Meminimalisir Bias di Lingkungan Kerja – Kenali dan Atasi

XM broker promo bonus

Beberapa penelitian terbaru menunjukkan semakin banyaknya karyawan (terutama wanita dan pekerja dari ras berwarna) yang memilih keluar dari pekerjaannya karena berbagai alasan. Di antaranya adalah perlakuan yang tidak siembang (bias), kurangnya dukungan, dan penyebab stress lainnya karena tantangan pekerjaan yang semakin besar dibanding sebelumnya. Dan sejak pandemi Covid-19, lebih dari 5 juta wanita di Amerika Serikat telah kehilangan pekerjaannya. Saat ini, para pemberi kerja benar-benar harus meminimalisir bias di lingkungan kerja, karena dampaknya merusak.

Ini adalah krisis. Para pemimpin baik di lembaga swasta maupun pemerintahan harus memandangnya sebagai suatu gelombang yang dampaknya sangat serius dalam jangka panjang bagi karyawan itu sendiri, keluarganya, masyarakatnya, dan para pemberi kerja. Studi demi studi menunjukkan kalau kebijakan seperti ini dapat membantu menarik dan mempertahankan karyawan, meningkatkan produktivitasnya, serta berdampak positif terhadap kinerja perusahaan.

meminimalisir bias di lingkungan kerja

Meminimalisir Bias di Lingkungan Kerja: Kenali Bentuknya

Bias yang tidak disadari, atau disebut hidden biases atau bias implisit, tersembunyi di dalam blind spot otak kita. Bias ini memandu perilaku kita tanpa kita sadari. Begitu bercokol di dalam otak, bias yang tersembunyi ini bisa mempengaruhi perilaku terhadap anggota kelompok sosial tertentu, misalnya wanita, kaum minoritas, penganut agama tertentu, orang pada usia tertentu, dan sebagainya.

Ada beberapa jenis bias yang tidak disadari di tempat kerja. Berikut adalah beberapa bias di lingkungan kerja yang sering tidak disadari:

  • Bias afinitas – lebih menyukai karyawan yang budayanya sama dengan anda. Adakalanya, perusahaan hanya mempekerjakan atau mempromosikan karyawan yang memiliki minat, pengalaman, dan latarbelakang yang sama dengan manajemen perusahaan saat ini.
  • Bias konfirmasi – misalnya memberikan reward kepada karyawan berdasarkan nama, tempat tinggal, atau pendidikan sebelumnya. Artinya, secara tidak sadar anda mengonfirmasi keyakinan dan mengabaikan keanekaragaman di tempat kerja;
  • Bias nama – misalnya, mempekerjakan atau memberi reward kepada karyawan berdasarkan namanya. Sebuah penelitian menunjukkan ada kecenderungan kalau orang dengan nama-nama yang identik dengan ‘kulit putih’ berpeluang lebih besar untuk dipanggil interview kerja daripada nama-nama dari ras berwarna. Beberapa perusahaan berusaha meminimalisir hal ini dengan membuang nama dan alamat dari lamaran pekerjaan calon karyawan.
Baca Juga:   Kickback, Sebuah Platform Influencer Marketing Model Baru

Meminimalisir Bias di Lingkungan Kerja: Apa Yang Bisa Anda Lakukan?

Lalu, apa yang bisa anda lakukan di perusahaan untuk mengurangi meminimalisir biar di lingkungan kerja, mengurangi dampak negatifnya, serta menciptakan suatu budaya yang lebih sehat dan lebih produktif di perusahaan? Berikut adalah beberapa rekomendasinya:

  • Pastikan bahwa karyawan memahami ciri-ciri stereotype, yang menjadi dasar terjadinya bias. Anda bisa memberi edukasi kepada karyawan tentang stereotype untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mereka, sehingga mereka bisa menghindari perilaku dan persepsi sterotype dalam bekerja.
  • Tetapkan ekspektasi. Biarkan karyawan mengetahui bahwa anda memprioritaskan pencegahan terjadinya bias. Mulailah dengan menggunakan istilah yang relevan. Pastikan karyawan tahu bahwa perusahaan menghargai keanekaragaman, inklusi, dan keadilan. Masukkan pernyataan tentang ini dalam nilai organisasi, untuk menunjukkan komitmen anda.
  • Terapkan proses perekrutan dan promosi yang transparan. Transparansi akan memberi keyakinan kepada karyawan bahwa proses yang terjadi tidak diskriminatif atas jenis kelamin, usia, ras, orientasi seksual, dan faktor lainnya. Jika anda proaktif dalam merekrut profesional dari latarbelakang dan pengalaman yang berbeda-beda, maka dengan bersikap transparan, anda bisa membangun kepercayaan karyawan dalam proses rekrutmen dan promosi.
  • Buat para pemimpin bertanggung jawab. Pastikan bahwa para pengambil kebijakan bertanggung jawab terhadap nilai-nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan pentingnya lingkungan kerja yang bebas dari bias.
  • Tetapkan kriteria yang jelas untuk mengevaluasi kualifikasi dan kinerja. Dengan kriteria seperti ini, maka anda bisa meminimalisir kemungkinan kalau bias yang ada dapat mempengaruhi proses penilaian kinerja karyawan. Sebagian perusahaan menggunakan evaluasi buta, sehingga karyawan hanya dinilai berdasarkan pekerjaan, bukan ras atau gender-nya.
  • Dorong adanya dialog. Dengan menciptakan suatu budaya yang mendorong karyawan untuk menyampaikan pendapat dan diskusi secara terbuka, anda tidak hanya mengedukasi dan membangun kepercayaan di antara karyawan, namun juga memperkuat nilai-nilai yang dipegang organisasi.
  • Laksanakan rapat secara inklusif. Artinya, anda bisa melakukan segala sesuatunya secara sederhana. Perhatikan betul siapa yang duduk di dekat anda dan berdiskusi selama rapat. Pastikan ada interaksi yang sebanding antara masing-masing karyawan. Pastikan semua karyawan merasa didengar dan berikan respon secara konstruktif terhadap komentar-komentar yang bisa saja tidak anda setujui.
  • Berikan pelatihan tentang Pelatihan bermanfaat bagi semua pekerja, karena anda mengedukasi mereka dan memberi keyakinan bagi mereka yang merasa tidak diikutkan. Dengan demikian, isu tentang bias bisa dibahas dan diatasi secara aktif.
Baca Juga:   Peran Wanita di FinTech Dalam Rencana Pemulihan Pasca-Covid-19

Untuk meminimalisir bias di lingkungan kerja, anda masih bisa melakukan hal lain. Misalnya adalah menyediakan wadah bagi karyawan untuk menyampaikan keluhan secara anonim. Anda juga bisa meminta feedback atau tanggapan dari karyawan tentang upaya mitigasi yang sudah anda lakukan.

Tagged With :

Leave a Comment