennya seperti dikutip dari reuters, Rabu (33/6).

“Bahkan jika ekonomi benar-benar tergelincir ke dalam resesi, bagaimanapun, itu harus menjadi dangkal mengingat kekuatan konsumen dan neraca bank,” tambah perusahaan itu.

Terpantau, 11 sektor utama S&P 500 naik lantaran reboundnya saham secara luas, setelah sebelumnya indeks acuan pekan lalu tercatat didera penurunan persentase mingguan terbesar sejak Maret 2022. S&P 500 bahkan sempat mencatatkan penurunan 20 persen awal bulan ini, tertinggi sejak Januari 2022.

Investor meraup untuk dari perusahaan energi, terutama setelah bursa Amerika lesu pekan lalu di tengah kekhawatiran ekonomi global.

Reuters melansir, Dow Jones Industrial Average tercatat naik 641,47 poin atau sebesar 2,15 persen menjadi 30.530,2. Sementara S&P 500 naik 89,95 poin atau setara 2,45 persen ke level 3.764,79. Adapun Nasdaq Composite naik 270,95 poin atau 2,51 persen menjadi 11.069,3.

Baca Juga:   Didorong Penurunan Saham Apple, Wall Street Bervariasi

Sektor energi, sektor S&P 500 tercatat berhasil mencatatkan keuntungan tertinggi tahun ini, dengan kenaikan 5,1 persen setelah anjlok minggu lalu. Adapun setiap sektor mencatatkan kenaikan setidaknya 1 persen.

Saham-saham perusahaan Megacap seperti Apple Inc, Tesla Inc, Microsoft Corp mengalami kenaikan signifikan. Apple mencatatkan kenaikan 3,3 persen. Kemudian Tesla melonjak 9,4 persen, dan Microsoft sebesar 2,5 persen.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (22/3). Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (21/3) IHSG ditutup menguat 0,97 persen di level 7,044.07.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, IHSG semakin mendekati momentum rilis tingkat suku bunga, pola pergerakan hingga saat ini masih terlihat betah dalam rentang konsolidasi wajar dengan peluang kenaikan terbatas.

“Kondisi perekonomian yang stabil ditambah dengan masih adanya emiten yang membagikan dividen turut menopang pola pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang, hari ini IHSG berpotensi menguat,” tulis William dalam prediksinya, Rabu (22/6).

Senada, Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher menyebut, IHSG diprediksi Menguat. Pergerakan diperkirakan akan terbatas jelang RDG Bank Indonesia pada tengah pekan. Selain itu, investor akan mencerna hasil pidato The Fed oleh Jerome Powell.

“Secara teknikal candlestick membentuk higher high dan higher low dengan stochastic yang melebar setelah membentuk goldencross di area oversold mengindikasikan potensi melanjutkan penguatan,” Kata Dennies.

Saham yang direkomendasikan William TLKM, BBCA, BBNI, BBRI, BINA, HMSP, UNVR, KLBF, WTON.

Saham-saham yang direkomendasikan Dennies adalah ERAA dan BRPT.

 

Leave a Comment