Jelang Keputusan Moneter The Fed, Wall Street Ditutup Lebih Tinggi

Pada perdagangan Selasa (31/10/2023), indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup lebih tinggi. Investor menantikan pembaruan kebijakan moneter Federal Reserve, sambil mencerna sejumlah laporan pendapatan yang beragam.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 123,91 poin menjadi 33.052,87, S&P 500 (.SPX) bertambah 26,98 poin menjadi 4.193,8 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 61,76 poin menjadi 12.851,24.

Saat ini, The Fed baru saja memulai pertemuan kebijakan moneter dua hari. Bank sentral diproyeksi mempertahankan suku bunga pada hari Rabu.

Kemudian investor akan memantau pernyataan dan komentar Ketua Fed Jerome Powell untuk mendapatkan petunjuk tentang rencananya.

Optimisme bahwa The Fed akan menghentikan kenaikan suku bunga diimbangi oleh reaksi investor terhadap laporan pendapatan yang mengecewakan dan kegelisahan mengenai geopolitik.

Analis Senior Wells Fargo Investment Institute, Sameer Samana, mengatakan beberapa investor mencari harga murah mengingat pelemahan saham baru-baru ini. Hal itu mendorong naiknya imbal hasil Treasury 10 tahun.

“Semua jalan saat ini mengarah kembali ke suku bunga jangka panjang yang berdampak pada ekuitas,” kata Samana.

“Dalam saham beberapa investor mungkin terdorong oleh gagasan bahwa, penjualan baru-baru ini membawa kita kembali ke nilai wajar dari nilai terlalu tinggi. tingkat,” tambahnya.

Namun ahli strategi tersebut mewaspadai peristiwa mendatang yang dapat menjadi katalis besar bagi obligasi dan pada gilirannya ekuitas. Seiring dengan pembaruan kebijakan The Fed, ia juga menunggu rencana pembiayaan Departemen Keuangan AS yang akan dirilis pada hari Rabu.

Di sisi lain, Samana bilang, sejumlah analis mengatakan pemerintah diproyeksi akan meningkatkan ukuran lelang surat utang, dan obligasi pada kuartal keempat untuk mendanai defisit anggaran yang semakin besar. Hal ini akan menyebabkan suku bunga naik dan merugikan saham.

“Pada hari Jumat, investor juga akan memantau laporan pekerjaan AS bulan Oktober dan reaksi pasar Treasury,” pungkasnya.

MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menguat pada perdagangan Rabu (1/11). Hal ini selaras dengan penutupan IHSG pada perdagangan Selasa (31/10) sebesar 16,319 poin atau 0,24 persen pada 6.752,211 poin.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang 6.654-6.778.

“ Mengawali perdagangan pada bulan ke 11 pada tahun 2023, di mana terdapat rilis data perekonomian berupa data inflasi yang disinyalir akan stabil,” Tulis Wiliam dalam keterangannya pada Rabu (1/11).

Wiliam melihat adanya kontribusi positif terhadap pola gerak IHSG Di tengah fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar. “Hari ini hari IHSG berpotensi menguat,” tambah William.

William kemudian merekomendasikan saham HMSP, ASII, BBCA, BBNI, KLBF, PWON, AS RI, SMRA, dan CTRA.

Senada dengan Wiliam, analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memproyeksikan IHSG akan rebound lanjutan ke poin 6.800.

“IHSG membentuk pola dragonfly doji pada perdagangan Selasa (31/10). Bersamaan pergerakan tersebut, Stochastic RSI membentuk golden cross pada pivot area atau 50 persen,” Tulis Alrich dalam keterangannya pada Rabu (1/11).

Alrich melihat MACD membentuk golden cross dengan konfirmasi rebound ke atas 6.750. Dengan konfirmasi rebound ke atas 6.750, IHSG berpotensi lanjutkan rebound ke kisaran 6.800.

Hal ini disebabkan oleh sentimen dari luar negeri meliputi Japan industrial production pada September 2023 yang turun 4,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY). Angka 4,6 persen tersebut lebih dalam dari angka Agustus 2023 yaitu sebesar 4,4 persen yoy.

Selain itu, realisasi indeks manufaktur Tiongkok turun ke 49,5 di Oktober 2023, lebih rendah dari ekspektasi dan periode September 2023 pada poin 50,2.

Sementara, dari dalam negeri, menurutnya pelaku pasar mengantisipasi data indeks manufaktur dan inflasi di Oktober 2023.

“Indeks manufaktur diyakini masih bertahan di atas 50 di Oktober 2023. Sementara inflasi diperkirakan naik ke 2.6 persen yoy di Oktober 2023. Meski naik, inflasi masih berada dalam rentang asumsi APBN 2023 di 2-4 persen yoy,” tambah Alrich.

Dipengaruhi sentimen-sentimen di atas, Alrich menyebut nilai tukar Rupiah cenderung bertahan di Rp 15,880/USD hingga Selasa (31/10) sore.

Alrich kemudian merekomendasikan saham BRPT, INKP, TKIM, AKRA, SMGR dan TOWR Untuk diperhatikan pada Rabu (1/11).

 

Leave a Comment