Pendapatan Perusahaan Diprediksi Banyak yang Meningkat, Wall Street Ditutup Naik

Pada penutupan perdagangan Senin (17/7), indeks saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup naik. Sebab, ekspektasi pendapatan perusahaan akan melebihi perkiraan. Namun, saham global dan dolar diperdagangkan sedikit berubah setelah data menunjukkan ekonomi China tumbuh lebih lambat dari yang diantisipasi.

China semalam melaporkan pertumbuhan 0,8 persen pada kuartal kedua, di atas perkiraan 0,5 persen. Tetapi laju tahunan adalah 6,3 persen, jauh di bawah ekspektasi yaitu 7,3 persen.

Mengutip Reuters, Selasa (18/7) Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 0,22 persen menjadi 34.585,35. S&P 500 (.SPX) naik 0,39 persen menjadi 4.522,79, dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 0,93 persen menjadi 14.244,95.

“Tingkat rintangan untuk perusahaan sedikit lebih tinggi daripada beberapa kuartal terakhir tetapi perusahaan S&P 500 sebagian besar telah mampu melampaui perkiraan analis yang sangat rendah memasuki musim pendapatan,” kata Kepala Strategi Pasar Saham, Anthony Saglimbene.

“Apa yang akan dicari pasar selama beberapa minggu ke depan adalah apakah permintaan bertahan dan apakah pandangan perusahaan secara umum masih positif untuk sisa tahun ini?” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Penelitian Manajemen Kekayaan di D.A. Davidson di Seattle, James Ragan mengatakan pendapatan cenderung lebih baik dari yang diharapkan, saham AS tidak mungkin naik lebih tinggi karena indeks S&P 500 diperdagangkan pada pendapatan yang relatif tinggi 19,7 kali ke depan.

DIPREDIKSI MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan hari ini, Selasa (18/7). Pada Senin (17/7), IHSG ditutup melemah 0,035 persen atau 2,43 poin ke level 6.867,14.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya, memperkirakan IHSG hari ini bergerak di rentang 6.737-6.898. Menurutnya masih ada peluang penguatan bagi IHSG melihat data rilis perekonomian Indonesia yang berada dalam kondisi stabil.

“Ditambah minat investor yang tercermin lewat capital inflow yang telah tercatat secara year to date ke dalam pasar modal Indonesia, hari ini IHSG berpotensi menguat terbatas,” kata William dalam analisisnya, Selasa (17/7).

Beberapa saham yang direkomendasikan William hari ini meliputi ITMG, BBRI, TBIG, BBNI, LSIP, AKRA, WIKA, dan UNVR.

Sementara itu, Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan pergerakan IHSG pada Senin lalu dipengaruhi oleh surplus Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) senilai USD 3,46 miliar di Juni 2023 dari USD 0,44 miliar di Mei 2023. Di sisi lain, ekspor dan impor Indonesia turun 21,18 persen yoy dan 18,35 persen yoy di Juni 2023.

Penurunan tersebut menurutnya berpotensi memicu koreksi dari emiten energi dan basic materials dalam beberapa waktu dekat.

Sementara faktor global yang turut memberi dampak IHSG menurutnya adalah Tiongkok yang mencatatkan pertumbuhan PDB kuartal II 2023 sebesar 6,3 persen yoy, dari 3,5 persen yoy di kuartal I 2023. Namun, lebih rendah dari perkiraan di 7,3 persen yoy.

Secara kuartalan, PDB Tiongkok melembat 0.8 persen qoq di kuartal II 2023 dari 2,2 persen qoq di kuartal I 2023. Kondisi ini, sejalan perlambatan sejumlah data ekonomi Tiongkok hingga Juni 2023 dan ekspektasi pasar akan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok di 2023.

“Berdasarkan kondisi di atas, maka pelaku pasar dapat memperhatikan saham-saham yang berpotensi melanjutkan rebound seperti BTPS, JPFA, BBNI, SRTG, UNVR dan WIKA,” ujarnya.

Menurut data Refinitiv, penghasilan kuartal kedua diperkirakan turun 8,1 persen, turun lebih jauh dari penurunan 5,7 persen yang diperkirakan pada awal bulan.

“Kami tidak melihat jalan yang bagus bagi ekuitas untuk naik jauh lebih tinggi dari sini. Salah satu alasannya adalah penilaian mereka secara keseluruhan,” katanya.

“Pandangan kami adalah perkiraan masih agak agresif, terutama jika kami melihat ke depan hingga 2024. Kami tidak akan terkejut melihat beberapa pelemahan laba atas neraca tahun ini,” tambahnya. (*)

 

Leave a Comment