Masa Depan Dunia Kerja: Anda Tidak akan Menemukan 4 Hal Ini

Setelah pemberlakuan tatanan kehidupan normal baru, muncul sejumlah pertanyaan, seperti “Apakah makna dari ‘normal’ baru?” Jelas sekali bahwa dunia kerja, layanan kesehatan, dan pembiayaaan tidak akan pernah kembali ke kondisi seperti awal Tahun 2019, namun juga tidak seperti kondisi Tahun 2020. Sejumlah pengusaha teknologi memprediksi terjadinya transformasi radikal tentang bagaimana orang bekerja. Ini akan mempengaruhi masa depan dunia kerja secara keseluruhan.

Banyak yang berubah, hampir setiap hari. Mustahil untuk mengetahui dengan pasti seperti apa masa depan dunia kerja dalam waktu dekat. Namun, jika berbicara dengan para pemimpin yang memegang kunci terhadap sebagian besar angkatan kerja, mungkin saja kita bisa memperkirakan kondisi yang tidak akan terjadi dalam dunia kerja di Tahun 2021. Menurut Joe Bosch, bekas CHRO dari DirectTV, siapapun yang mengatakan kalau 6 bulan ke depan kondisinya akan lebih mudah daripada 6 bulan yang lalu, itupun tidak benar.

masa depan dunia kerja

Masa Depan Dunia Kerja Tidak Seperti Ini….

Apakah kondisinya lebih baik atau lebih buruk, tentunya sulit dipastikan. Berikut adalah beberapa kondisi yang diperkirakan tidak akan terjadi pada masa depan dunia kerja, terutama dalam waktu dekat:

Lingkungan Kerja Tidak 100% Remote

Sistem kerja yang terdistribusi (remote) maksudnya adalah anda bisa tinggal di mana saja dan masih bisa bekerja di perusahaan yang anda idamkan. Realitanya adalah sistem kerja remote masih menjadi bahasa pemanis. Selain itu, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan tim kerja, produk kerja, perkembangan karir, dan kemampuan untuk mendatangkan pendapatan masih belum diketahui.

Tentunya, mustahil untuk mengabaikan manfaat dari jam kerja yang fleksibel. Selain itu, seorang karyawan bisa mengontrol jam kerjanya dengan bain. Namun, kebutuhan untuk melakukan koneksi sosial, kolaborasi, serta mengembangkan kreativitas tidak juga bisa diabaikan. Kondisi seperti ini hanya bisa diciptakan jika karyawan berkumpul dan bekerja dalam satu lingkungan yang sama.

Kondisi pandemi menyebabkan banyak pemilik bisnis berkomitmen untuk menerapkan cara kerja yang baru tersebut. Namun, menurut Mala Singh, Chief People Officer pada Electronic Arts, memprediksi bahwa perusahaan yang sudah membuat pernyataan berani tersebut pada akhirnya akan mengubah kebijakannya dalam 3-5 tahun ke depan. Sebaliknya, mereka akan beralih ke model kerja hybrid, yakni campuran antara sistem kerja terdistribusi dan sistem kerja konvensional.

Tidak Membuat Pernyataan Berani tentang Keanekaragaman, Keadilan, dan Inklusi

Tetap saja, keanekaragaman, keadilan, dan inklusi di lingkungan kerja masih menjadi pusat perhatian di Tahun 2020, karena isu SARA masih merebak di berbagai negara di dunia. Sejumlah pemilik bisnis merespon dengan memberikan donasi, pernyataan yang tegas, serta komitmen jangka panjang terhadap perubahan. Namun, menurut Diane Gherson dari IBM, percakapan tentang keanekaragaman, keadilan, dan inklusi belumlah usai. Hal ini tidak mudah, karena semua hal mudah telah dilakukan. Yang tersisa adalah bagian-bagian tersulitnya.

Saat ini, sejumlah perusahaan telah mengalokasikan anggaran multi-year yang cukup besar untuk mengatasi isu ini. Tahun ini menjadi penentu apakah perusahaan akan mampu menerapkannya secara efektif atau tidak. Yang pasti, inilah saatnya mempertimbangkan dimensi keanekaragaman dalam setiap keputusan bisnis. Bagaimana isu ini berpengaruh terhadap produk dan desain produk? Bagaimana isu keanekaragaman membantu anda menghadapi para pesaing?

Tidak Menghindari Percakapan Politik

Percakapan tentang isu politik di lingkungan kerja tidak dilindungi oleh undang-undang, namun apakah ada garis pembatas yang jelas antara lingkungan kerja dan rumah anda di era new normal seperti ini? Bahkan, ketika para karyawan berkumpul atau berpartisipasi pada demonstrasi bernuansa politik, tidak ada garis pembatas yang jelas antara pandangan politik pribadi dengan perannya sebagai karyawan di sebuah perusahaan atau organisasi.

Jadi, para pemilik bisnis saat ini semakin menyadari bahwa mustahil untuk memisahkan antara perusahaan dengan dunia luar. Ketika suara anda tidak bisa didengar oleh pemimpin di luar, anda akan beralih ke pemimpin di dalam untuk melihat bagaimana respon dan tanggung jawabnya. Menurut Mala Singh, hal-hal yang terjadi di tahun lalu menyoroti dengan jelas perubahan yang terjadi pada hubungan antara identitas personal dengan identitas pekerjaan, serta tanggung jawab pemberi kerja untuk mendengarkan dan mengadopsi pandangan karyawannya.

Tidak Mengutamakan ‘Harga” dari Tunjangan Karyawan

Memang benar, kejut ekonomi yang terjadi tahun lalu membuat perusahaan menangguhkan sejumlah pengeluaran. Namun, apa yang terjadi belakangan juga menyingkapkan data baru yang menunjukkan dampak dari tunjangan kesejahteraan terhadap pegawai, baik yang berbentuk tunjangan pengasuhan, kesehatan mental, atau finansial. Perusahaan harus memperbaiki bentuk dukungan sosial bagi karyawan.

Di satu sisi, perusahaan harus membayar biaya tunjangan yang lebih mahal. Namun di sisi lain, dampaknya terhadap kesetiaan, produktivitas dan retensi karyawan juga tidak bisa diabaikan. Jadi, perusahaan atau dewan direksi harus memastikan bahwa karyawan dan keluarganya memiliki akses terhadap sumber daya dan keahlian yang mereka butuhkan untuk meningkatkan kesehatan mentalnya.

Itulah pembahasan tentang kondisi yang tidak akan anda temukan di masa depan dunia kerja. Bagaimana menurut anda?

Tagged With :

Leave a Comment