Kenaikan Saham Pembuatan Chip Dorong Wall Street Menguat

PADA perdagangan Kamis (4/11/2021), indeks utama Wall Street kembali menutup perdagangan dengan rekor tertinggi. Didukung saham pembuat chip yang melonjak karena perkiraan keuangan Qualcomm yang kuat dan investor mengamati keputusan Federal Reserve untuk mulai mengurangi pembelian obligasi bulanannya, indeks S&P 500 dan Nasdaq naik ke rekor tertinggi.

Dikutip dari Reuters, Jumat (5/11), Dow Jones Industrial Average turun 33,35 poin atau 0,09 persen, menjadi 36.124,23. Sedangkan S&P 500 naik 19,49 poin, atau 0,42 persen, menjadi 4.680,06. Nasdaq Composite naik 128,72 poin atau 0,81 persen, menjadi 15.940,31.

Dow Jones Industrial Average harus tergelincir dari penutupan tertinggi sepanjang masa karena terseret oleh saham bank JPMorgan Chase & Co dan Goldman Sachs Group.

Co-chief investment strategist di John Hancock Investment Management Keuangan Matthew Miskin, mengatakan, sektor keuangan turun 1,3 persen, sebagian besar di S&P 500. Penyebabnya karena imbal hasil Treasury AS turun, lantaran pasar melepaskan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed yang lebih cepat sehari setelah bank sentral mengisyaratkan tidak terburu-buru untuk melakukannya.

“Sisi pertumbuhan pasar melihat hasil yang lebih positif hari ini karena mereka mendapat manfaat dari penurunan imbal hasil yang berkembang,” kata Matthew.

Kenaikan S&P 500, didorong sektor teknologi dan konsumen memimpin, keduanya naik sekitar 1,5 persen. Saham Qualcomm melonjak 12,7 persen karena perusahaan memperkirakan laba dan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan. Permintaan untuk chip yang digunakan di ponsel, mobil, dan perangkat lain yang terhubung ke internet tengah melonjak.

Indeks Philadelphia SE Semiconductor naik 3,5 persen, dengan Nvidia melonjak 12 persen. Laba kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan telah membantu mengangkat sentimen untuk ekuitas.

Saham Moderna anjlok sekitar 18 persen karena perusahaan memangkas perkiraan penjualan 2021 untuk vaksin COVID-19 sebanyak USD 5 miliar. Saham Moderna membebani sektor kesehatan S&P 500, yang turun 0,8 persen.

Sekitar 11,3 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di atas rata-rata harian selama 20 hari terakhir dengan 10,4 miliar.

TERTEKAN

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi tertekan menjelang rilis pertumbuhan ekonomi hari ini, Jumat (5/11). Pada perdagangan kemarin, Kamis (4/11), IHSG berakhir di zona hijau atau ditutup naik 34,313 poin (0,52 persen) ke posisi 6.586.443.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya memprediksi IHSG hari ini berpotensi tertekan. Sebab tak ada sentimen pendongkrak IHSG hari ini.

“Terlihat masih memiliki potensi akan diwarnai oleh tekanan terbatas, minimnya sentimen yang dapat mendongkrak kenaikan IHSG, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pola gerak IHSG,” ujar William melalui risetnya, Jumat (5/11).

“Terdapatnya capital inflow yang signifikan ke dalam pasar modal Indonesia membuat pasar bergerak lebih konsolidatif, hari ini IHSG berpeluang tertekan,” lanjutnya.

Dia memproyeksi IHSG hari ini akan bergerak di rentang 6.413 hingga 6.521.

Saham yang direkomendasikan William antara lain:

  1. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
  2. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
  3. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) T

– PT XL Axiata Tbk (EXCL)

– PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)

– Pakuwon Jati Tbk (PWON)

– PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)

– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

– PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

 

Leave a Comment