Mengapa Emas Dianggap Sebagai Logam Mulia Paling Berharga?

Emas menempati posisi sangat istimewa dalam peradaban manusia. Secara historis, banyak kawasan telah menggunakannya sebagai alat pertukaran sekaligus bahan baku perhiasan yang amat berharga. Namun, kita juga tahu bahwa banyak barang memiliki harga lebih mahal dan kegunaan lebih banyak daripada emas saat ini. Jadi, mengapa tetap saja emas yang dilabeli sebagai “logam mulia paling berharga”? Ada beberapa alasan yang mendasarinya, berhubungan dengan ilmu kimia dan ilmu ekonomi.

Risiko Beli Emas Batangan

Pertama, diantara beragam unsur kimia dalam tabel periodik, hanya ada segelintir yang berwujud fisik (bukan gas), tidak terlalu reaktif (tak mudah meledak), bukan zat berbahaya (seperti radioaktif), tak terlalu keras hingga sulit dibentuk (seperti titanium dan zirconium), tak mudah berkarat (seperti aluminium dan besi). Dari 118 unsur kimia, hanya ada 8 yang memenuhi kriteria tadi, yaitu platinum, palladium, rhodium, iridium, osmium, ruthenium, silver (perak), dan gold (emas).

Kedelapan unsur itu kemudian dijuluki logam mulia. Mereka sama-sama tak mudah bereaksi dengan unsur lain, bersifat langka, dan tak terlampau mudah meleleh. Namun, platinum, palladium, rhodium, iridium, osmium, dan ruthenium terlalu sulit ditemukan. Jika ingin membuat mata uang dengan keenam logam itu, maka cetakannya harus mungil sekali. Logam mulia yang persediaannya cukup memadai hanya perak dan emas, yang kemudian digunakan sebagai mata uang dirham dan dinar di jazirah Arabia dahulu.

Pertanyaannya, kenapa emas dinilai lebih berharga daripada perak? Sebab, perak mudah memudar jika beraksi dengan sulfur. Apabila Anda punya perhiasan perak, maka perlakukannya harus lebih hati-hati daripada emas karena karakternya ini. Sebaliknya, Anda bisa saja menimbun sepeti perhiasan emas hari ini yang akan tetap mengkilap hingga cucu-cicit Anda kelak.

Kedua, karakter emas memenuhi sejumlah kriteria pokok alat pembayaran dalam ilmu ekonomi. Emas diterima oleh masyarakat secara umum, bersifat relatif langka, memiliki nilai yang stabil (sesuai dengan laju inflasi), mudah disimpan, mudah dibawa, tidak mudah rusak, dan mudah dibagi. Kebutuhan akan emas sebagai bahan perhiasan dan industri juga membuat nilainya cukup terjamin.

Meski demikian, kehadiran uang fiat saat ini yang tak berbentuk emas justru dianggap lebih baik bagi perekonomian dunia. Sebabnya, nilai uang fiat dapat didukung oleh jaminan pemerintah (bukan hanya konsensus tak langsung seperti emas), mudah dibagi dalam pecahan lebih kecil daripada emas, serta lebih mudah disimpan dan dibawa. Di era teknologi yang mobilitasnya amat cepat, uang fiat juga tak lagi berbentuk kertas dan koin, melainkan bisa sekedar berupa catatan jejak digital yang lebih praktis “dibawa” kemana-mana. Inilah mengapa emas kehilangan statusnya sebagai alat pembayaran, dan kini hanya berfungsi sebagai alat penyimpan kekayaan saja.

Tagged With :

Leave a Comment