Kebocoran Data Pengangguran Mengintai Sistem Kompensasi

Akibat pandemi covid-19, jutaan orang di seluruh dunia kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Masyarakat juga harus menyesuaikan diri dengan pola hidup normal yang baru, agar tetap aman dari serangan virus corona di tengah masalah keuangan yang dihadapi akibat penurunan aktivitas perekonomian secara global. Sayangnya, di tengah banyaknya penduduk yang kehilangan pekerjaan, masih saja ada oknum tertentu yang berusaha mencari keuntungan pribadi. Salah satu contohnya adalah terjadinya kebocoran data pengangguran di Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir ini.

NBC melaporkan bahwa setidaknya empat negara bagian di Amerika Serikat memberikan peringatan kepada pelamar yang mengajukan permohonan secara online bahwa informasi pribadi mereka mungkin saja telah bocor. Seorang reporter di NBC melaporan bahwa kebocoron data ini berkaitan dengan upaya pemerintah memberikan kompensasi kepada puluhan ribu penduduk yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi virus corona. Sayangnya, kurangnya sistem pengamanan data membuat data-data penduduk tersebut mudah diretas oleh para pencuri identitas.

kebocoran data pengangguran

Rincian Kebocoran Data Pengangguran

Kebocoran data pengangguran tersebut dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi pemiliknya. Pasalnya, data yang dibocorkan bukan hanya nama dan alamat, namun juga nomor kartu perlindungan sosial dan informasi bank. Kejadian pertama dilaporkan di Arkansas, setelah pemerintah negara bagian mengumumkan program Pandemic Unemployment Assistance secara online pada tanggal 05 Mei lalu. Sebuah perusahaan lokal bernama Protech bekerja sama dengan pemerintah negara bagian untuk mengembangkan sebuah sistem dalam rangka mendukung program tersebut.

Insiden kedua melibatkan perusahaan yang berbeda di tiga negara bagian lainnya, yakni Ohio, Colorado, dan Illionois. Masing-masing negara bagian ini mempekerjakan Deloitte, sebuah perusahaan konsultan global, untuk mengembangan sistem Pandemic Unemployment Assistance masing-masing. Menurut laporan NBC, sistem ini hanya online satu minggu yang lalu namun sudah mengalami gangguan keamanan data.

Baca Juga:   Investasi di Bidang Peternakan yang Menguntungkan

Pada kasus kebocoran data pengangguran yang terjadi di Arkansas dan Illinois, kebocoran tersebut baru disadari ketika pelamar yang sedang menggunakan sistem online untuk mendaftar sebagai penerima tunjangan menyadari bahwa mereka bisa melihat semua data milik pelamar lain. Informasi yang bisa dilihat mencakup nama, nomor kartu perlindungan sosial lengkap, informasi bank, alamat, dan bahkan jumlah tanggungan dalam keluarga.

Belum ada komentar apapun baik dari pihak Protech maupun Deloitte. Namun, tiga negara bagian yang bekerjasama dengan Deloitte mengonfirmasi kepada pihak NBC bahwa mereka telah memberitahukan perihal kebocoran data pengangguran tersebut kepada pengembangan aplikasi segera setelah kebocoran itu diketahui. Mereka menyampaikan bahwa masalah tersebut langsung diperbaiki dalam waktu satu jam setelah ditemukan. Sepertinya, keempat negara bagian tersebut memang sudah mengambil langkah sigap untuk memperbaiki masalah kebocoran data dan memberi tahu kepada pelamar tentang terjadinya kebocoran data dan sistem keamanan.

Kebocoran Data Pengangguran dan Update Pengangguran

Seperti dibahas sebelumnya, pandemi virus corona telah memicu naiknya angka pengangguran secara dramatis di seluruh dunia. Bahkan di Amerika Serikat Sendiri, 2.4 juta lainnya mengajukan permohonan kompensasi pengangguran dalam beberapa minggu terakhir saja. Secara total, terjadi penambangan jumlah penganggur mencapai 38.6 juta hanya dalam waktu 9 minggu, dari data awal sekitar 3.2 juta. Pastinya, sulit menemukan kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan kondisi ini. Data ini telah melampaui rekor yang pernah ada. Sekali lagi, nyaris tidak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi.

Sekali lagi, kondisi ini masih terjadi. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan adalah penduduk yang membutuhkan makan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya. Di pihak pemerintah, data ini memang menjadi sumber kekhawatiran, kecemasan, dan stress. Sekarang, kebocoran data pengangguran ini semakin memperburuk masalah yang dihadapi. Para penganggur tidak hanya stress karena harus mencari pekerjaan atau mata pencaharian baru selama pandemi covid-19, mereka juga mengkhawatirkan berapa banyak orang yang telah mengakses informasi pribadi mereka secara penuh sebelum masalah kebocoran data tersebut diketahui.

Baca Juga:   JCPenney Bankrut : Apakah Pandemi Covid-19 Penyebabnya?

Mereka tentunya juga mengkhawatirkan apa yang mungkin diperbuat orang-orang tersebut dengan menggunakan informasi pribadi mereka. Bukan tidak mungkin jika ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah mengaksesnya. Bayangkan saja, selain mencoba menghindari serangan virus, melindungi keluarga, mencari pekerjaan lain untuk membayar kebutuhan hidup dan tagihan-tagihan bulanan seperti air, listrik, dan telepon, mereka juga memikirkan bagaimana agar tidak menjadi korban pencurian identitas.

Selain itu, kompensasi akibat kehilangan pekerjaan merupakan program yang disediakan oleh hampir semua negara yang tidak terdampak oleh pandemi covid-19. Setiap negara mengembangkan sistem online di mana pekerja yang terdampak bisa mendaftarkan diri. Masalah kebocoran data pengangguran yang sama juga bisa terjadi di mana saja, karena para hackers atau peretas akan tetap berusaha mengakses informasi pribadi dan menyalahgunakannya kelak. Ini tentu menjadi pelajaran bagi pemerintah di seluruh dunia untuk mengembangkan sistem yang lebih aman.

Tagged With :

Leave a Comment